Edi Ariadi: Emang Kurang Ajar

CILEGON,SN— Plt Walikota Cilegon Edi Ariadi meradang melihat ulah para pedagang Pasar Kranggot Kelurahan Jombang Wetan yang berjualan di bahu jalan. Mereka tidak mau diatur oleh pihak pasar.

Edi kesal lantaran selama ini Pemkot melalui Dinas Perindustrian dan Perdagangan sudah menyiapkan tiga blok awning untuk para pedagang khususnya yang berjualan di bahu jalan.

“Emang kurang ajar (pedagang-red), sebel saya juga, enggak mau diatur,” cetus Edi usai menghadiri peringatan Hari Lingkungan Hidup Sedunia di halaman kantor Walikota Cilegon, Rabu (12/9).

Tiga blok awning di Pasar Kranggot yang bisa menampung kurang lebih 600 pedagang itu hingga kini masih banyak yang kosong, karena para pedagang sendiri menolak untuk menempatinya dengan asalan sepi pembeli. Bahkan, pedagang lebih memilih tetap berjualan di bahu jalan karena dengan pertimbangan pembeli yang ramai. Mereka tak peduli tempat mereka berjualan itu dilarang. “Kalau jualan di awning sepi dari pembeli, karena para pembeli juga males ke sana (awning-red),  bisa bangkrut kita, “keluh Ida, salah seorang pedagang.

Namun imbas dari adanya aktifitas pedagang di bahu jalan menimbulkan kesemrawutan di jalan raya.

Sementara di lokasi acara peringatan Hari Lingkungan Hidup Seduani yang digelar Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Cilegon di halaman kantor Walikota Cilegon, tampak diramaikan para pejabat teras an ASN serta masyarakat. Sayangnya event yang dihelat setiap tahunnya dengan APBD Kota Cilegon ini dinilai masih sebatas seremonial karena tak kunjung berujung pada raihan penghargaan lingkungan, seperti Adipura yang masih sebatas menjadi impian Pemkot Cilegon.

“Adipura itu dapatnya dalam mimpi. Karena ada penilaiannya dia (Adipura). Titik pantaunya (tim penilai Adipura) sudah kita benahi, tapi kadang-kadang beda. Misalnya titik pantaunya sudah kita siapin disini, dia malah lari kesini. Makanya saya biarkan saja, mau dapat nilai berapa ya memang kondisi kita seperti itu,” ungkap Edi Ariadi.

Dalam momentum itu, kata dia, diharapkan dapat menjadi kesempatan untuk kejelasan uraian tugas jabatan (UTJ) dan tanggung jawab dari seluruh bidang dan OPD dalam membangun kerja sama tim. “Urain tugasnya itu malah mau saya ubah, supaya ngga ada saling ego lagi antar OPD. Ini sampah, urusan siapa. Ini pasar, urusan siapa. UTJ-nya mau diubah sama saya, sampah itu bagian siapa dan yang lainnya bagian siapa,” imbuhnya.

Peluang dan kesempatan Kota Cilegon untuk mendapatkan penghargaan Adipura tahun 2018 ini masih menjadi tanda tanya. Terlebih hingga saat ini realisasi kerja tim penilai dari Pusat Pengelolaan Lingkungan Hidup Regional Jawa Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) itu dalam tahap pemantauan kedua (P2) periode 26 Februari sampai 23 Maret lalu itu hingga saat ini tidak ada kejelasan.

Terpisah, Kepala Bidang Penaatan dan Peningkatan Kapasitas Lingkungan Hidup DLHKota Cilegon, Edi Suhadi tidak menampik bahwa event tersebut merupakan agenda tahunan yang sudah berjalan di DLH Cilegon.

“Memang acara ini (peringatan Hari Lingkungan Hidup Sedunia) setiap tahun ada di kita. Tapi anggarannya juga terus turun dari tahun lalu. Paling cuma Rp50 jutaan, ngga cukup. Makanya kita juga meminta bantuan dari industri di Cilegon untuk mendukung acara ini,” katanya. (bnn/jarkasih)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.