Segar & Pedasnya Sop Buntut Padang…

Keberadaan rumah makan Padang tentu sudah tidak asing bagi kebanyakan masyarakat. Namun, rasanya masih jarang ditemukan rumah makan Padang dengan sajian sop buntut sebagai menu utama. Salah satunya, di Jalan Raya Masjid Agung No 1, Kelurahan/Kecamatan/Kabupaten Pandeglang.
Hanya sekitar 20 meter dari Masjid Agung, di sana warung Sop Buntut Sumber Rasa Khas Padang berada. Rumah makan sederhana dengan penataan yang sederhana pula, namun sangat strategis dan mudah dijangkau. Rumah makan ini digagas Muhtadi (35), warga Kampung Kebon Cau, Kelurahan Pandeglang, Kecamatan Pandeglang.
Sop dengan bahan baku 100 persen buntut sapi itu menggunakan ramuan bumbu khas campuran pedas dan cengkeh. Rumah makan yang telah buka dan berjalan sejak tahun 1998 ini kata Muhtadi hanya bermodal awal Rp  60 ribu. Namun, dengan ketekunan dan keuletan Muhtadi dan istrinya Ucu S, rumah makan yang berawal dari tenda-tenda kecil, saat ini sudah menjadi sebuah warung makan dengan daya tampung sekitar 20-30 orang.
Lelaki dengan tiga anak ini sebelumnya bekerja sebagai pelayan di sebuah rumah makan khas Padang. “Saya modal dengkul, dari modal Rp 60 ribu. Alhamdulillah sampai bisa buka rumah makan kecil-kecilan seperti ini,” kata Muhtadi, Jum’at (1/6).
Karena rumah makan yang dikelolanya selama belasan tahun itu menyuguhkan sop buntut sebagai menu utamanya, akhirnya kebanyakan orang mengenal rumah makan itu adalah rumah makan sop buntut. Walaupun, disajikan juga beberapa jenis makanan khas Padang seperti rendang, ikan, ayam bakar, ayam goreng, belut goreng, dan beberapa jenis makanan lainnya. “Dalam sehari, kami bisa menghabiskan sekitar 10 kg buntut,” sebutnya.
Umumnya para pelanggannya merupakan PNS di lingkungan sekretariat daerah (Setda) Pemkab Pandeglang, serta para anggota TNI/Polri. Namun begitu, tidak sedikit masyarakat biasa yang datang ke rumah makannya. Terlebih, pada hari kerja, biasanya dari pagi sampai siang (jam makan,red), tempatnya usahanya selalu ramai didatangi pengunjung.
Sop buntut lebih enak disantap ketika masih panas. Jika mau lebih nikmat lagi, bisa juga disantap dengan lauk pauk lain, seperti belut goreng, dan ditambah sedikit sambal agar lebih terasa pedasnya. Satu porsi plus nasi, kami hargai Rp 23 ribu,” ujarnya.
Agar sop yang disajikan lebih alami, tambah Muhtadi, ia membuat kuah dan racikan bumbu serta bahan bakunya secara terpisah. Jadi ketika si pembeli datang, ia menyajikan sop buntut itu dalam keadaan panas.(mardiana/made)

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *