Tingkat Hunian Apartemen di Tangerang Rendah

Pengembang Apartemen Skandinavia Keluarkan Strategi Hindari Ghost Town

TANGERANG,SNOL— Director PT Pancakarya Griyatama Norman Eka Saputra selaku pengembang aparte­men Skandinavia, mengakui jika tingkat hunian apartemen di Indone­sia masih sangat rendah. Bahkan di Tangerang sendiri, lanjut Eka jika di­perhatikan unit-unit yang diserahteri­makan 2 tahun belakangan tingkat hunian di apartemen tidak lebih dari 30% karena pembelian didominasi oleh pembeli untuk berinvestasi.

“Pasokan banyak tetapi tingkat hunian sangat rendah. Banyak sekali unit yang sudah dibeli tetapi tidak di­huni, sehingga beberapa apartemen malah menjadi ghost town, tidak berjalan secara ekonomi, penghuni juga tidak bisa menghasilkan keun­tungan,” katanya saat Acara Open House Apartemen Skandinavia pada Sabtu (3/11) lalu.

Eka menilai salah satu penyebab­nya adalah mayoritas pengembang yang dari awal tidak mempersiap­kan mekanisme bagi pembeli yang bertujuan untuk investasi, sehingga hunian apartemen menjadi tidak produktif.

“Prinsip mayoritas pengembang cuma mau berdagang dan menjual, tapi setelah jual bagaimana: Apakah itu menjadi hunian yang ideal, ber­manfaat untuk dihuni atau dijadikan instrumen investasi. Ini bisa menjadi koreksi untuk para pengembang,” paparnya.

Dia memaparkan pengembang seharusnya memiliki pemikiran jika ingin mengembangkan produk yang berkesinambungan, seharusnya juga dipikirkan tanggung jawab hingga ke ujungnya.

Dia menilai pengelolaan aparte­men yang kurang baik akan berpen­garuh terhadap penjualan di pasar ke depannya. Pembeli akan berpikir lebih baik membeli rumah tapak dibandingkan dengan membeli apartemen.

“Apartemen kan memiliki ban­yak kawasan bersama, sementara kawasan bersamanya dikelola oleh pengembang. Paling tidak, pada 2 tahun pertama pengembang harus bisa menjadikan apartemen sebagai hunian yang layak huni,” tambah Eka.

Menyiasati hal tersebut, Aparte­men Skandinavia, proyek pengem­bangan PT Pancakarya Griyatama akan memfasilitasi pembeli untuk bergabung dengan Fika Rooms, yang ingin menyewakan unitnya.

Dia mengatakan Fika Rooms merupakan strategi agar apartemen yang dibeli oleh pembeli untuk in­vestasi tidak dibiarkan kosong dan agar bisa terkelola dengan baik.

Fika Rooms akan mengelola unit sebagai aparthotel dengan sistem pembagian keuntungan dan dalam waktu kerja sama selama 10 tahun, unit pembeli otomatis akan aktif tersewa. Kuota yang diberikan oleh pengembang untuk Fika Rooms juga terbatas 200 unit kamar.

“Karena akan mulai beroperasi pada 2019, kami mau menakar oku­pansinya berapa. Jika di atas 85%, kami akan ambil lagi kloter yang ked­ua, sehingga nanti akan bertambah menjadi 400 unit,” papar Eka.

Dia juga mengatakan Fika Rooms nantinya akan dibanderol dengan harga yang sama kompetitifnya den­gan Hotel Novotel yang lokasinya tidak jaih dari apartemen tersebut, dengan ragam fasilitas yang berbeda tetapi saling melengkapi. (hendra)

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.