Pegiat Komik Kehilangan Sang Inspirator…

CIPUTAT,SNOL Masyarakat pegiat komunitas komik di Indonesia merasakan kehilangan besar dengan meninggalnya RA Kosasih. Puluhan orang dari berbagai komunitas komik seperti komikindonesia.com, Masyarakat Komik Indonesia dan Akademi Samali berkumpul di rumah duka yang berada di Jl. Cempaka Putih III No. 2, Rempoa, Ciputat, Tangerang Selatan.
“Yang memotivasi itu fakta kalau dia baru mulai aktif di dunia komik dan diterbitkan di umur 33 tahun, itu menunjukkan tidak ada kata terlambat untuk memulai,” kata Mantan Ketua Masyarakat Komik Indonesia (MKI), Wahjoe Soegianto.
Para pegiat komik Indonesia dari berbagai komunitas sudah menyiapkan dan menyusun beberapa acara tribute bagi almarhum RA Kosasih. “Ya antara lain bentuknya mungkin lebih ke penerbitan sama penyusunan biografi,” kata Beng Rahadian, salah satu komikus dari Akademi Samali.
Baik Beng maupun Wahjoe merasakan kepergian almarhum RA Kosasih sebagai sebuah kehilangan besar bagi dunia komik Indonesia. Wahjoe mengharapkan pemerintah mau untuk memperhatikan para seniman, salah satunya komikus.
“Pemerintah seharusnya bisa menghargai dan memperhatikan seniman, biar bagaimanapun kami juga berjasa terhadap budaya bangsa dengan mengangkat tema-tema lokal,” kata Wahjoe.
Ia juga mengungkapkan bahwa dirinya mendapatkan pesan dari almarhum untuk mengumpulkan dan mengarsipkan dokumentasi karya-karya beliau. “Banyak juga mahasiswa yang pakai data-data Pak Kosasih, tapi gak dibalikin, susah juga ngumpulinnya,” ujarnya.
Sedangkan Komikus muda Sweta Kartika mengaku sosok RA Kosasih sebagai legenda komik Indonesia merupakan inspirasi yang telah mengenalkan dirinya dengan karya Mahabharata sejak kecil. Begitu berpengaruhnya RA Kosasih, ia sampai membuat seorang tokoh pahlawan berdasarkan komik RA Kosasih, Sri Asih.
“Ini bentuk penghormatan saya sebagai komikus muda dalam menghargai karya pertama Pak Kosasih,” kata komikus yang menampilkan Sri Asih dalam komik action Wanara ciptaannya.
Tahun lalu, lelaki yang belajar desain grafis di Institut Teknologi Bandung itu sempat bertemu dengan RA Kosasih untuk meminta ijin memasukkan tokoh Sri Asih dalam komiknya. Pertemuan itu sangat membekas di hati Sweta, RA Kosasih tidak menampakkan kesombongan sama sekali. “Sikap dan perilaku beliau sangat membumi. Padahal beliau adalah komikus Indonesia yang pertama kali menerbitkan komiknya,” lanjut komikus yang tergabung dalam Wanara Studio itu.
Di pertemuan itu, Sweta juga dibuat kagum karena RA Kosasih tetap menghargai komik-komik zaman sekarang walau gaya gambarnya jauh berbeda dengan zaman komik Indonesia pada era RA Kosasih berjaya. “Tidak ada sedikit pun kekhawatiran di wajah Pak Kosasih tentang nasib komik Indonesia ke depan, seakan-akan beliau yakin betul bahwa generasi komikus saat ini sudah mampu untuk melanjutkan gerakannya,” kata Sweta.
Selain itu, ada lagi hal menarik dari etos kerja RA Kosasih yang begitu berkesan bagi Sweta, yaitu membuat komik tanpa rasa terpaksa. “Beliau selalu ngomik dalam keadaan hati senang,” kenang Sweta.
Pengaruh RA Kosasih pada komikus Indonesia saat ini tidak hanya bisa dilihat di karya Sweta, hal itu juga terjadi pada komikus Is Yuniarto. Pencipta komik bertema wayang “Garudayana” itu mengakui karya RA Kosasih adalah inspirasi bagi komiknya. “Bapak RA Kosasih adalah inspirator dan lokomotif utama bagi kegerakan komik Indonesia. Beliau mempelopori terbitnya komik Indonesia dalam bentuk buku cetakan, dan meletakkan dasar identitas komik Indonesia pada karya legendarisnya, Komik Wayang Ramayana dan Mahabharata,” ujar Is.
Hal serupa diungkapkan Shirley (S Y S), komikus di balik “Sang Sayur”.  Dia berharap dirinya bersama sesama rekan komikus Indonesia bisa meneruskan perjuangan R.A Kosasih untuk menggiatkan kembali dunia komik Indonesia. (muhammad iqbal/jarkasih)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.