Kemenhub Bentuk Tim Investigasi Tewasnya Taruna BP2IP

TANGERANG, SNOL Kasus tewasnya seorang taruna Balai Pendidikan dan Pelatihan Ilmu Pelayaran (BP2IP) Pakuhaji, Kabupaten Tangerang saat mengikuti Diklat Orientasi Pembelajaran (DOP), Jumat (13/7) lalu bakal terus diselidiki. Bahkan, Kementerian Perhubungan (Kemenhub) membnentuk tim investigasi untuk mengungkap kasus tersebut.
Wakil Menteri Perhubungan Bambang Susantono mengatakan, tim investigasi itu akan mengumpulkan fakta terkait kematian Ervin Juliantoro, calon taruna BP2IP asal Kota Tangerang. “Langkah kita selanjutnya masih menunggu hasil tim investigasi Kemenhub,” jelas Bambang di Surabaya, Senin (16/7).
Bambang menambahkan, pihaknya menolak jika dituding lembaga pendidikannya masih menerapkan cara-cara kekerasan dalam proses orientasi taruna atau siswa baru. “Kami tidak mentolelir segala macam bentuk kekerasan di lembaga pendidikan kami, kami pasti akan mengambil tindakan tegas,” tambahnya.
Di lain pihak, Polresta Tangerang masih menunggu hasil visum terkait kematian Ervin Juniyantoro. “Untuk dapat melakukan penyelidikan, kami tetap harus menunggu hasil visum dari rumah sakit,” kata Kapolresta Tangerang Kombes Bambang Priyo Andoggo kepada Satelit News kemarin (16/7).
Bambang mengaku hingga saat ini pihaknya masih belum memanggil pihak-pihak yang akan dimintai keterangan atas kematian Ervin. “Kami ingin memanggil pihak keluarga untuk kami mintai keterangan, hanya saja karena saat ini mereka masih berduka kami belum melakukan pemanggilan,” jelasnya.
Namun begitu, menurut Bambang, pihaknya berjanji akan tetap menyelidiki kematian Ervin ini. “Karena kasus ini bukan delik aduan, maka ada tidaknya laporan dari keluarga kami akan tetap melakukan penyelidikan. Jika ditemukan ada tindak pidana, kami akan teruskan penyidikan, namun jika tidak ada, maka kasus akan ditutup,” tukasnya.
Sementara itu, Akademisi dari Universitas Muhammadiyah Tangerang (UMT) Prof Aris Gumilar mengatakan, di negara manapun, sekolah pelayaran memang keras (hard) dan rata-rata dibentuk dengan gaya semi militer. Namun begitu, menurut Aris, pendidikan keras itu tidak sama dengan kekerasan (violence).
Aris mencontohkan, di Philippine Merchant Marine Academy, Academy di New London, dan U.S. Merchant Marine Academy di Kings Point, mereka menggembleng kadetnya dengan sangat keras, karena kadet-kadet itu bukan calon koki atau steward kapal, tapi calon ahli mesin kapal yang beberapa tahun lagi bakal jadi nakhoda atau KKM yang tanggung jawabnya tidak ringan.
Kadet yang tinggal di asrama bisa dibangunkan tengah malam buta lalu disuruh berkumpul di ruang makan atau lapangan upacara. “Ini adalah latihan untuk menghadapi emergency kalau mereka sudah dinas laut,” kata Aris.
Karenanya, tambah Aris, dengan tanggungjawab yang besar yang akan diembang, seorang kadet memang harus digembleng dengan keras. “Tetapi apabila dalam masa pelatihan ada senior yang menganiaya juniornya, jelas prilaku demikian merupakan tindak pidana yang bisa dihukum. Kalau di Akademi Pelayaran Niaga Amerika, si senior yang bersangkutan diseret ke peradilan militer,” jelasnya.
Seperti diberitakan, Ervin Juliantoro tewas saat mengikuti DOP di BP2IP Tangerang. Pihak keluarga masih sanksi bahwa Ervin meninggal karena sakit. Sebab, almarhum tidak memiliki catatan penyakit serius. Mereka meyakini, Ervin mengalami kekerasan saat proses DOP karena pihak keluarga banyak menemukan luka di tubuh jenazah Ervin saat dimandikan, seperti di kaki, dada, dan bagian punggung.
Pihak BP2IP Tangerang sebelumnya sempat membantah adanya aksi kekerasan saat proses DOP yang berlangsung 5 hari itu. Proses tersebut tidak melibatkan taruna senior, namun hanya panitia instruktur dari BP2IP. Dalam DOP yang diikuti 270 calon taruna itu, kegiatan fisik yang dilaksanakan hanya baris berbaris, sisanya berbentuk kegiatan kelompok. (hendra/deddy)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.