422 Kapal Rusak, 1.400 Nelayan Menganggur

Butuh Modal Untuk Perbaiki Kapal

PANDEGLANG, SNOL—Aktivitas ribuan nelayan di Kabupaten Pandeglang lumpuh total pascat­sunami Selat Sunda. Sedikitnya 422 kapal pencari ikan rusak dan 10 lainnya tenggelam diterjang air laut sehingga tak ada nelayan yang melaut. Pemulihan kondisi perekonomian para pencari ikan tersebut diprediksi membutuh­kan waktu selama lima bulan.

Pantauan Satelit News di Desa Teluk Kecamatan Labuan, Pande­glang menunjukkan infrastruktur perikanan rusak berat. Kapal-ka­pal berserakan di pinggir muara. Tempat Pelelangan Ikan hancur.

Desa pesisir pantai yang bi­asanya ramai oleh aktivitas para nelayan, pelelangan ikan hingga pedagang ikan kini sepi. Tak ada pedagang menawarkan ikan. Ne­layan pun tak tampak. Demikian pula bising suara tawar menawar harga di pelelangan yang menda­dak senyap.

Saat ini, Desa Teluk hanya ada aktivitas personel TNI, Polri, Ba­sarnas, BNPB dan masyarakat yang melakukan pembersihan dan pencarian jenazah korban saja. Rumah milik warga, baik yang mengalami kerusakan mau­pun tidak, ditinggal pergi men­gungsi.

Nelayan Desa Teluk, Labuan, Imron (38) mengaku kapal mi­liknya yang biasa digunakan me­laut untuk mencari ikan, mengal­ami kerusakan parah. Makanya, hingga saat ini pasca tsunami ia bersama nelayan lainnya tidak bisa melaut.

“Hampir semua kapal milik nelayan di wilayah Teluk ini men­galami kerusakan parah. Sehing­

mil­ ga hingga kini para nelayan benar-benar tidak bisa melaut. Pokoknya, aktivitas nelayan dalam mencari ikan, mati to­tal,” ungkap Imron dengan nada terpatah-patah mena­han kesedihannya yang men­dalam, Minggu (30/12).

Menurutnya, aktivitas ne­layan di desa itu bakal kembali berjalan normal sekitar lima bulan ke depan. Karena, un­tuk memperbaiki kapal-kapal yang rusak tidak cukup me­makan waktu dua bulan. Apa­lagi jika kondisi kapalnya ru­sak berat tidak bisa diperbaiki.

“Harga kapal saya saja, yang geteknya cuma 5 getek dengan panjang 12 meter dan lebar 3 meter, berikut perlengkapan atau jaring ikan itu mencapai 180 juta rupiah. Apalagi yang kapal geteknya lebih dari mi­lik saya. Tentu saja kondisi ini, bakal berlarut hingga 5 bulan ke depan,” keluhnya.

Belum lagi, jalur penyimpa­nan kapal yakni di muara perlu dilakukan pembenahan dan pembersihan. Karena jalur itu terhambat oleh puing-puing rumah penduduk maupun dari kapal-kapal yang rusak. Selain itu, banyak pula kapal yang tenggelam di area tersebut.

“Makanya kami menaksir sekitar 5 bulan baru bisa pulih, karena itu tadi semua jalur ter­tutup. Pokoknya kami bukan ada rasa ketakutan untuk me­laut, karena kapal kami rusak, ditambah muara tidak bisa di­lalui dan TPI hancur,” jelasnya.

Maka dari itu, dia bersama nelayan lainya sangat berharap besar dibantu baik itu oleh Pemerintah Daerah (Pemda), Provinsi maupun Pemerin­tah Pusat. “Harta benda kami semuanya hilang, dari mana kami bisa memperbaiki kapal kami. Untuk makan saja saat ini dan kedepan pasti kami mengharapkan dari pembe­rian. Makanya, kami sangat berharap besar kepada pemer­intah agar bisa memberikan bantuan untuk kapal kami baik yang rusak maupun yang hilang tenggelam,”ujar ayah dua orang anak ini.

