Guru RA Harus Tingkatkan Kualitas

Baru 75 Persen Guru yang Bergelar Sarjana PAUD

TIGARAKSA, SNOL—Raudhatul Athfal merupakan pendidikan formal seting­kat dengan Taman Kanak-kanak (TK) ini adalah tingkat pendidikan yang sangat penting, dimana karakter anak mulai terbentuk dari lingkungan kelu­arga, masyarakat dan sekolah. Hal itu diungkapkan Pj Bupati Tangerang Ko­marudin saat memberikan sambutan pembukaan Workshop dan Parenting RA yang digelar Ikatan Guru Raudhatul Athfal (IGRA) Kabupaten Tangerang di GSG Pusat Pemkab Tangerang, Tiga­raksa, Rabu (12/9).

Komarudin yang terus memberi­kan semangat kepada pengajar RA di Kabupaten Tangerang merasa, bah­wa guru-guru RA dapat membantu orangtua dalam membentuk karak­ter dan pemahaman anak mengenai agama.

“Kegiatan yang diadakan RA sangat perlu untuk membentuk anak yang dii­baratkan seperti kertas putih, dimana orang tua dan guru yang akan menen­tukan apakah akan diberikan tinta hi­tam, merah, atau dibiarkan putih. Oleh karena itu, bagi saya peran guru RA sangat penting,” kata Komarudin.

Selain itu, lanjut Komarudin, kuali­tas guru RA juga harus ditingkatkan agar menjadi lebih baik dan profe­sional saat mendidik anak muridnya kelak. “75 persen guru RA sudah sar­jana Pendidikan Usia Dini (PAUD). Ini harus tetap ditingkatkan. Yang belum sarjana, lanjutkan kembali. Hal ini tentu untuk mempertahankan mutu dan kualitas pengajar RA di Kabupaten Tangerang,” ujarnya.

Ketua IGRA Kabupaten Tangerang, H R Hidayah menjelaskan, selain aka­demik, dunia pendidikan saai ini harus menanamkan etika dan moral agama sejak dini kepada anak. Oleh karena itu, guru RA se-Kabupaten Tangerang telah dibekali beberapa metode pener­apan materi kepada anak seperti, metode painting dan metode pem­biasaan.

“Tentu anak-anak suka dengan menggambar. Kami sebagai guru RA mengajak anak-anak untuk menggam­bar sambil belajar, contohnya dengan menggambar Lafadz Allah. Dengan begitu, anak-anak akan lebih mudah mengingat apa yang telah diajarkan,” kata Hidayah.

Selain metode painting, lanjut Hi­dayah, metode pembiasaan juga ha­rus diterapkan sebelum pemberian materi. Nantinya, anak diajak untuk bergerak agar tubuhnya menjadi lebih sehat sehingga memiliki kemampuan menyerap materi dan ajaran agama dengan lebih baik.

“Dengan gerakan-gerakan, tubuh si anak akan lebih sehat dan anak akan lebih mudah menyerap materi pembe­lajaran yang diberikan,” ujarnya.

Sementara itu, Yeyet Nurhayati, Guru RA Al Muhajir Pasar Kemis men­gaku senang mendapatkan pembelaja­ran metode yang digunakan saat mem­berikan materi kepada anak didiknya nanti. Yeyet berharap, dengan penera­pan metode baru, anak-anak muridnya akan lebih mudah mengerti dan meng­ingat apa yang telah diajarkannya.

“Dengan metode baru ini diharap­kan anak-anak akan lebih cepat mengerti, karena biasanya dengan gambar atau visual, anak akan lebih cepat mengingat dibandingkan hanya sengan lisan saja,” pungkasnya. (mg2/aditya)

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.