Pembobol BRI Syariah Dituntut 2 Tahun

SERANG, SN Terdakwa kasus korupsi pemberian kredit fiktif BRI Syariah Serang sebesar Rp 212 miliar, Deni Kurniawan dituntut dua tahun penjara dan denda Rp 50 juta oleh Jaksa Penuntut Umum (JPU) dalam sidang perdana yang digelar di Pengadilan Tipikor Pengadilan Negeri (PN) Serang, Senin 19/3).
Dalam sidang yang dipimpin majelis hakim M Yusuf, jaksa menyatakan, terdakwa bersalah melakukan tindak pidana korupsi sebagaimana diatur dan diancam pidana sebagaimana dalam pasal 3 jo pasal 18 UU RI nomor 31 tahun 1999, tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor).
“Kami minta, agar majelis hakim PN Serang menghukum terdakwa dengan hukuman pidana penjara selama dua tahun, dan denda Rp 50 juta. Dan meminta agar terdakwa tetap dalam tahanan,” kata Andri, salah seorang JPU saat membacakan materi dakwaannya.
Meski demikian, dalam tuntutannya terdakwa tidak dikenai uang pengganti, lantaran tidak menikmati hasil korupsi tersebut. JPU juga menjelaskan bahwa terdakwa dituntut dua tahun penjara karena perannya mengkoordinir ratusan nasabah fiktif untuk memudahkan pencairan dana Rp 212 miliar tersebut.
Menyikapi tuntutan tersebut, terdakwa melalui penasehat hukumnya menyatakan, akan melakukan pledoi.
Deni Kurniawan dijebloskan ke Rutan Serang pada Jumat (7/10) tahun lalu, setelah sempat menjadi buron selama 2 bulan sejak Juli lalu. Deni berhasil ditangkap Kejaksaan Agung (Kejagung) pada Kamis (6/10) malam di daerah Bekasi.
Deni adalah satu dari lima tersangka pembobolan Bank BRI Syariah Serang Rp 212 miliar, sementara empat tersangka lainnya sudah divonis PN Serang pada Rabu (21/4) tahun lalu. Tiga terdakwa dijatuhi hukuman lebih ringan dari tuntutan jaksa penuntut umum (JPU), sedangkan satu terdakwa divonis sama.
Terdakwa Amir Abdullah dijatuhi hukuman jauh lebih ringan dari tuntutan JPU. Dia dihukum pidana 6 tahun penjara atau empat tahun lebih ringan dari tuntutan JPU. Demikian dengan terdakwa Muhammad Sugirus, divonis 4 tahun penjara atau lebih ringan dari tuntutan JPU selama 6 tahun kurungan.
Kedua terdakwa juga dikenakan denda masing-masing sebesar Rp 150 juta, subsider tiga bulan kurungan. Mereka juga diwajibkan membayar uang pengganti Rp 79,4 miliar yang harus dibayarkan satu bulan setelah putusan.
Putusan lebih ringan juga diterima terdakwa Dedih Wijaya. Dari tuntutan selama 6 tahun, dia divonis 4 tahun. Berbeda dengan Asry Ulya. Hakim menghukum 6 tahun penjara, sama dengan tuntutannya.
Kasus ini berawal pada tahun 2006 dan 2007, sebanyak 340 masyarakat dengan dalih berekreasi diajak ke daerah Banten oleh dua perusahaan swasta, yaitu PT Nagari dan PT Javana. Namun, di tengah jalan, bus yang mereka tumpangi justru dibelokan ke kantor cabang BRI. Para penumpang kemudian diminta menandatangani dokumen kredit, dan dirancanglah skenario seolah-olah permohonan kredit diajukan guna pembelian ruko di daerah Cilandak, Jakarta Selatan. Dari permohonan kredit yang direkayasa dan tanpa verifikasi tersebut, BRI mengucurkan dana sebesar Rp 212 miliar. (mardiana/deddy)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.