Audiensi Rangka Baja RKB Ricuh

PANDEGLANG,SNOL Audiensi pembangunan ruang kelas baru (RKB) berangka baja, di ruang Paripurna DPRD Pandeglang, Kamis (31/5) berakhir ricuh. Pimpinan sidang terpaksa menghentikan audiensi yang menghadirkan sejumlah pihak itu.
Sejumlah perwakilan dari Forum Mahasiswa dan Pemuda Peduli Pendidikan Pandeglang (FMP4) nyaris, menjadi sasaran penyerangan para guru. Para guru tidak terima tudingan FMP4 dan meminta untuk menunjukan bukti visual dugaan penyimpangan penggunaan RKB rangka baja yang dimaksud. Namun, FMP4 tidak mau mempertontonkan dengan alasan akan menjadi barang bukti untuk dibawa pada aparat penegak hukum.
“Kami tidak pernah mengundang para kepala sekolah, UPT dan Komite, Guru di kesini (DPRD,red). Kami hanya mengundang Kepala Dinas Pendidikan, Kabid TK/SD, Kasi Sarana dan Prasarana, Pihak pengawas, Konsultan, Kejaksaan, kepolisian dan FMP4, sebagai tindak lanjut dari pertemuan sebelumnya,” kata Ilma Fatwa, pimpinan sidang sekaligus Ketua komisi IV DPRD Pandeglang, usai audiensi.
Menurut dia, sebelum audiensi dimulai, pihaknya sudah menduga acara akan berlangsung tidak kondusif. Tetapi, pihaknya mendapatkan jaminan dari Kepala Dinas Pendidikan, pihak keamanan bahwa selama pertemuan tidak akan terjadi kericuhan.
“Faktanya, bisa dilihat sendiri. Kalau nggak terlalu banyak yang hadir, kami rasa pertemuan tadi (kemarin,red) akan menghasilkan solusi. Kami kecewa dengan sikap Kepala Dinas Pendidikan yang kami nilai ini tidak fair. Besok (hari ini,red) kami akan menggelar rapat internal, bahkan akan didorong untuk membentuk Pansus pembangunan RKB berangka baja 2012,” tegasnya.
Kepala Dinas Pendidikan Abdul Azis saat audiensi mengatakan, apa yang dituduhkan FMP4 kepada pihaknya syarat dengan kepentingan sekelompok orang yang punya tujuan tertentu.
Dia membantah semua tudingan yang disampaikan FMP4. “Silahkan ditanya, apakah ada pejabat dinas yang mengkoordinir uang pembangunan rangka baja, karena uang itu masuk semuanya ke rekening sekolah. Sama sekali tidak pernah ada pejabat dinas yang meminta uang ke pihak sekolah,” kata Azis di sela-sela pertemuan.
Abdul Azis juga menegaskan tidak ada monopoli, lantaran dalam proyek itu melibatkan konsultan, pengusaha dan suplayer lebih dari satu orang.”Ada belasan suplayer, dan pengusaha yang terlibat dalam program ini. Jadi tolong buka lagi apa arti monopoli,” imbuhnya.
Koordinator FMP4, Tedi Setiadi menegaskan pihaknya terpanggil membuka temuan karena peduli dengan peningkatan dunia pendidikan Pandeglang. Tidak untuk menghakimi atau mengganggu pembangunan yang sedang berlangsung di ratusan sekolah SD dan SMP.
“Kami prihatin kalau para kepala sekolah, komite dan UPT, didatangi sejumlah oknum yang coba mengobok-obok pembangunan itu. Makanya, mari kita awasi bersama. Dan hasil investigasi kami dilapangan, ditemukan beberapa dugaan kejanggalan atau patut diduga, salah satunya kualitas rangka baja rendah,” kata Tedi Setiadi.
Andri, salah seorang konsultan menyebut penggunaan baja ringan dalam pembangunan 425 sekolah dasar (SD) dan 65 sekolah tingkat SMP dimaksudkan dalam rangka peningkatan kualitas. “Dan karena yang digunakan adalah baja ringan, diharapkan prosesnya bisa berlangsung lebih cepat dan tidak berdampak hukum.Kalaupun pemotongan rangka baja ringan ini menggunakan gunting, perlu diketahui guntingnya bukan sembarang gunting,” klaim dia.(mardiana/eman)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.