Awas! Narkoba Merambah Baduy

20130519183418-Baduy 5

SERANG, SNOL—Narkoba beredar di perkotaan mungkin sudah bias. Tapi bagaimana jika barang haram itu masuk ke pedalaman seperti ke wilayah Baduy? Itu jelas sungguh terlalu. Dalam helatan acara Seba Baduy Sabtu (18/5) lalu, Kokolot (para tetua) Suku Baduy yang datang dan bertemu dengan Gubernur Banten Ratu Atut Chosiyah serta Kapolda Banten Brigjen Pol Eddi Sumantri, meminta agar pemerintah mengantisipasi penyerbaran narkoba. Hal ini dikarenakan beberapa waktu lalu, sejumlah warga asing yang berkunjung ke Baduy kedapatan membawa narkoba.

Menurut Jaro Dainah, beberapa waktu lalu Baduy pernah didatangi oleh tamu asing yang membawa narkoba. Untungnya  wisatawan itu langsung ditangkap oleh pihak kepolisian. “Dalam suku kami, narkoba diharamkan. Makanya kami beruntung ketika ada wisatawan yang membawa narkoba langsung diketahui oleh petugas kepolisian dan langsung ditangkap,” katanya.

Dia menjelaskan, warga Baduy senang menerima dan dikunjungi wisatawan baik lokal maupun mancanagera.Namun pihaknya melarang siapapun membawa narkoba ke Baduy terlebih memengaruhi masyarakat yang ada. “Kami berharap Pemprov Banten dan aparat kepolisian untuk meningkatkan pengamanan dan pengawasan terhadap penyebarluasan narkoba di Banten, dan tidak mencemari suku Baduy. Pokoknya, tidak boleh ada narkoba di Banten, khususnya di Suku Baduy. Sejak ada wisatawan yang bawa narkoba dan ditangkap, warga Baduy benar-benar waspada,” jelasnya.

Hal senada diungkapkan tetua masyarakat Baduy Dalam, Ayah Mursid. Menurut dia, selain barang haram, narkoba juga menganggu generasi penerus bangsa. Ayah Mursid juga meminta kepada pihak kepolisian dan Pemprov Banten dapat menjaga kelestarian Suku Baduy serta merawat gunung dan hutan yang ada di Provinsi Banten dari tindakan penebangan liar.

“Narkoba adalah barang haram dan terlarang, kami harap narkoba dimusnahkan sampai akar-akarnya. Dan kelestarian hutan bukan hanya menjadi tanggung jawab suku Baduy. Dampak penebangan liar akan membahayakan seluruh masyarakat se-Provinsi Banten. Karena kerusakan hutan akan mengakibatkan kepunahan-kepunahan sumber kehidupan. Karena hutan dan gunung itu salah satu sumber kehidupan manusia,” jelasnya.

Ayah Mursid juga meminta kepada petugas kepolisian dan hakim untuk memberikan sangsi tegas kepada pelaku penyebaran narkoba. “Pemerintah dan aparat hukum harus menghukum seberat-beratnya orang-orang yang merusak kelestarian hutan dan gunung, juga mereka yang merusak gererasi muda dengan narkoba,” pintanya.

Ia mengungkapkan, seba yang dilakukan tahun ini dinamakan Seba Gede atau Seba Besar. Dalam Seba Gede, warga Baduy tidak hanya menyerahkan hasil-hasil bumi kepada pemerintah, melainkan peralatan-peralatan dapur atau alat memasak. Dalam Seba Leutik, warga Baduy hanya menyerahkan hasil bumi saja. “Seba gede itu maksudnya adalah menunjukkan kepada pemerintah bahwa kami tidak hanya mampu memberikan hasil bumi, tapi juga peralatan memasaknya. Dan itu sudah menjadi adat Suku Baduy secara turun temurun,” jelasnya.

Gubernur Banten, Ratu Atut Chosiyah mengatakan, kondisi hutan di Banten seperti di Ujung Kulon, Pandeglang memang banyak terjadi pembalakan liar. Namun secara umum gunung dan hutan di Banten saat ini dalam kondisi baik. “Dan ini memang menjadi perhatian kami,” kata Atut.

Untuk itu, Atut juga mengimbau masyarakat untuk membantu kelestarian alam seperti yang dilakukan oleh masyarakat Baduy. “Ibu berharap dan meminta apabila ada masyarakat yang melihat pelanggaran tersebut, segera melaporkan kepada pihak yang berwajib. Kami juga terus berupaya optimal akan kekhawatiran Suku Baduy soal narkoba. Jangan sampai narkoba masuk dan menyebar ke Banten apalagi ke Suku Baduy,” tandasnya.

Dalam kesempatan itu juga, Atut menyinggung masih banyaknya masyarakat Baduy yang belum memiliki identistas kependudukan. “Berdasarkan laporan yang diterima, ada 4.000 warga Baduy belim memiliki kartu tanda penduduk elektronik (e-KTP),” katanya. Ia berharap agar warga Baduy yang belum memilik identitas segera membuatnya. “Sesuai aturan dari pemerintah, mereka yang sudah pernah menikah atau berusia 17 tahun ke atas harus memiliki e-KTP,” katanya.

Yang menarik dari Seba Gede Suku Baduy itu, ada lima wisatawan asing dari Amerika Serikat dan Australia. Wisatawan itu bernama, Rachel, Judith, Russel dan Douglas dari Amerika, serta July dari Austrialia. Menurut Rachel, Seba Gede yang dilakukan oleh suku Baduy secara rutin merupakan kegitan yang ditunggunya. “Ini kali pertama saya melihat ritual Seba Baduy yang ternyata budaya khas di Banten. Suku Baduy memiliki ciri khas yang cukup unik dan kuat dibandingkan budaya-budaya lainnya di Indonesia,” kata dia seraya mengaku mengetahui Suku Baduy melalui internet dan buku. (rus/igo/deddy/bnn)