Tekad Memfilmkan Novel tak Pudar

OBITUARI

Mengenang Atho Al-Rahman, Direktur Tangsel Pos

Oleh: Deddy Maqsudi (Pemred Satelit News)

 

KEPERGIANNYA sungguh mendadak. Nyaris semua kawan di kalangan media tak percaya mendengar kabar yang sangat mengagetkan itu.

“Masa sih? Kok begitu cepat ya,” kata seorang kawan. Umur manusia memang tidak ada yang tahu. Itu menjadi rahasia Tuhan.

Atho Al-rahman kini sudah menghadap Sang Khaliq. Direktur Tangsel Pos (Rakyat Merdeka Group) ini menghembuskan nafas terakhirnya pada Jumat (12/10) pukul 23.00. Sekitar satu jam setelah dibawa pulang dari Rumah Sakit Siloam Karawaci.

Seminggu terakhir, Aco, sapaan akrab Atho Al-Rahman memang dirawat di rumah sakit Siloam. Dia dibawa ke rumah sakit yang berada di kawasan Karawaci setelah mengalami drop. Tubuhnya sangat lemas. Setelah dicek, hemoglobin (Hb)-nya bahkan cuma 4. Sebelumnya, Aco juga sempat diperiksa di rumah sakit Premier Bintaro karena keluhan pada kakinya.

Di rumah sakit Siloam inilah, keluhan yang selama ini diderita Aco terungkap. Dokter memvonisnya ada gangguan pada benjolan yang ada di perutnya. Dokter juga menemukan ginjal Aco bermasalah. Tidak hanya itu, dokter juga menemukan ada flek putih yang terdapat di paru-parunya. Dokter sempat menyedot paru-paru Aco, khawatir ada cairan. Namun setelah disedot, ternyata kering. Tidak ada cairan yang mengganggu. Flek berwarna putih itu juga yang diduga menjadi pemicu Aco kesulitan bernafas.

Awal-awal di rumah sakit Siloam, Aco dirawat di ruangan High Care Unit (HCU). Tempat dimana pasien dengan kondisi stabil dari fungsi respirasi, hemodinamik, dan kesadaran namun masih memerlukan pengobatan, perawatan dan pemantauan secara ketat. Tiga hari jelang kepulangan, Aco dipindah ke ruang Intensive Care Unit (ICU), yang merupakan ruang perawatan khusus yang didukung dengan kelengkapan peralatan khusus.

Seminggu dirawat di Siloam, Aco sama sekali tidak naik ke meja operasi. Selain kondisinya yang belum stabil, dokter mungkin membutuhkan pembicaraan serius dengan keluarga Aco. Menurut keluarga Aco, kondisi Aco sangat parah sehingga dokter tidak berani melakukan tindakan operasi.

Dan pada Jumat (12/10), keluarga memutuskan membawa pulang Aco. “Suami saya yang minta pulang,” kata Eti Kadrawati, istri Aco.

Eti sudah tahu resiko jika harus membawa Aco pulang. Karenanya, dia menyiapkan peralatan medis dan perawat untuk merawat Aco di rumah. Sekitar pukul 10 malam, Aco tiba di rumah. Kurang dari satu jam setelah tiba di rumah, Aco ngedrop lagi. Dia kesulitan bernafas. Keluarga akhirnya membawa Aco ke RSUD Tangsel. Namun, dalam perjalanan Aco keburu menghadap Sang Khaliq.

“Di masa sakitnya, Pak Aco masih memikirkan rencana bikin film yang dikupas dari novelnya. Saya bilang, sudahlah, nanti kita garap bersama-sama,” kata Eti di rumah duka di Desa Bantarwaru, Ligung, Majalengka, Sabtu (13/10).

Aco dimakamkan di kampung halamannya di Bantarwaru Majalengka. Dia dimakamkan di samping kakek dan neneknya di pemakaman keluarga. “Sekarang Pak Aco sudah gak ada, saya betekad akan meneruskan cita-cita suami saya yang ingin memfilmkan novelnya itu,” tambahnya.

Selain dikenal sebagai wartawan, Aco juga dikenal sebagai novelis. Satu novelnya yang mendapat perhatian dari kalangan novelis adalah “Dua Surga Dalam Cintaku”. Novel tersebut bahkan sudah dikupas tuntas di UIN Syarif Hidayatullah Ciputat. Novel inilah yang menjadi cita-cita Aco untuk diwujudkan dalam bentuk film.

Atho Al-Rahman merupakan wartawan senior. Dia pertama kali meniti karir sebagai jurnalis di koran Rakyat Merdeka. Tidak lama kemudian, Aco pindah ke Indo Pos. Di koran Indo Pos inilah karir Aco melesat. Dia menangani rubrik bisnis. Jaringan dan nara sumbernya tersebar luas.

Mungkin karena karirnya yang bagus itu, Aco lalu ditunjuk untuk menggawangi redaksi di Tangsel Pos. Koran baru di Kota Tangerang Selatan. Tangsel Pos sendiri berdiri beberapa hari setelah Kota Tangerang dimekarkan dari Kabupaten Tangerang. Hingga akhirnya Aco dipercaya menjadi direktur di Tangsel Pos.

Saya sendiri mengenal Aco sudah cukup lama. Kami dulu bersama-sama aktif di organisasi Keluarga Mahasiswa Sunan Gunung Djati (KMSGD). Sebuah perkumpulan mahasiswa yang berasal dari wilayah III Cirebon yang kuliah di UIN Syarif Hidayatullah Ciputat.

Di kalangan KMSGD, Aco dikenal sebagai pribadi yang santun dan murah senyum. Rekan-rekan di organisasi, Aco adalah penggemar olahraga. Dia sangat lihai bermain bola voli dan tenis meja. Bahkan dari jagonya dia bermain bola voli, Aco beberapa kali memperkuat sekolahnya dan kampusnya di berbagai perlombaan. Selamat jalan kawan. Semoga Allah mengampuni semua kesalahanmu, dan Allah menempatkanmu di tempat yang terbaik. (*)

 

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.