Puluhan Warga Diserang Penyakit Kulit

MAUK, SNOL— Penyakit kulit mu­lai menyerang sejumlah warga Kampung Tegal Kunir Kidul, Desa Tegal Kunir Kidul, Keca­matan Mauk. Iritasi kuli dan gatal-gatal yang dirasakan warga tersebut diduga akibat pemuki­man mereka terendam air limbah akibat got dan irigasi tersumbat oleh pembangunan perumahan Sepatan Grande.

Rosid salah satu warga Kam­pung Tegal Kunir Kidul mengaku akibat penyakit kulit ini, dirinya beserta anak dan istri sudah san­gat menderita, pasalnya setiap hari harus membuang air yang masuk kedalam rumahnya.

“Ini setiap hari rumah saya banjir, apalagi kalau pas hujan lebih parah air yang masuk ke dalam rumah saya, “ kata Ro­sid kepada Satelit News, Jum’at (21/12).

Rosid menjelaskan penyakit kulit tersebut sudah dirasakan sejak 4 bulan lalu. Penyakit terse­but menyerang tidak hanya me­nyarang dirinya saja tetapi di 3 RT di Kampung Tegal Kunir Kidul yakni RT 09, 13 dan 15.

“Jumlah warga yang terkena penyakit kulit sudah banyak dan tersebar di 3 RT. Saya sendiri su­dah 4 empat kali ke Puskesmas untuk berobat, “ keluh Rosid.

Namun sayangnya, walau­pun sudah banyak warga yang terkena penyakit dan telah ber­langsung lama, namun hingga kini pengembang perumahan Sepatan Grande belum memi­liki itikad baik untuk bertang­gungjawab atas hal ini. Padahal warga sangat berharap agar pi­hak pengembang segera mem­perbaiki got dan saluran irigasi sehingga bisa kembali berfungsi dengan normal.

“Saya mah tidak muluk-muluk, saya hanya minta agar air ini bisa berjalan, tidak menggenang rumah saya dan warga yang lain, “ harap Rosid.

Sementara itu Juminta Ketua RT 13 Kampung Tegal Kunir Kidul mengatakan, tidak hanya pemukiman warga yang terkena dampak negatif dari pembangu­nan perumahan Sepatan Grande tersebut, tetapi para petani pun turut merasa dirugikan.

“Tidak hanya pemukiman warga yang tergenang akibat pe­rumahan Sepatan Grande, tetapi juga lahan sawah milik para pet­ani pun banyak yang tergenang akibat tidak mengalirnya air se­dangkan beberapa lainnya men­galami kekeringan lahannya, “ kata Juminta.

Juminta mengaku, jika pi­haknya bersama beberapa warga yang dirugikan sudah mencoba untuk mendiskusi­kan dengan pihak pengembang Sepatan Grande, bahkan mera­ka juga sudah melapor kepada pihak yang berwajib namun hingga saat ini tidak membuah­kan hasil.

“Kita sudah pernah mendatan­gi kantornya untuk bertemu bos­nya dan meminta pertanggung­jawaban, Tetapi hanya pak Jimi yang merupakan orang keper­cayaannya pengembang Sepatan Grande yang menemui kami, “ pungkasnya. (mg7/hendra)

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.