Ketua MUI: Ulama Jangan Sampai Jadi “Kompor”

MUI Kabupaten Tangerang Gelar Rakerda Tahun 2018

TIGARAKSA, SNOL—Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kabupaten Tangerang KH Ues Nawawi Gofar menegaskan bahwa sosok ulama bukan kompor, melainkan penyejuk umat. Hal itu disampaikannya di se­la-sela Rapat Kerja Daerah (Rakerda) MUI Kabupaten Tangerang tahun 2018, di Pondok Pesantren (Ponpes) Tarbiyatul Mubtadiin, Desa Pasir Nangka, Kecamatan Tigaraksa, Jumat (21/12).

Rakerda yang mengusung tema menjaga marwah keulamaan dan konsistensi para ulama dalam mem­bangun kesejahteraan masyarakat Kabupaten Tangerang gemilang yang religius, ini diharapkan Ues dapat membuat para ulama kembali mena­ta diri sebagai sosok seorang ulama untuk menjadi pengayom, pembimb­ing dan pembina masyarakat.

“Terlebih ulama juga jangan sam­pai menjadi kompor, jadi kondisi apapun ulama harus hadir menjadi penyejuk umat di tengah-tengah samudera kehausan akan bimbingan yang benar. Disamping itu, ulama memiliki kewajiban yang amat san­gat signifikan untuk membangun kesejahteraan, baik itu sejahtera la­hir, maupun sejahtera batiniyah dan terutama sejahtera batiniyah-nya,” jelasnya kepada Satelit News.

Ues mengatakan, pentingnya peran para ulama di tengah-tengah masyarakat bukanlah hanya sekedar omong kosong. Sebab, kedepan pe­rubahan eskalasi kehidupan sosial masyarakat, perlu penanganan lebih serius. Maka dari itu MUI sebagai mi­tra pemerintah dan memiliki tang­gungjawab dan berkewajiban untuk membimbing serta membina umat.

“Kemudian MUI juga sebagai pen­egak hukum akidah, syariah dan hukum yang berlaku, maka MUI pu­nya peran yang sangat penting un­tuk menjawab tantangan-tantangan pembinaan keumatan di masa de­pan. Karenanya dari Rakerda ini di­harapkan para alim ulama yang ter­gabung dalam MUI kabupaten dan MUI kecamatan bisa merumuskan program kerja yang membumi, yang bisa diterapkan di tengah-tengah kehidupan masyarakat yang sangat haus dan butuh bimbingan, mem­butuhkan arah pembinaan agar Is­lamnya tidak menjadi semu ataupun bias,” ungkapnya.

Menurut Ues, kehidupan arus in­formnasi global yang sangat dahsyat nantinya akan memberikan dampak dan tantangan sendiri bagi pengem­bangan dakwah islamiyah. Maka dari itu, perlu adanya rumusan atau langkah-langkah yang tepat agar umat tidak menjadi gamang, tidak menjadi galau, bahkan tidak menjadi bimbang.

“Apa dan bagaimana harus beriba­dah, berlaku, bersikap serta bertin­dak, sebab Islam ini hadir sebagai agama yang dibawa oleh baginda Ra­sulullah SAW, yang senantiasa akan eksis dan sesuai dengan perkemban­gan waktu dan jaman. Karenanya umat ini jangan sampai menjadi bulan-bulanan perkembangan du­nia sekarang. Artinya, perkemban­gan arus informasi yang seluruhnya tertumpahkan di dunia maya dan bahkan di dunia nyata, perlu ada pe­nyaringan,” tandasnya.

Sementara itu, Bupati Tangerang Ahmed Zaki Iskandar dalam sambu­tannya mengatakan, bahwa Rakerda MUI Kabupaten Tangerang memiliki peran yang sangat strategis untuk ke­majuan daerah, terutama pemban­gunan iman dan takwa masyarakat Tangerang yang Islami, menuju ma­syarakat yang religius, sesuai dengan visi dan misi Kabupaten Tangerang itu sendiri.

“Program-program pembangunan keagamaan di Kabupaten Tangerang saat ini sedang kita lakukan. Bahkan dari periode pertama saya, dan saat ini itu semua terus dilanjutkan dan semakin ditingkatkan seperti pem­bangunan sarana keagamaan, ban­tuan keagamaan, sanitasi pesantren, bantuan guru ngaji, program Baca Tulis Quran jadi muatan lokal, dan banyak program lainnya. Itu semua bertujuan untuk membentuk ma­syarakat yang religius,” terang Zaki. (candra/aditya)

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.