Ketua Paguyuban Nelay­an Pakubor (Payang Kursin dan Obor) Desa Teluk, Keca­matan Labuan, Uus Cusban menyatakan, pihaknya hanya melakukan pendataan khusus kapal-kapal yang memberikan kontribusi atau Pendapatan Asli Daerah (PAD) ke Pemerintah di TPI II dan III. Jumlah kapal rusak, kata Uus, sebanyak 155 kapal.

“Dari jumlah 155 kapal yang mengalami kerusakan terhan­tam tsunami itu, 70 persen­nya mengalami kerusakan parah, 10 persennya rusak total berikut yang hilang teng­gelam, dan 20 persennya rusak ringan,” jelasnya.

155 kapal yang rusak itu memiliki Anak Buah Kapal (ABK) atau nelayan sekitar 1.400 orang yang tersebar di Kecamatan Labuan. Saat ini, secara otomatis para nelayan itu menganggur sampai kapal dapat diperbaiki lagi.

“Kalau kapal tidak diperbaiki berarti ribuan orang terdam­pak menganggur. Sedangkan, semua nelayan ya kerjanya cuman melaut untuk meng­hidupi keluarganya. Entah ini sampai kapan, yang pasti jika sudah ada modal untuk mem­perbaiki kapal, paling juga ne­layan akan menganggur sam­pai 5 bulan,” jelasnya.

Menurutnya, para nelayan bagian dari aset yang tak ter­pisahkan untuk kemajuan daerah. Karena selama seta­hun dari penghasilan sekitar 80 juta/tahun, 2 persennya untuk PAD. Maka dari itu ia menegaskan agar Pemerintah membantu untuk memperbai­ki kapal yang rusak.

“Mau darimana lagi kami un­tuk memperbaiki kapal karena semua harta benda kami hilang diterjang tsunami. Makanya kami benar-benar sangat mem­butuhkan bantuan dari Pemer­intah,” harapannya.

Kasi Pemerintahan Desa Teluk, Galih Salasianto men­gungkapkan, rumah nelayan yang mengalami kerusakan berat sebanyak 248 rumah. Nelayan yang meninggal du­nia sebanyak 5 orang.

“Dari total perahu yang ada di kawasan TPI Teluk, semuanya hancur. Benar, kini Teluk men­jadi TPI mati karena baik nelay­an, pedagang dan lainnya tidak bisa beraktivitas. Hal itu dise­babkan, semua sarana prasara­na milik nelayan tidak ada yang bisa digunakan,” katanya.

Terpisah, Kepala Bidang Data, Informasi dan Humas pada Posko Terpadu Penang­gulangan Bencana Tsunami Banten, Yahya Gunawan Kas­bin mengungkapkan, data untuk kerusakan ringan dan berat perahu atau kapal yang diterima pihaknya dari Dinas Perikanan Kabupaten Pan­deglang berjumlah total 422 kapal, dan khusus yang teng­gelam 10 kapal.

“Sekitar pukul 14.54 Wib, data yang kami terima dari Dinas Perikanan bahwa ka­pal milik nelayan di 5 Keca­matan yakni Labuan, Carita, Panimbang, Cigeulis, dan Su­mur berjumlah 422 baik ru­sak ringan maupun berat, dan yang tenggelam ada 10 kapal,” jelas Kepala Dinas Komunikasi Informatika Sandi dan Statistik (Diskomsantik) ini.

Data yang diterimanya itu bisa berubah-ubah. Karena sampai semua tim masih melakukan pendataan di la­pangan.

“Yang valid sementara itu ya 422 kapal dan 10 kapal yang tenggelam. Selain kapal, untuk keramba yang rusak 52 unit, lobster 2.000 Kg, kerapu 3 300 ekor, kolam kerang 2, bagang apung 27, mesin 1 unit, mesin tempel 15 PK Yamaha 1 unit, tambak udang 1 hektar, jaring 120 unit dan terakhir 13 unit,” pungkasnya. (nipal/gatot)

 

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.