Rano Ajukan Penangguhan Raka

Raka Kenal Bos Sabu di Kuala Lumpur

SERANG, SN Wakil Gubernur Banten Rano Karno akan mengajukan penangguhan penahanan anak angkatnya, Raka Widyarma (20) yang terjerat kasus narkoba. Mantan Wakil Bupati Tangerang ini juga sudah menyiapkan pengacara untuk mendampingi Raka dalam menjalani proses hukum.
“Sebagai orang tua, saya akan meminta penangguhan penahanan kepada penegak hukum untuk anak saya. Karena anak saya (Raka Widyarma) akan saya bawa untuk dilakukan rehabilitasi,” kata Rano usai mengikuti rapat Paripurna di DPRD Banten, Senin (12/3).
Rano juga mengaku tidak akan mengintervensi proses hukum untuk anak angkatnya itu. “Sebagai orang yang patuh dengan hukum saya juga akan menyiapkan pengacara, dan saya tidak akan intervensi,” ujarnya.
Pemeran Si Doel Anak Sekolah ini juga berjanji tidak akan lari dari masalah yang sekarang dihadapi anaknya itu.Termasuk tidak akan menjadi saksi yang bisa meringankan anaknya. “Biarkan proses hukum berjalan, saya tidak akan menjadi saksi yang meringankan untuk anak saya,” ucapnya.
Politisi PDI Perjuangan ini menceritakan, saat mengetahui anak angkatnya tertangkap polisi karena memesan ekstasi pada Selasa 6 Maret 2012 lalu, dirinya beserta istri sangat shock. “Karena saya tidak yakin kalau anak saya itu memesan narkoba,” terangnya.
Mantan Ketua Badan Narkotika Kabupaten (BNK) Tangerang ini juga menjelaskan, jika pemberantasan peredaran narkoba masih sangat sulit untuk dilakukan. “Karenanya perlu dilakukan bersama dengan masyarakat dalam memberantas peredaran narkoba. Dan masyarakat yang ada di Banten harus lebih berhati-hati karena sistem pemesanan saat ini sudah bisa dilakukan melalui online, dan kasus ini bisa terjadi pada siapa saja,” jelasnya.
Mengenai isu mundur sebagai Wakil Gubernur Banten, Rano meminta agar dicarikan aturan yang pasti. Jika adanya kasus yang menimpa anaknya itu dirinya harus mundur, maka Rano dengan tegas menyatakan siap mundur. “Jika ada aturan yang menghendaki saya harus mundur, saya siap mundur,” kata Rano.
Rano menambahkan, Raka sudah 6 bulan lalu menikah dan memiliki satu orang anak perempuan yang saat ini berumur 4 bulan. “Rencananya saya akan melakukan resepsi tahun depan, saya tidak menyembunyikan masalah ini. Saya ingin melihat ada cucu saya yang cantik sekali dan itu hiburan bagi saya,” imbuhnya.

