PDAM Antisipasi Kekurangan Air Bersih

Sebar Puluhan Torn Air dan Toilet Portable

PANDEGLANG,SNOL – Guna mengantisi­pasi kesulitan atau kelangkaan air ber­sih, khususnya di lokasi atau di posko pengungsian korban tsunami Selat Sunda. Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Berkah Pandeglang, beker­jasama dengan Kementerian Pekerjaan Umum (Kemen PU) RI, menyalur­kan torn (penampung air) untuk para korban dan menyiapkan kebutuhan airnya.

Direktur PDAM Tirta Berkah Pande­glang, Ujang Sumawinata menyatakan, hingga saat ini sudah 20 buah torn air berukuran besar disebar ke beberapa titik posko pengungsian. Barang itu sifatnya pinjam pakai, karena Barang Milik Negara (BMN) yang dipersiapkan untuk korban bencana.

“Dari 20 buah torn itu, 4 diantaranya kami tempatkan di Kecamatan Ang­sana. Selebihnya, disebar ke beberapa titik posko yang membutuhkan,” kata Ujang, Jumat (28/12).

Katanya, selain torn air juga toilet portable disebar ke beberapa titik. Hal itu dimaksudkan, untuk membantu meringankan beban dan memenuhi kebutuhan Mandi, Cuci dan Kakus (MCK) sementara bagi para korban.

“Semuanya di kumpulkan atau dis­tandby-kan di PDAM Cabang Labuan, agar distribusinya lebih mudah,” tam­bahnya.

Pria yang akrab disapa Oki ini juga mengaku, prihatin dan tidak menduga atas musibah yang terjadi. Oleh kare­nanya, pihaknya mensiagakan sedikit­nya 14 orang tim khusus untuk melay­ani masyarakat/korban tsunami, jika sewaktu – waktu dibutuhkan.

Ditambahkannya, para personil atau tim khusus itu dilengkapi dengan kend­araan operasional, termasuk pihaknya mensiagakan kendaraan tangki air un­tuk distribusi ke titik – titik bencana, ter­masuk posko bencana yang ada.

Kepala Bagian Hubungan Pelanggan PDAM Tirta Berkah Pandeglang, Euis Yuningsih menambahkan, pihaknya berkoordinasi intensif dengan sejum­lah pihak terkait. Karena bagaimana­pun, andil PDAM sangat dibutuhkan dalam situasi seperti ini, khususnya dalam pengadaan dan pemenuhan air bersih.

“Kami juga mengecek kerusakan pipa sambungan, akibat bencana tsu­nami ini. Sekaligus merencanakan perbaikannya, yang sebelumnya kami harus mensurvey dan menghitung atau memperkirakan bagaimana penanga­nannya ke depan,” terang Euis.

Diakuinya, ini kondisi emergency. Artinya, penanganan penyambungan pipa sambungan yang rusak akibat bencana, setidaknya harus dilakukan cepat. Dengan demikian, ia dan beber­apa tim di lapangan berusaha mengeta­hui terlebih dahulu titik kerusakan dan sejauhmana tingkat keparahan keru­sakannya.

“Mudah – mudahan, semuanya dapat kami tanggulangi. Kami harus me­mastikan terlebih dahulu tingkat keru­sakannya,” imbuhnya. (mardiana)

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.