Badak Jawa Aman dari Ancaman Perburuan

PANDEGLANG,SNOL– Populasi spesies langka Badak Jawa (Rhinocerus Sondaicus), yang berada di kawasan Taman Nasional Ujung Kulon (TNUK) di Kecamatan Sumur, Kabupaten Pandeglang, terancam punah. Kepala Rhino Monitoring Unit  (RMU) Balai TNUK, Muhiban mengatakan, ancaman kepunahan terutamanya berasal dari dalam kawasan. Seperti ancaman karena persaingan hidup antar satwa penghuni TNUK, penyakit, perkawinan satu keturunan (inbreeding), invasi tanaman pengganggu pangan badak yakni, pohon langkap (arenga obtisuvolias) dan lainnya. “Ancaman kepunahan badak itu ada dua, yakni dari dalam dan dari luar. Saat ini ancaman dari dalam cukup besar,” kata Muhiban, disela-sela acara field trip di Pulau Handeuleum, Selasa (10/11).

Ancaman dari luar seperti praktik perambahan hutan dan perburuan badak itu sudah lama tidak ada. Berdasarkan catatan, perburuan badak terakhir dilakukan sekitar tahun 1970-an. “Sedangkan ancaman kepunahan dari luar yang mungkin terjadi, yakni bencana alam seperti gempa dan tsunami. Namun untuk ancaman perburuan sudah tidak ada lagi,” ujarnya.

Berdasarkan identifikasi, terdapat 60 populasi badak yang terdiri dari 27 individu jantan, dan 23 individu betina. Jumlah itu diperoleh dari hasil monitoring, dengan menggunakan video trap yang dipasang di daerah habibat badak. Pemasangan antar greed video trap ditempatkan dengan jarak sekitar dua kilo meter, dan dipasang di pohon dengan ketinggian maksimal 170 centimeter.

“Video trap ini berfungsi untuk merekam aktivitas hewan di dalam kawasan, terutama spesies Badak Jawa. Hasil klip video trap ini akan diteliti oleh tim lain dan hasilnya akan diketahui jumlahnya,” pungkasnya.

Sementara, Kepala Balai TNUK M Haryono mengatakan, perkawinan satu keturunan sangat dihindari. Sebab, dengan inbreeding akan mempengaruhi kualitas keturunan badak secara berkelanjutan. “Inbreeding itu sangat dihindari, karena kualitas kuturunan badak. Salah satunya adalah cacat fisik badak. Sebab berdasar identifikasi, kami temukan beberapa individu badak yang cacat,” ungkap Haryono.

Beberapa upaya untuk melestarikan populasi Badak Jawa, seperti program pemagaran kawasan TNUK di bawah unit Javan Rhino Study dan Conservation Area (JRSA), serta penyediaan habibat kedua (second habibat). Baik di sekitar kawasan TNUK, atau di daerah luar. (nipal/mardiana/jarkasih)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.