Mengunjungi Bungker Antinuklir Sisa Perang Dingin di Berlin

Mandi Telanjang Dilihat Pengungsi Lain
Jika perang nuklir benar-benar terjadi, Berlin bisa jadi adalah kota yang paling siap menghadapinya. Ibu kota negara Jerman itu sudah memiliki bungker-bungker perlindungan bagi warganya untuk bertahan dari perang nuklir.
Bangunan yang nyempil di Jalan Burnenstrasse, Berlin, itu sekilas tampak seperti bangunan liar. Letaknya berada dalam satu arah pandangan dengan Stasiun Gesundbrunnen. Bangunannya tak seberapa besar. Bahkan, luasnya tak lebih gede daripada pos kamling yang biasa dibangun di Indonesia. Bangunan itu seperti tidak terawat dengan sulur-sulur tanaman merambat di dinding-dindingnya yang berwarna cerah.
Tapi, jangan salah sangka. Tampilan luar bangunan memang sangat mengecoh. Sebab, rumah kecil berpintu besi itu merupakan jalan masuk menuju salah satu bungker utama di Berlin. Bungker tersebut bahkan masih masuk dalam program Kementerian Pertahanan Jerman sebelum akhirnya dihapus dua tahun lalu.
“Silakan masuk,” kata Robin Williams setelah membuka gembok “pos kamling” Berlin itu.
Lelaki yang akrab dipanggil Robin tersebut merupakan aktivis Berliner Unterwelten, sebuah organisasi nirlaba pencinta sejarah yang mengelola situs-situs sejarah perang dingin di Berlin. Para aktivis dari Berliner Unterwelten (dalam bahasa Indonesia berarti dunia bawah tanah Berlin) setiap hari bergantian menemani para pelancong untuk melihat situs pertahanan milik pemerintah yang masih terawat itu.
Robin lantas memandu menuruni sejumlah tangga yang mengantar ke bungker. Setidaknya ada enam tangga yang harus dilalui. Panjang tangga itu rasanya setara dengan turun tiga lantai. Penerangannya sangat minim walaupun masih bisa melihat dengan jelas.
“Di bawah justru semakin gelap. Dalam kondisi perang, kamp-kamp pengungsi hanya digunakan untuk berlindung sementara. Energi dibikin sehemat mungkin. Buat apa cahaya lampu? Di selter, Anda tidak sedang mengerjakan tulisan buat deadline kan?” ujar Robin lantas tersenyum.
Dasar bungker sangat gelap. Arah jalan hanya mengandalkan sejumlah anak panah bersaput fosfor yang membuatnya bercahaya di kegelapan. Ruangan bawah tanah terdiri atas banyak kamar. Mulai dapur, kamar tidur, dan tempat berkumpul. Sebelum memasuki ruangan-ruangan tersebut, warga yang mengungsi harus melewati areal sterilisasi.
Ukuran ruang sterilisasi mencapai separo lapangan voli. Ruangan itu memiliki dua pintu besi yang berkatup karet plus bergagang ulir. Satu pintu merupakan pintu masuk menuju ruangan lainnya di dalam bungker, pintu lainnya adalah pintu dari luar bungker. Pintu dibikin dari besi berat untuk menjaga agar udara dari luar yang dipercaya membawa radiasi tidak ikut masuk ke dalam bungker.
Di pojok ruangan ditempatkan shower tempat warga membersihkan tubuh dari bakteri yang bisa membahayakan sesama pengungsi. Shower tersebut dibikin tanpa sekat. Alhasil, siapa pun yang mandi telanjang bakal terlihat pengungsi lainnya. “Itu untuk efisiensi. Lagi pula, apakah Anda masih memikirkan rasa malu saat keadaan darurat?” kata lelaki kelahiran Jerman tapi besar di Amerika Serikat (AS) tersebut.
Selain untuk mandi, ruangan itu digunakan untuk membersihkan warga dari radiasi nuklir. Semua pakaian dan barang yang menempel di tubuh harus dibuang dan diganti pakaian khusus. Dari ruang sterilisasi, warga bisa menuju kamar dapur atau kamar tidur melalui sejumlah lorong. Setiap lorong bungker dibikin berkelok-kelok. Mirip labirin berbahan beton. “Tujuannya, bila ada roket yang diluncurkan, tidak langsung hancur dalam sekali tembak karena harus membentur banyak tembok,” jelasnya.
Robin juga mengajak ke kamar dapur. Itu merupakan tempat warga membikin makanan buat pengungsi lainnya. Jam kerja dapur diatur berurutan. Kendati perang nuklir tak juga datang hingga abad ke-21, dapur-dapur itu masih lengkap dengan kompor serta panci-panci besar.
Di salah satu tutup panci, ditempelkan celemek berbahan kain. Di atasnya terdapat tulisan dalam bahasa Jerman yang kira-kira bermakna, “Berliburlah ke Eropa mumpung Eropa masih ada”. “Tulisan itu asli dari tahun saat bungker ini dibuat. Para pengungsi butuh lelucon karena mereka di sini pasti sangat stres,” katanya.
