Baduy Minta Atut Jaga Alam

SERANG, SNOL Jaro Saidi mewakili 12 tokoh adat masyarakat Baduy (jaro tangtu 12), meminta Ibu Gede (Gubernur Banten Ratu Atut Chosiyah) untuk menjaga kelestarian alam dan air di Baduy.
“Kami ngawakilan Jaro Tangtu 12 di Baduy, menta kana Ibu Gede supaya ngaja kelestarian alam jeng air nu aya di Baduy (Kami mewakili 12 tokoh adat masyarakat Baduy meminta kepada Ibu Gunernur untuk menjaha alam dan air yang ada di Baduy,” kata Jaro Saidi pada acara ritual tahunan Seba Baduy di Pendopo Gubernur Banten, Sabtu (28/4) malam pukul 21.00 WIB.
Kegiatan Seba Baduy diikuti 1.388 warga Baduy dalam dan Baduy Luar dari sekitar 60 kampung di tiga desa di Kecamatan Leuwi Damar, Kabupaten Lebak. “Kami juga minta kepada Ibu Gubernur untuk bisa menegakan hukum demi ketentraman dan keselamatan masyarakat Banten,” ujar Jaro Saidi.
Setelah menyampaikan permintaan, secara simbolis mereka menyerahkan barang bawaan berupa hasil bumi atau hasil pertanian. Kemudian, masyarakat Baduy disuguhi hiburan wayang golek dari Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Banten (Disbudpar), hingga keesokan harinya menjelang mereka pulang ke kampung halamannya di Kecamatan Leuwi Damar, Kabupaten Lebak.
Hadir Gubernur Banten Ratu Atut Chosiyah, Wakil Gubenur Banten Rano Karno, para Kepala SKPD di lingkungan Provinsi Banten dan Forum Koordinasi Pimpinan Daerah di Provinsi Banten.
Ketua adat Baduy Dalam, Mursyid, mengatakan, kegiatan ritual tahunan warga Baduy ini sebagai bentuk rasa syukur dan menjalin silaturahmi kepada pemerintah Provinsi Banten, setelah warga suku pedalaman melaksanakan panen hasil pertanian. “Kami berpesan agar pemerintah bisa melindungi kami dan hutan yang ada di daerah kami dan wilayah Banten,” kata Mursyid.
Sebelum tiba di Pemprov, warga Baduy Luar dan Baduy Dalam, juga melaksanakan kegiatan serupa di kantor Bupati Lebak pada Jumat malam.Bagi warga Baduy dalam dengan pakaian serba putih, untuk mengikuti kegiatan tersebut harus menempuh perjalanan selama dua hari berjalan kaki dari perkampungannya di Cibeo, Desa Kanekes, Kecamatan Leuwi Damar, Kabupaten Lebak.
Sedangkan bagi warga suku Baduy Luar dengan pakaian khas serba hitam. Mereka biasanya berangkat dari kampungnya dengan menumpang kendaraan dari Terminal Ciboleger menuju kantor Bupati Lebak dan dilanjutkan ke Pendopo Gubernur Banten.
Kepala Desa Kanekes yang juga tokoh Baduy Luar, Daenah juga meminta, kepercayaan mereka yakni Sunda Wiwitan bisa dicantumkan dalam Kartu Tanda Penduduk (KTP). Dengan alasan, kepercayaan itu sudah tercantum sejak 1972 dan menjadi amanah dari leluhur.
“Tapi 2011 hingga tahun 2012 ini, Sunda Wiwitan itu tidak dicantumkan lagi dengan alasan tidak ada dalam undang-undang. Jadi kami minta kepada Pemprov Banten untuk mencantumkan kembali Sunda Wiwitan. Kami khawatir generasi masyarakat Baduy ke depannya menjadi kebingungan, kalau Sunda Wiwitan tidak dicantumkan dalam KTP,” kata Daenah.
Daenah mengungkapkan, sejak pertama kali dirinya bersama warga masyarakat Baduy lain memiliki KTP sudah ada 10 KTP dengan mencantumkan sunda Wiwitan. “Itu sudah ada jejak dulu, jadi tidak boleh dihilangkan karena akan membuat masyarakat Baduy resah,” ujarnya.
Menanggapi hal itu, Gubernur Banten Ratu Atut Chosiyah mengaku akan menindaklanjuti dengan cara melakukan koordinasi dengan pihak lain. “Kami juga akan melaksanakan amanah sesepuh tokoh adat Baduy. Karena menjada kelestarian alam dan air serta hukum sudah menjadi tugas pemerintah,” kata Atut.(eman/fah)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.