Beli Ekstasi Rp 2 Juta
Kantor Bea dan Cukai Bandara Soekarno Hatta (BSH), Polres Metro BSH, dan Badan Narkotika Nasional (BNN) akhirnya merilis secara resmi penangkapan Raka Widyarma, anak angkat Wakil Gubernur Banten Rano Karno, Senin (12/3). Dari situ terungkap bahwa Raka merogoh kocek hingga Rp 2 juta untuk memesan 5 butir ekstasi via online dari warga Malaysia.
“Transaksinya dilakukan langsung antara pemesan dan penjual yang berdomisili di Malaysia melalui visualisasi video Skype. Raka baru pertama kali memesan ekstasi ini dengan nilai estimasi sekitar Rp 2 juta untuk 5 butir,” kata Kombes Polisi Reynhard Silitong, Kapolres Metro BSH.
Menurut Reynhard, pengungkapan pesanan via online yang dilakukan RW (20), alisa Raka Widyarma dan juga rekan wanitanya KA (19), bersamaan dengan kasus yang sama lainnya yang berhasil diungkap pada 4-5 Maret 2012 lalu. Yakni, penangkapan tiga orang tersangka berinisial DS (24), PS (24) dan A (24) di wilayah Cipete, Jakarta Selatan, pada Minggu (4/3), yang memesan 300 butir ekstasi jenis Happy 5, dengan nilai estimasi mencapai Rp45 juta. Kemudian penangkapan MRZ (27) di Manado, yang memesan 16 butir ekstasi jenis Happy 5, senilai Rp 6,4 juta.
“RW dan RA sendiri kami tangkap di di Jalan Perkici Raya EB2 No.42 Bintaro Jaya, Sektor 5, Tangerang Selatan pada 5 Maret lalu. Kini semuanya berstatus tersangka dan dibawah penanganan Polres Bandara Soekarno-Hatta. Proses pemeriksaan dan pengembangan masih berlanjut. Tidak ada yang tidak ditahan, semuanya dibawa ke sel kami,” tegasnya.
Disinggung lebih jauh adakah keterlibatan langsung Raka sebagai pengedar ekstasi ini, Raynhard menyatakan, pemesanan ekstasi oleh Raka melalui internet dari Malaysia dan tidak ada kaitan dengan jaringan luar negeri. “Kami dapat pastikan setelah dilakukan penyelidikan, maka RW tidak terlibat jaringan narkoba Internasional. RW dan KA adalah murni sebagai penguna narkoba, bukan pengedar atau terlibat jaringan penjualan,” kata Reynhard.
Di lokasi yang sama, Kepala Hubungan Masyarakat BNN Kombes Sumirat Dwiyanto mengatakan, pemesanan narkoba melalui internet mulai jadi perhatiannya belakangan ini. Makanya, BNN pun langsung berkoordinasi dengan aparat Kementerian Informasi dan Komunikasi untuk jaringan jual-beli narkotika via internet ini.
“Jika kami sendiri untuk mengungkap jaringan narkoba dengan pemesanan melalui internet mengalami kendala, maka bekerja sama dengan Kementerian Informasi dan Komunikasi,” kata Sumirat Dwiyanto.
Dia mengatakan bahwa pemesan narkoba secara online saat ini perlu diwaspadai karena pada pada beberapa negara merupakan hal biasa. “Saat ini, pemesan narkoba melalui internet banyak terjadi di beberapa negara seperti India, Amerika Serikat , China dan Polandia. Kedepannya, kami akan terus berkoordinasi dengan Cyber Crime kepolisian dan aparat Kementerian Informasi dan Komunikasi untuk mengawasi gerak-gerik pemesanan via online ini,” singkatnya.

Kenal Bos Sabu di KL
Setelah diperiksa secara lebih intensif, Raka mengaku sudah mengenal Tan, warga Malaysia saat liburan awal tahun ini. “Jadi kenalnya saat tahun baru, di Kuala Lumpur,” ujar Kabidhumas Polda Metro Jaya Kombes Rikwanto kemarin. Tan diduga mengirim empat paket, termasuk untuk Raka.
Paket pertama dikirim ke DS dengan alamat di Cipete, Jakarta Selatan. Di Cipete ini berhasil ditangkap DS serta temannya berinisial PS dan A. Paket kedua dikirim dengan alamat di Bintaro, Jakarta Selatan. Dari sini ditangkap anak angkat Rano, Raka Widyarma dan Karina. Paket ketiga dikirim ke AS yang berlamat di Manado, Sulawesi Utara. Dari sini ditangkap MRZ . Dan paket terakhir dikirim ke D dengan alamat di Karawaci, Tangerang.
Mantan Kapolres Klaten ini menjelaskan, saat bertemu Tan, raka diajari menggunakan WhatsApp sebuah aplikasi komunikasi berbasis web namun bisa digunakan di gadget seperti Iphone atau Blackberry. Nah, awal bulan ini, Raka mengkontak Tan dengan menggunakan fasilitas WhatsApp itu. “Awalnya mengaku pesan secara online, tapi ternyata pakai itu,” ujarnya.
Dengan begitu, modus Tan ini sebenarnya tidak baru. Sebab, pemesanan narkoba dengan komunikasi elektronik sangat lazim. “Kalau dia pesan dari sebuah website yang tidak tahu pengirimnya atau jual beli putus mungkin itu modus baru, tapi ini sudah kenal dulu,” katanya. (eman/pane/deddy/jpnn)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.