Banjir Tangerang Terus Meluas

TANGERANG, SNOL Banjir di Tangerang akibat luapan Kali Angke terus meluas. Jika sebelumnya banjir yang disebabkan jebolnya tanggul di Depok itu melanda lima perumahan di Kota Tangerang Selatan (Tangsel), banjir luapan Kali Angke juga menerjang sejumlah perumahan di Ciledug, Kota Tangerang.
Di Kota Tangsel, banjir yang melanda kawasan pemukiman Kampung Kayu Gede 1, Kelurahan Pakujaya, Serpong Utara tercatat hingga Kamis (14/2), sebanyak 125 kepala keluarga (KK) terpaksa harus menerima genangan air setinggi 70 sentimeter akibat luapan anak Kali Angke yang melintasi wilayah mereka.
Banjir sudah menggenangi kawasan ini sejak Rabu (13/2), lalu. Namun, saat pertama kali air meluap, ketinggian baru sampai 40 sentimeter. Kini, ketinggian air sudah mencapai 70 sentimeter. “Ada 125 KK yang kena banjir tiap kali kali meluap,” kata Romli, Ketua RT 01/04, Kampung Kayu Gede.
Romli mengatakan, jumlah KK yang kebanjiran itu bukan hasil hitungannya semata. Namun, sudah hasil perhitungan dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Tangsel yang sudah menerjunkan tim gabungan dari Satpol PP, Dinas Kesehatan dan juga Pemadam Kebakaran ke lokasi banjir tersebut. “Petugas langsung datang saat kami informasikan ada banjir. Disini memang sudah langgganan,” kata Romli.
Menurut Romli lagi, warga yang kebanjiran kebanyakan menyatakan akan tetap bertahan dengan kondisi tersebut. Meskipun setiap kali banjir
ketinggian air yang menggenangi perumahan mereka mencapai 70- 100 meter, warga masih berharap ada penanganan dari pemerintah daerah setempat yang sudah dijanjikan kepada warga.
“Kami sudah minta usulan ke Pemkot Tangsel. Mereka janji akan membuat sodetan, dan polder seluas 1 hektar diujung aliran anak kali angke yang melewati pemukiman kami. Kami tunggu bantuan dan realisasi rencana itu dari Pemkot Tangsel agar lingkungan kami tidak lagi kebanjiran,” tandasnya.
Rusmin, warga RT.01/04, yang juga mengalami banjir, berharap agar bantuan dari Kementerian Pekerjaan Umum (PU) yang dijanjikan Pemkot Tangsel bisa segera dikerjakan. Harapannya, agar banjir yang hanya terjadi segaris tepi anak kali bisa tertanggulangi. “Mudah-mudahan janji itu benar,” harapnya.
Di lokasi banjir, genangan air tidak hanya membanjiri pemukiman warga. Namun, jalan Graha Raya yang berada di depan pemukiman tersebut tergenang air hingga 50 sentimeter. Banyak kendaraan roda dua dan sedan yang terpaksa berbalik arah akibat tidak bisa melewati genangan banjir di jalan utama penghubung Kecamatan Pinang dan Pakujaya tersebut. “Parah, banjir melulu,” keluh Suroto, pengguna jalan yang terpaksa memutar arah lantaran khawatir kendaraannya mogok.
Di lokasi terpisah, puluhan KK di Perumahan Cirendeu Permai, Kelurahan Rempoa, Kecamatan Ciputat Timur, juga masih mengalami banjir. Air setinggi antara 50- 80 centimeter sudah menggenangi kediaman warga sejak Rabu (13/2) lalu. “Tadinya air sudah surut, tapi saat pagi menjelang subuh, air kembal naik. Banyak warga yang tadinya mau kerja tidak jadi,” ucap Seto Mulyadi, Ketua RW setempat.
Ditanya apakah pihaknya akan mengungsi selama banjir yang belum dapat diprediksi kapan akan surut, Seto menyatakan, sementara tidak ada pilihan untuk mengungsi. Warga masih melihat banjir kali ini belum mengkhawatirkan. “Karena sudah bisa kebanjiran banyak yang bertahan. Tapi, kalau sudah parah banyak juga yang mengungsi ke rumah saudara, dan kerabatnya yang tidak kebanjiran,” pungkasnya.

