KMP Tribuana Kandas di Merak

MERAK, SNOL Di perairan Merak nyaris terjadi petaka besar. KMP Tribuana kandas di Pulau Kecil Merak, Rabu (16/01), dinihari. Kapal sarat penumpang itu tersangkut di sekitar pulau yang terletak beberapa ratus meter dari Pelabuhan Merak. Kapal berhasil dievakuasi setelah pihak PT ASDP Merak mengerahkan tiga tugboat ke lokasi. Tidak ada korban jiwa maupun luka dalam insiden tersebut. Seluruh penumpang berhasil dievakuasi.
Humas PT Angkutan Sungai Danau dan Penyeberangan (ASDP) Indonesia Ferry Cabang Utama Merak, Mario Oetomo Sardadi, kemarin menegaskan, kapal berukuran jumbo itu terseret arus yang kuat saat menunggu giliran untuk masuk Dermaga III (putar haluan, red) Pelabuhan Merak. “Orang kapal menyebutnya arus itu sebagai arus positif. Jadi kapal lagi nunggu untuk masuk dermaga, tiba-tiba ada arus positif dari belakang yang sangat kuat, sampai akhir kapal kandas di sekitar perairan dangkal Pulau Merak Kecil,” jelasnya.
Dia menambahkan, menara pemantau sudah mengetahui kapal yang kandas itu, karenanya langsung berkoordinasi dengan pihak Pelindo II untuk mengirimkan tugboat. “Awalnya satu tugboat, tapi tidak kuat menarik. Dua juga masih tidak sanggup. Akhirnya tiga tugboat dikirim ke lokasi untuk menarik kapal yang kandas itu. Alhamdulillah bisa meski harus melalui proses yang aga panjang,” ujarnya.
Sementara itu, Manager Usaha Pelabuhan PT ASDP Merak, Nana Sutisna menambahkan, KMP Tribuana bertolak dari Pelabuhan Bakauheni sekitar pukul 21.50 WIB dengan mengangkut ratusan penumpangan dan puluhan kendaraan. Tiba di Pelabuhan Merak sekitar pukul pukul 00.15 WIB. Saat dan hendak merapat di Dermaga III atau dalam bahasa kelautan sedang mengambil haluan, tiba-tiba kapal terseret arus dan akhirnya terjebak di perairan dangkal. “Kapal tidak bisa bergerak karena dangkal. Karena itu terpaksa evakuasinya menunggu air pasang,” kata Nana. Akhirnya, kata dia, setelah hampir kurang lebih sembilan jam atau tepatnya pukul 09.15, kapal berhasil dievakuasi dan sandar di Dermaga III Pelabuhan Merak.
Nana menambahkan, saat kapal kandas, tidak ada penumpang yang mau dievakuasi. Mereka memilih bertahan di atas kapal karena beranggapan sudah berada dekat Pelabuhan. “Hanya ada empat orang saja yang mau dievakuasi sebelum merapat di Dermaga III. Sebab mereka buru-buru ke Jakarta untuk naik pesawat,” kata dia.
Kepala Administrasi Pelabuhan (Adpel) Kelas I Banten, B Soegiharto, membenarkan peristiwa tersebut. Menurutnya kejadian itu disebabkan karena saat mengambil haluan, kapal terseret arus yang kuat sehingga posisi menjadi terlalu kiri. “Kapal Tribuana terdorong arus saat memutar haluan, sehingga tersangkut karang yang ada di Pulau Merak Kecil,” kata Soegiharto.
Soegiharto menjelaskan, kondisi Perairan Selat Sunda yang merupakan terunik se-Indonesia, membuat para nakhoda harus berhati-hati, sebab terdapat palung yang sangat dalam. Hal itu membuat arus di Perairan Merak tidak bisa ditebak, baik saat surut maupun pasang. Arus sewaktu-waktu bisa menjadi kuat. “Kapanpun waktunya, arus di Perairan Merak bisa tiba-tiba menjadi kuat dan kencang,” jelas Soegiharto.
Ia menambahkan kecepatan angin saat kejadian yakni 11 knot sedangkan kecepatan kapal hanya 1,5. “Wajar jika kecepatan angin sebesar itu mampu mendorong kapal yang hanya berkecepatan minimum,” katanya. (ned/igo/bnn)