Perangi ‘Galau’ Remaja, Penulis Tangerang Kampanye Lewat Novel

Siapa bilang Tangerang tidak memiliki penulis muda berbakat sekelas Raditya Dika atau Ayu Utami? Dua hari lalu, sejumlah penulis berbakat di Tangerang dari Rumah Pena lakukan bedah buku dan mengadakan dialog penyemangat. Tampil Achi TM, Widuri Al Fath, dan Ramaditya Adikara.
Lokasinya di Aula Kodim 05/06 Kota Tangerang. Bedah buku tersebut disisipi guyon-guyon renyah dan sumringah antara peserta dan pembicara. Tidak seserius apa yang dibayangkan, seperti halnya bedah buku pada umumnya yang serba njlimet. Namun percayalah, puluhan peserta bedah buku bisa terhanyut mulai dari menangis hingga tertawa lepas dalam acara tersebut.
Dimulai dari kolaborasi Achi TM dan Widuri Al Fath, dua wanita asal Tangerang yang menulis novel non fiksi terbaru mereka, No More Galau yang dipadukan dengan Dear Bunda Cuwiy. Suasana sangat hidup saat keduanya membawakan dengan kocak dan santai.
Perkataan atau teka teki mengenai motivasi sering dikeluarkan keduanya. “Apa bedanya, gimana besok dan besok gimana?” tanya Widuri kepada puluhan pelajar setingkat SMA dari Forum OSIS Tangerang (Fosta) itu. Widuri mencoba mengajak peserta berfikir membedakan kalimat keduanya.
Menurutnya, perkataan “gimana besok” adalah pernyataan pesimis sedangkan besok gimana, adalah ungkapan atau pertanyaan orang berfikir. Widuri mencoba menguraikan apa isi tulisannya tentang Dear Bunda Cuwiy yang berisi sekitar 20 cerita isi hati keresahan remaja Indonesia. “Sebenarnya 20 curhatan mereka adalah cerita pilihan, yang pasti semua remaja Indonesia merasakan hal tersebut,” ujarnya.
Dari rangkuman pertanyaan tersebut, Widuri membahas dan menjawab pertanyaan kegelisahaan curhatan remaja tersebut kedalam bahasa yang ringan.
Widuri mendapatkan pertanyaan tersebut dari curhatan anggota grup Facebook Rumah Pena. Wanita berjilbab ini sengaja membuka layanan curhat seminggu sekali, dari curhatan itulah, terlahir sebuah buku yang laris manis di pasaran.
Atau ketika Achi melontarkan pertanyaan apa arti atau pengertian galau.“God Always Listening and Understanding,” jawab salah seorang peserta spontan.
Terlepas dari singkatan tersebut, Achi menyebutkan perasaan galau, resah, atau kegelisahan remaja hingga orang dewasa. Entah kapan tepatnya, kata galau dikatakan Achi, seperti menjadi virus yang menyerang semangat remaja Indonesia. Tren menyebutkan kata galau, menurut Achi dianggap tidak penting. “Melalui buku ini, aku dan Widuri ingin mengingatkan sekaligus mengkampanyekan, bagaimana menghindari perasaan galau,” ungkap Achi.
Dalam buku kolaborasi tersebut, Achi mencoba menuangkan bagaimana mengobati perasaan resah. Kasus atau permasalahan yang diungkapkan Widuri, jelas Achi, akan dilengkapi dengan jawaban dari Achi. Dalam bedah buku yang digelar kemarin itu (30/3), penulis, blogger, sekaligus trainer ternama, Ramaditya Adikara memberi motivasi pada puluhan remaja.
Tidak banyak omong dan berusaha mengena langsung kepada peserta, Rama langsung memutarkan video mengenai perjuangan seorang pemuda yang terlahir tanpa tangan dan kaki. “Namun dia mampu berbahagia dengan hidupnya,” ujar Rama ynag juga penyandang tuna netra itu.
Setelah itu, Rama menuntun peserta untuk menutup mata mereka, mencoba membayangkan seumpama mereka sebagai penyandang tuna netra. “Mendadak Allah mencabut nikmat penglihatan kalian, dengan tidak lagi bisa melihat semua orang yang kalian cintai,” ujarnya lembut seraya musik sendu mengiringi.
Sesegukan isak tangis peserta mulai terdengar, motivasi Rama menyentuh para peserta dari perwakilan sekolah se Kota Tangerang itu. Di akhir renungan, Rama berpesan untuk tidak lagi mengeluarkan kata galau atau mengeluh tentang keresahan mereka. “Namun bersyukurlah, pergunakan semua nikmat Allah dengan semaksimal mungkin,” katanya mengakhiri percakapan.(pramitha)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.