GAK Siaga, Industri Tetap Beroperasi

Cilegon,SNOL- Status Gunung Anak Krakatau naik status dari waspada menjadi siaga. Masyarakat diimbau agar was­pada adanya potensi tsunami susulan. Meski begitu, industri di Kota Cilegon tetap beroperasi seperti biasa.

Di pesisir pantai sepanjang Merak-Ciwandan, industri kimia berdiri di sepadan garis pantai. Tangki pengolahan kimia berje­jer tepat di pinggir laut. Potensi tsunami menerjang kawasan industri bukan tidak mungkin terjadi mengingat status Anak Krakatau naik ke level III. Para pelaku industri mewaspadai akan hal tersebut.

“Berjalan seperti biasa, kan kita monitor kita koordinasi juga. Sampai hari ini belum ada tindakan apa-apa tetap normal bekerja semua sambil berdoa,” kata Corporate Affair PT In­dorama Petrochemical, Malim Hander Joni saat dikonfirmasi, Jumat (28/12).

Mitigasi bencana di kawasan industri kimia sudah disiapkan meski alat yang dipakai masih standar lama. Jika seperti tsu­nami Selat Sunda kemarin, alat itu kemungkinan tak berfungsi lantaran tsunami tak didahului gempa.

“Kalau untuk misalnya alat tsunami kita masih pake yang lama tapi tentu berbeda kasus kalau kasusnya gempa berbeda. Kalau gempa didahului kerusa­kan struktur kalau seandainya (terjadi tsunami) kita lari ke pabrik sendiri cari gedung yang paling tinggi,” ujarnya.

Kalaupun tsunami Selat Sun­da menerjang, proses produksi akan langsung dimatikan. Hal itu mengingat bahaya bahan kimia yang menyeruak ke udara hingga berdampak ke pemuki­man warga dapat menimbulkan berbagai penyakit.

“Kalau dia mendadak kan ter­gantung waktunya, kita matiin saja selesai, kalau normal kita harus butuh lama satu hari, kan yang di dalam itu ada yang sedang diproses. Nah kalau nunggu selesai kan satu hari,” tuturnya.

Senada dengan Joni, Hu­man Resource Development PT Krakatau Posco, Wisnu Kuncoro mengatakan, pihaknya tetap siaga terkait potensi tsunami yang ditimbulkan erupsi Gu­nung Anak Krakatau. “Jadi kalau ada bencana apa yang harus di­matikan, itu langkah-langkah itu sudah ada, kemudian karyawan yang kebetulan ada di office dikasih notice dikasih imbauan agar lebih waspada dan titik evakuasi ke mana,” jelasnya.

Hingga saat ini, pabrik pengo­lahan baja itu berjalan normal seperti biasa. Kesiap siagaan pihak industri tetap dilakukan dengan terus berkoordinasi dengan otoritas berwenang soal kebencanaan.

“Yang pasti prosedur tanggap darurat itu di kami sudah ada. Jadi tidak hanya karena bencana ini protapnya itu sudah ada,” tu­tupnya.

Sebelumnya, Menteri Per­industrian Airlangga Hartarto menyampaikan bahwa industri yang berlokasi di Cilegon dan Serang tak terkena dampak ben­cana tsunami Selat Sunda yang terjadi, Sabtu (22/12) lalu. “In­dustri tidak ada yang terdampak, kami sudah cek di Serang, Cile­gon,” kata Airlangga saat meng­gelar konferensi pers di Jakarta, Kamis (27/12).

Industri yang berlokasi di Ci­legon dan sekitarnya sebagian telah mengantisipasi potensi tsunami yang terjadi, sehingga memiliki standar keamanan yang tinggi. “Karena industri ini sebagian udah antisipasi terh­adap mitigasi tsunami dan gem­pa, jadi standarnya lebih tinggi,” ujar Airlangga.

Sekretaris Jenderal Kemperin Haris Munandar menyampaikan hal yang sama, bahwa yang lebih terdampak adalah industri pari­wisata. “Di sana ada Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) pari­wisata, jadi kalau yang manufak­tur itu saya rasa tidak ada,” ung­kap Haris. (dtc/net/jarkasih)

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.