Jaya Komara Tak Jelas Rimbanya

TANGERANG, SNOL Tim gabungan reserse mobile (Resmob) Polda Metro Jaya dan Direktorat Ekonomi Khusus Bareskrim Polri masih mengejar Jaya Komara, bos koperasi Langit Biru yang diduga menipu nasabah. Ustad Jaya, begitu Jaya Komara akrab disapa anggotanya, menghilang sejak pekan lalu.
“Dia masih dalam pencarian,” ujar Kepala Biro Penerangan Masyarakat Brigjen Muhammad Taufik di Mabes Polri kemarin (11/6). Jaya Komara belum ditetapkan sebagai tersangka. “Kita himbau yang bersangkutan menyerahkan diri secara baik-baik untuk kita periksa keterlibatannya,” tambahnya.
Jaya Komara berdomisili terakhir di perumahan Bukit Cikasongka, Solear, Kabupaten Tangerang. Dia diketahui mempunyai satu istri dan sembilan anak. Saksi-saksi dari pengurus Koperasi Langit Biru sudah diperiksa. “Totalnya sudah 18 orang yang diperiksa sebagai saksi,” katanya.
Koperasi Langit Biru memiliki ratusan ribu anggota. Pada awal bulan lalu, ratusan orang anggota itu merangsek dan merusak aset koperasi. Mereka komplain karena berbulan-bulan investasinya tak dibayarkan pengurus.
Setelah disidik, rupanya Koperasi Langit Biru bermasalah. Badan Pengawas Pasar Modal dan Lembaga Keuangan sudah memberi kartu merah untuk koperasi ini. Artinya, koperasi tak boleh mengambil dana investasi dari masyarakat. “Saat ini kita juga masih menganalisa CPU, dokumen-dokumen dan berkas yang kita sita,” kata Brigjen Taufik. Total kerugian yang sementara dilaporkan mencapai Rp 6,7 triliun.
Dari pengecekan latar belakang dan identitas Jaya, rupanya bos ini dulunya berprofesi sebagai pedagang krupuk. Jaya juga ahli dalam pengobatan tradisional. Berdasarkan berkas yang dimiliki Polda Metro Jaya, Jaya pernah ditahan dalam kasus malpraktek pengobatan pada tahun 1995. “Dia selalu menggunakan sistem tunai dalam transaksi. Brankas-brankas di kantornya dari baja dan kuat. Namun, setelah berhasil dibongkar penyidik sudah kosong,” katanya. Dari pengakuan anggota koperasi, uang keuntungan mereka selalu dibagikan dalam bentuk tunai. Langit Biru bergerak dalam usaha investasi daging sapi.
Polisi menggunakan pasal penggelapan dan penipuan dalam kasus ini. “Jika nanti dalam pemeriksaan ada indikasi money laundering kita akan gunakan UU Pencucian Uang,” katanya.
Secara terpisah, seorang penyidik yang ikut menangani kasus ini menjelaskan, Jaya susah dilacak karena tidak lagi menggunakan telepon genggamnya untuk berkomunikasi. “Tidak hanya nomernya, ponselnya juga sudah tidak terdeteksi.Kemungkinan dihancurkan,” katanya.
Walaupun berganti nomer, sebenarnya sebuah ponsel tetap bisa dilacak posisinya. Sebab, ada IMEI yang tertanam dan bisa diidentifikasi. Namun, jika dihancurkan sama sekali, maka pelacakan berdasar teknologi telepon seluler bakal gagal. “Kita sedang cari cara lain,” katanya.

17 Saksi Diperiksa
Polres Kota Tangerang melimpahkan kasus koperasi Langit Biru ke Mabes Polri, sejak Rabu (6/6) lalu. Pelimpahan ini karena jangkauan investor KLB hingga di luar wilayah hukum Polda Metro Jaya. “Jadi kami tidak menangani kasus ini lagi,” kata Kombes Bambang Priyo Andogo Kapolres Kota Tangerang, Senin (11/6).
Hingga kini Polres sudah memeriksa 17 saksi. Rinciannya empat orang pelapor, 10 kasir dan bagian data karyawan KLB. Termasuk juga dua orang manager kuangan dan pemasaran KLB. “Kami juga meminta keterangan satu orang kasi di Dinas Koperasi Provinsi Banten. Selanjutnya tinggal menunggu analisa Bareskrim Mabes Polri,” terangnya.
Menurutnya, selama pemeriksaan di Polres Kota Tangerang, dalam pencarian legalitas berdirinya KLB pihaknya tidak menemukan adanya kejanggalan. Menurutnya, KLB berdiri berdasarkan perijinan yang jelas dari Dinas Koperasi Provinsi Banten. “Nah, yang ditemukan adanya kejanggalan itu operasional koperasi,” katanya.

Satgas Investasi Ilegal Dibentuk
Ketua Bapepam-LK Kementerian Keuangan Nurhaida menyebutkan, pemerintah sudah membentuk satuan tugas (satgas) khusus untuk menangani investasi-investasi ilegal.
“Di situ ada BI, Kepolisian, dan pasar modal. Itu melakukan pemeriksaan, dan itu sudah ada penanganan di kepolisian,” sebut Nurhaida, seusai menjalani uji kelayakan dan kepatutan di Komisi XI DPR, Senin (11/6).
Ia menjelaskan, bentuk investasi ilegal adalah seperti yang dilakukan Koperasi Langit Biru. Menurut dia, produk koperasi tersebut sudah tidak sesuai dengan ketentuan cara penyampaian atau penawaran yang berlaku. “Produk itu tidak dilakukan penawaran umum seperti yang dilakukan kepada khalayak ramai itu, yang harus melalui proses penawaran umum,” sambung dia.
Namun, kata Nurhaida, sekalipun bukan ranah Bapepam-LK ataupun Bank Indonesia atau BI dalam mengawasi produk-produk investasi ilegal seperti yang ditawarkan Koperasi Langit Biru, keduanya tetap memandang investasi tersebut sebagai hal yang patut diperhatikan. Beserta kepolisian, keduanya membentuk satgas khusus. “Kita anggap ini penting. Oleh karena itu, ada satgas khusus untuk itu yang sudah bekerja,” ungkapnya.
Ia menjelaskan, tugas satgas tersebut akan berlangsung seterusnya. Satgas dibentuk dengan tujuan untuk memberikan efek jera kepada pihak-pihak yang melakukan penawaran umum investasi yang ilegal. Selain pembentukan satgas, pemerintah menganggap edukasi kepada masyarakat juga perlu dilakukan. “Kemudian kita juga melakukan pengawasan lebih supaya kalau ada produk yang dijual kepada masyarakat ditelaah atau dilakukan penelaahan oleh regulator,” pungkasnya. (fajar aditya/rdl/kcm/jpnn)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.