Dinkes Terus Tekan AKI-AKB

CILEGON,SNOL- Kondisi Kesehatan Ibu dan Anak di Indonesia belum sesuai dengan yang diharapkan. Hasil SDKI tahun 2012 tidak menunjukkan angka yang lebih baik jika dibandingkan hasil survei yang sama di tahun 2007.

Angka Kematian Ibu (AKI) meningkat dari 228/100.000 di tahun 2007 menjadi 359/100.000 di tahun 2012, sedangkan Angka Kematian Bayi (AKB) menurun sangat lambat dari 34/1000 KH menjadi 32/1000 KH. Kondisi yang sama terjadi di Kota Cilegon. AKI meningkat di tahun 2016, dari 15 kematian ibu di tahun 2015 (156/100.000 KH), menjadi 16 di tahun 2016 (197/100.000 KH) dan belum menunjukkan penurunan berarti di tahun 2017, tercatat 12 kematian ibu (137/100.000 KH). Tahun 2018 tercatat 14 kematian (235/100.000 KH).

Kematian bayi di tahun 2015 tercatat 99, di tahun 2016 sebanyak 71. Penyebab kematian bayi masih mendominasi asfiksia dan BBLR. Jumlah kematian bayi 2017 sebanyak 74. Tahun 2018 kematian bayi tercatat 52 bayi.

Kepala Dinkes Kota Cilegon, Arriadna mengatakan, kegiatan pelatihan supervisi fasilitatif sesuai dengan latar belakang. Penyebab kematian berawal dari pelayanan kebidanan yang tidak memenuhi standar kualitas pelayanan yang seharusnya. Acara ini bertujuan untuk meningkatkan kinerja pelayanan kesehatan yang terlibat dalam pelayanan kebidanan bekerja sesuai standar.

“Pelayanan kebidanan yang berperan atas penurunan kejadian Morbiditas maupun Mortalitas serta merupakan salah satu upaya untuk memperbaiki kualitas pelayanan kesehatan ibu dan bayi baru lahir dengan menelaah bersama standar ANC, INC, POST PARFUM, BBL yang wajib dilaksanakan bagi semua tenaga kesehatan,” tutu Arriadna.

Kasi Kesmas pada Dinkes Kota Cilegon, Evelyn Yolanda mengatakan, penyediaan fasilitatif Program Kesehatan Ibu dan Anak (KIA) merupakan suatu proses pengarahan, bantuan dan pelatihan yang mendorong peningkatan kinerja dalam pelayanan bermutu, yang dilakukan dalam sebuah siklus yang berkesinambungan serta implementasinya menggunakan daftar tilik sebagai penilaian terhadap ukuran standar pelayanan KIA.

Dalam pelaksanaannya, penyediaan fasilitatif program KIA bersifat terarah, sistematis, efektif, fasilitatif dan berbasis data. “Salah satu upaya yang diperkuat adalah meningkatkan kemampuan klinis dan manajemen kepada tenaga kesehatan. Untuk itu, diperlukan pembinaanya dengan melaksanakan kegiatan penyeliaan (supervisi) fasilitatif secara berkesinambungan dan tepat sasaran yang dilaksanakan oleh petugas kesehatan di tempat kerja masing-masing,” ungkap Evelyn.

Tujuan diadakannya kegiatan evaluasi supervisi fasilitatif klinik dan BPM di kota Cilegon, di antaranya memperbaiki kinerja dan mutu pelayanan KIA di Fasilitas Pelayanan Kesehatan dengan menilai kepatuhan terhadap standar, memaksimalkan peran dan fungsi petugas kesehatan dalam meningkatkan kinerja, baik itu di Puskesmas, BPM atau di Klinik serta meningkatkan mutu pelayanan secara keseluruhan.(cr02/eky/bnn)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.