SK Ganda, Sopir Ancam Demo Organda

MAUK,SNOL Ratusan sopir angkutan umum G.01 jurusan Pasar Baru – Mauk, keberatan dengan munculnya Surat Keputusan (SK) ganda  Kepengurusan Kelompok Kerja Sub Unit (KKSU) pada jalur yang sama. Para sopir berencana mendemo pihak Organda Kabupaten Tangerang bila keberadaan SK ganda tersebut  tidak ditinjau ulang.
Menurut Apud Mahpudin, Ketua Kelompok Kerja Sub Unit (KKSU) trayek G.01 Terminal Pasar Baru – Sepatan – Mauk – Kronjo mengatakan, dengan keluarnya SK ganda dari organda pada trayek yang sama menandakan Organda Kabupaten Tangerang telah melakukan sebuah keputusan yang salah. Apud meyakini apa yang telah dikeluarkan organda tidak sesuai aturan yang berlaku tentang sebuah trayek angkutan umum.
“Tidak ada dalam aturan manapun yang memperbolehkan adanya trayek ganda kalau itu bukan permainan. Kasihan para sopir angkot, pendapatannya jauh berkurang semenjak bertambahnya armada baru jenis Grand Max,” ujar Apud,
Menurut Apud, SK yang sah adalah SK yang dimiliknya dengan nomor S.Kep.006/DPC-ORG/KAB-TNG/III/2012, tertanggal 02 Maret 2012. Sedangkan SK lainnya dengan nomor S.Kep.014/DPC-ORG/KAB-TNG/V/2012 tertanggal 22 Mei 2012 tidak sah. Alasannya adalah SK pertama keluar terlebih dahulu dibanding SK kedua.
Apud meyakini keluarnya SK tersebut hasil dari permainan pejabat organda Kabupaten Tangerang. Dirinya sangat menyangkan organda yang seharusnya memberikan pelayanan, berupa izin trayek dengan benar tetai malah hanya mencari keuntungan pribadi saja. “Saya yakin ada yang bermain di organda. Dan SK yang keluar kedua yakni pada bulan Mei menurut saya itu palsu. Sebab dalam SK yang kedua tanda tangan ketua DPC Organda sepertinya bukan asli. Kalau organda tidak segera mencabut, kami akan mendemo pihak organda,” tukas Apud.
Terpisah, Sekretaris Organda Kabupaten Tangerang, Dan Persada membantah kalau SK yang kedua palsu atau direkayasa. Menurutnya, kedua SK tersebut sah adanya. Sebab keberadaan SK ganda tersebut sudah ada sejak tahun 1996 lalu. “Mungkin saudara Apud tidak mengerti bahwa memang sejak tahun 1996 di jalur tersebut telah ada dua kepengurusan, ibaratnya disana itu satu suami dua istri,” kilah Dan.
Malah menurut Dan, seharusnya SK yang berlaku adalah SK yang kedua. Sebab untuk SK yang pertama keberadaan mobil angkotnya hanya tinggal beberapa unit saja. Kesepakatannya pada waktu itu adalah angkutan umum dengan trayek Pasar Baru – Mauk, yang menggunakan kendaraan isuzu bila akan diremajakan mobil angkotnya yang berupa isuzu harus dipensiunkan.
“SK ganda tersebut sudah terjadi sejak lama, jadi bukan sesuatu yang baru. Justru kami pertanyakan kenapa SK pertama masih dijadikan alasan para sopir yang menggunakan angkutan isuzu untuk mengangkut penumpang. SK pertama itu saat ini kalau boleh dibilang tinggal empat mobil angkot isuzu saja, selebihnya bodong,” tukas Dan Persada.
Dan sendiri mengaku sebenarnya pihak organda telah berusaha untuk mempersatukan dua KKSU tersebut namun kedua kepengurusan tersebut tetap menolaknya. “Kami telah berusaha melakukan rekonsialisa, namun tetap mereka enggan,” ujarnya. (hendra/jarkasih)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.