Nyaris 5% Warga Kota Alami Gangguan Jiwa

Dinas Kesehatan: Jangan Lupa Bahagia

TANGERANG, SNOL—Jum­lah penderita orang dengan gangguan jiwa (ODGJ) di Kota Tangerang cukup tinggi. Dinas Kesehatan setempat menyebut angkanya hampir menyentuh 5 persen dari 2 juta lebih penduduk di kota tersebut. Jika dihitung seki­tar 100 ribuan jiwa.

Hal itu diketahui ber­dasarkan penerapan pro­gram Cageur Jasa Dinas Kesehatan Kota Tangerang yang melakukan survei ke lapangan untuk memetakan masalah kondisi kesehatan masyarakat.

“Sebenarnya gini. Jum­lahnya tidak banyak tapi kalau untuk kami kenaikan yang berlebih yaitu kurang dari 5 persen alami ODGJ dari seluruh populasi,” ujar Kepala Dinas Kesehatan Kota Tangerang, dr Liza Puspadewi, Rabu (7/11).

Dari 13 kecamatan yang ada di Kota Tangerang, dr Liza tidak menyebut keca­matan mana yang banyak warganya mengidap ODGJ.

“Sebenarnya gini, tidak banyak, tapi kalau untuk kami kenaikan yang berlebih. Itu sudah bilang kenaikan signifikan. Sebenarnya data ODGJ itu sudah ada, cuma masyarakat itu malu, dia dium­petin dan lain sebagainya. Den­gan keberadaan Cager Jasa kita kan datang ke rumah-rumah, salah satunya kita memetakan kondisi keluarga itu yang men­jadi gidden-nya,” terangnya.

Menurut dia, pihaknya ber­prinsip ingin menemukan se­dini dan sebanyak mungkin pe­nyakit ODGJ di Kota Tangerang melalui program Cageur Jasa.

Jika telah ditemukan, pi­haknya akan menanganinya atau merujuknya ke rumah sakit demi bisa menjalani hidup den­gan normal. “Ada yang sudah ditangani di tiap Puskesmas dan tugas kami sebenarnya adalah bagaimana pasien ODGJ itu relatif sulit untuk diobati tapi dia akan terkontrol kalau minum obat teratur. Jadi kalau dia ter­kendali dia bisa hidup dengan normal,” ucap Liza.

Selain mengendalikan pasien agar hidup kembali normal, Liza menambahkan bahwa pihaknya juga fokus dengan pencegahan penyakit ODGJ yang berupaya menghindari masyarakat dari depresi.

“Kita sudah mengarah ke de­pan lagi yang menginginkan bagaimana dia sebelum jadi ODGJ itu ada kegiatannya itu namanya Mepet Jitu yang meru­pakan suatu program dimana kita memanagement masyara­kat yang cenderung akan men­jadi gangguan jiwa,” jelasnya.

Sebab penyakit gangguan jiwa dikarenakan masalah ekono­mi, lingkungan tempat tinggal maupun keluarga yang kurang harmonis hingga membuat ma­syarakat stres dan depresi yang cenderung berakibatkan ODGJ.

“Bagaimana kita bisa atasi su­paya dia tidak ODGJ? Makanya jangan lupa bahagia karena ba­hagia itu tidak identik dengan rupiah saja ya,” katanya.

Sementara itu, Pengamat So­sial dan Kajian Budaya Devie Rahmawati mengatakan, ber­dasarkan studi di negara barat, dijelaskan bahwa kehidupan modern menjadi ancaman bagi kesehatan mental.

“Teknologi memiliki dua wajah. Satu sisi mendatangkan berkah, di sisi lain mendatangkan ben­cana,” kata Devie saat dihubungi Satelit News, kemarin.

Menurut dia, kurang tidur, le­mahnya memori karena banyak informasi, rendahnya konsen­trasi karena terlalu banyak sum­ber dan sebagainya, mendorong manusia modern lebih cepat merasa tertekan dan cemas. (iqbal/dm)

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.