Banjir Ciledug
Banjir di wilayah Ciledug ini seolah enggan berlalu dari kehidupan masyarakat Ciledug Indah. Baru saja bisa bernafas lega setelah melewati banjir besar di awal bulan pada 16 Januari lalu, perumahan yang beralokasi Kelurahan Pedurenan, Kecamatan Karang Tengah, Kota Tangerang Kamis (14/2) dinihari tiba-tiba kembali direndam.
Tiada ada angin, tiada hujan, kondisi itu tak urung membuat masyarakat kelabakan. Meski seolah sudah terbiasa hidup dalam genangan air, rasa frustasi tak dapat mereka sembunyikan. “Kami bak hidup di dunia lain. Saya ang-kat tangan, nyerah,” jelas Wanto seorang karyawan yang pagi kemarin hendak berangkat bekerja.
Mengenakan celana pendek, berbaju kemeja biru, membawa kantong plastik hitam dan tas kerja dijinjing lelaki yang mengaku bekerja di daerah Cikini, Jakarta itu tetap memilih melaksanakan tugasnya. “Banjir Januari lalu, sudah cukup lama izin, enggak mungkin sekarang izin lagi,” jelasnya.
Berdasarkan penuturan Ketua RT 08/06 Arifin, tanda-tanda terjadinya banjir sebetulnya telah terlihat sejak Rabu (13/2) pada pukul 22.00 WIB. Saat itu, tiba-tiba saja debit air Kali Angke yang melintasi perumahan mereka perlahan naik. “Warga diminta mulai waspada, pemantauan terus dilakukan,” katanya kepada Satelit News kemarin pagi.
Makin malam air makin tinggi hingga pada dinihari apa yang dikhawatirkan betul-betul terjadi. “Perlahan tapi pasti, air semakin meninggi dari belakang komplek, warga sebagian akhirnya memilih mengungsi pada dinihari, meski masih ada yang memilih bertahan,” jelasnya.
Warga yang memilih bertahan, menurut Arifin lantaran menunggu ketinggian sampai air betul-betul sudah tidak bisa ditoleransi. “Warga yang mengungsi ke berbagai tujuan, ada ke posko dan ada juga ke rumah sanak saudara mereka,” jelasnya.
Sementara berdasarkan pantauan koran ini bersama SAR Dinas Pemadam Kebakaran Kota Tangerang, banjir merendam hampir seluruh kompleks. Ketinggian air bervariasi, mulai dari selutut sampai yang terdalam mencapai sedada orang dewasa. Genangan air terdalam terdapat di Blok B15 dan B18 yang letaknya paling ujung dari jalan kompek. Sedangkan air dengan ketinggian selutut umumnya menggenang di blok yang berdekatan dengan Jalan KH. Hasyim Ashari.
Selain merendam perumahan warga, seperti banjir-banjir sebelumnya, akses Jalan KH Hasyim Ashari yang menghubungkan Cipondoh-Ciledug juga tergenang. Sejumlah kendaraan yang datang dari arah Tangerang menuju Jakarta sempat dialihkan melewati kawasan Regency, namun tidak sedikit yang nekad menerobos banjir. Bisa ditebak, kondisi itu tentu saja membuat macet jalan utama milik provinsi tersebut. Tidak sedikit pula ken-daraan roda dua yang mengalami kerusakan, namun ada juga yang akhirnya memilih gerobak ojek sebagai solusi.
Sementara kondisi Kali Angke sendiri juga seperti pada banjir Januari lalu, berarus deras dengan debit hingga mencapai ketinggian maksimal. Di beberapa lokasi, tanggul penahan malah terlihat bocor hingga airnya merembes cukup deras ke kompleks perumahan.
Kepala Bidang Penyelamatan dan Evakuasi Dinas Kebakaran Kota Tangerang, Endang Maturidi mengatakan, sedikitnya 600 rumah terendam di kawasan tersebut. “Ada sekitar 600 rumah dengan 700 kepala keluarga dari 6 RW,” terangnya.
Untuk melakukan evakuasi, pihaknya menyiagakan 25 personel dilengkapi tiga perahu karet. Masih banyaknya warga yang bertahan di rumah, terutama lansia membuat SAR Damkar Kota Tangerang harus menyisir wilayah Perumahan Ciledug Indah 1, setiap 30 menit sekali. (pane/made/deddy)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.