Robin yang pernah hidup pada masa Jerman Barat itu lantas mengajak ke kamar tidur. Itu adalah tempat para pengungsi beristirahat. Setiap kamar tidur bisa menampung sedikitnya 48 pengungsi. Kasur, tempat mereka tidur dibikin sangat darurat, yakni hanya berupa kain yang dihubungkan ke pipa-pipa besi hingga membentuk ranjang. Meski darurat, pengungsi tetap diberi privasi. Setiap ranjang yang langsung bersebelahan diberi sekat dari kain.
“Dalam simulasi pemerintah Jerman Barat, akan ada warga yang memasak, ada yang memutar generator, ada yang tidur. Masing-masing diberi giliran dan tidak boleh saling melanggar. Semua harus disiplin karena ini menyangkut nyawa ribuan orang,” tegasnya.
Sebagian besar bungker dan selter di Berlin dibangun pada 1977. Saat itu, Jerman terpecah menjadi Jerman Barat dan Jerman Timur karena Perang Dunia II. Kedua wilayah dibatasi tembok besar yang memisahkan dua kota itu. Jerman Timur yang dikuasai komunisme Uni Soviet melarang warganya hijrah ke Jerman Barat yang dikuasai negara-negara Barat pimpinan AS.
Dalam masa perang dingin itu, kedua kubu saling curiga bahwa satu kubu hendak menghancurkan kubu lain. AS meyakini bahwa Uni Soviet memiliki bom nuklir yang disimpan di Rusia. Jika tiba-tiba AS menembakkan roket ke Moskow, bom nuklir bakal meluluhlantakkan Berlin. Berlin menjadi tempat yang strategis karena hampir semua tentara kedua kubu bersiaga di tempat tersebut.
Dalam gambaran pemerintah Jerman Barat, Berlin bakal menjadi sasaran ledakan 1 juta ton bom nuklir. Karena itu, mereka membangun ratusan selter dan lebih dari 70 bungker untuk menampung sebanyak-banyaknya warga Berlin. Namun, seluruh tempat perlindungan itu hanya mampu menampung 3.339 orang. Sangat sedikit dibanding populasi warga Berlin yang mencapai 3 juta jiwa. Kini di Berlin hanya tersisa 23 bungker. Sisanya kebanyakan digusur pemerintah kota dan ditimpa bangunan baru di atasnya.
Robin lantas memamerkan sebuah peta Berlin berukuran besar yang dipasang di sebuah kamar berkumpul para pengungsi. Dalam peta, beberapa wilayah digolongkan dalam zona satu, zona dua, hingga zona tiga. Masing-masing zona memiliki diameter. Zona satu masuk lingkaran utama karena berada di tempat nuklir bakal meledak. “Zona satu adalah ground zero. Tidak ada yang selamat. Di zona dua dan tiga, mungkin ada yang selamat, tapi beberapa hari kemudian akan mati karena radiasi,” jelasnya.
Bungker di Berlin dibangun untuk menampung warga selama dua minggu. Dalam perang nuklir, ledakan bom memang hanya terjadi dalam beberapa menit. Tapi, akibat yang ditimbulkan dari radiasi radioisotop berbahaya bisa bertahan selama beberapa hari. Karena itu, bungker harus menjadi tempat warga bertahan hidup sebelum akhirnya mereka kembali ke atas dua minggu pasca pengeboman.
Setelah naik ke atas, kondisi kota diperkirakan tetap belum aman. Tingkat radiasi juga masih tinggi. Dalam penyuluhan pemerintah Jerman Barat, warga diminta terus berlari ke luar kota sampai menemukan tempat paling aman dari radiasi. Mereka juga diminta bergerak sendirian. “Sebab, saat nuklir melanda kota, seluruh hewan dan bahan makanan musnah. Itu bisa menimbulkan kanibalisme pada manusia,” kata Robin dengan mimik serius.
Bungker di Jalan Burnenstrasse yang dikunjungi Jawa Pos merupakan salah satu bungker yang terintegrasi dengan stasiun kereta bawah tanah. Yakni, Stasiun Gesundbrunnen. Satunya lagi adalah Stasiun Pankstrasse yang berselisih satu pemberhentian dengan Gesundbrunnen.
Robin mengakui, ide untuk mengungsi ke bungker saat perang nuklir terdengar sangat mustahil. Dia membayangkan, jika Berlin ditimpa satu juta ton bom nuklir, memang hanya Berlin yang rusak. Tapi, beberapa hari kemudian, radiasinya yang berbahaya bakal menyebar menutupi wilayah bumi. Radiasi bisa membuat atmosfer bolong. Hewan-hewan mati dan tidak ada tanaman yang tumbuh.
Kalaupun manusia bisa bertahan hidup, dalam hitungan hari rambutnya akan rontok, kemudian tewas. Baik karena radiasi maupun kelaparan. “Apa tidak sebaiknya kita duduk di depan balkon saja sambil minum anggur dan melihat “lampu” yang paling gemerlap di akhir hidup kita. Rasanya lebih baik meninggal saat bom nuklir meledak daripada mati tersiksa kena radiasi,” kata Robin lantas tersenyum.(agung putu iskandar-c5/nw)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.