Terhantam Krisis, Pengusaha Yunani Boyong Keluarga ke Indonesia

Krisis berkepanjangan di Eropa mulai membuat warganya tidak betah. Dimitri Sterghiu, pengusaha furnitur asal Yunani, memutuskan bahwa Indonesia adalah tempat terbaik untuk membangun masa depan bersama keluarga.
Jam di tangan menunjuk pukul 15.00. Namun, kondisi cuaca di kawasan Chalandri, Athena, Yunani, pertengahan Juli lalu masih terasa seperti tengah hari. Ditemani seorang staf KBRI, Jawa Pos menyusuri satu per satu bangunan untuk mencari lokasi gerai Diagonios, supplier furnitur outdoor. Di tempat itulah, sehari sebelumnya dibuat janji untuk bertemu pemiliknya, Dimitri Sterghiu.
Berdasar data KBRI di Yunani, nama Diagonios cukup dikenal. Dimitri Sterghiu sering melakukan kontak dengan pengusaha Indonesia. Sebagian di antara kontak tersebut difasilitasi KBRI Athena. Namun, meskipun dia sering berurusan dengan KBRI, mencari lokasi usahanya ternyata bukan perkara mudah.
Sebab, gerai yang dicari memang tidak seperti lazimnya tempat penjualan. Outlet Diagonios adalah bangunan terbuka dengan berbagai furnitur untuk tempat liburan seperti tempat tidur gantung, kursi ayun, dan kursi malas yang tersebar di halaman. Penanda bahwa itu outlet usaha hanya tulisan Diagonios The Art of Outdoor Living kecil dengan latar belakang model daun. “Selamat datang, senang sekali ada warga Indonesia yang berkunjung ke tempat kami,” sapa Dimitri sambil bergegas keluar.
Dimitri adalah pekerja keras yang ramah, ciri khas warga Athena yang menjunjung tinggi semangat spartan, warisan leluhur. Itu tergambar dari tubuhnya yang tinggi tegap, namun selalu mengumbar senyum dan berhati-hati jika bicara.
Setelah menamatkan studi di jurusan arsitektur di Universitas Degli di Firenze, Italia, pada akhir 1970-an, Dimitri banyak menghabiskan waktu untuk meneliti bahan baku terbaik untuk furnitur. Tugas ituah yang mengantar dia berkelana ke negara-negara di wilayah tropis, termasuk Indonesia.
“Saya suka bahan kayu Indonesia, tekstur, bentuk, dan warnanya beraneka macam. Sangat bagus untuk furnitur kelas atas,” ungkapnya sambil menunjukkan puluhan set mebel meja kursi, tempat tidur, pembatas ruang, dan aneka furnitur lain yang memenuhi gerainya yang luas. Seluruh furnitur tersebut, ungkap Dimitri, dibuat dari bahan kayu Indonesia.
Salah satu jenis kayu yang mendapat perhatian Dimitri sejak muda adalah kayu dari pohon sonokeling. “Ini kayu luar biasa, di Indonesia jumlahnya melimpah, sangat bagus jika dikembangkan. Warnanya terang dan mudah dibentuk,” ungkapnya dengan antusias.
Sonokeling ternyata hanya salah satu yang membuat Dimitri “jatuh cinta” kepada Indonesia. Pria asli Athena yang sudah 20 tahun melanglang buana dengan berbagai bisnis bahan bangunan itu mengaku, semakin lama menjalankan bisnis di Indonesia, semakin jatuh hati dengan negara yang berjarak 10.243 kilometer dari tempat kelahirannya tersebut. “Bicara tentang Indonesia tidak hanya tentang keindahan alam seperti pemandangan laksana surga di Pulai Bali dan Lombok,” ungkap pehobi traveling dan kuliner tersebut.
Indonesia di mata Dimitri adalah tempat perilaku ramah dan bersahabat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. “Saya suka bagaimana orang Indonesia tersenyum, di mana-mana saya jumpai orang tersenyum. Saya sangat suka, saya ingin keluarga, anak, dan istri saya juga merasakan keindahan itu,” kata Dimitri yang selama sepuluh tahun berbisnis dengan partner dari Indonesia mengaku sudah menjelajah ke berbagai kota besar seperti Jakarta, Jogjakarta, Surabaya, Makassar, dan tentu saja Bali dan Lombok.
Keindahan alam dan perilaku bersahabat itu pula yang membuat Dimitri sejak sepuluh tahun lalu berangan-angan menghabiskan hari tua bersama keluarga di Indonesia. Tuhan rupanya mengabulkan kehendak itu, bahkan lebih cepat.
Saat krisis menerjang Yunani empat tahun lalu, keinginan Dimitri untuk pindah ke Indonesia memang harus dipercepat. “Bisnis di Yunani semakin sulit. Semua orang terlihat mengerikan. Sulit sekali mereka tersenyum. Karena itu, saya bulatkan tahun ini saya pindah ke Indonesia dan tahun depan keluarga menyusul,” ujar ayah seorang putra tersebut.
Sudah adakah lokasi tempat tinggal yang diincar? Dengan cepat Dimitri menyebut Jogjakarta. “Jogjakarta kota yang indah, banyak universitas di sana. Masyarakatnya juga terbuka seperti Surabaya. Saya ingin anak saya bisa tinggal dan sekolah di sana,” ujarnya.
Di kota pelajar itu Dimitri sudah menyiapkan rumah dengan kolam renang dan kebun. Dengan pekerjaan yang menumpuk karena menyatukan kantor pemasaran dengan pabrik, Dimitri ingin keluarganya mendapat tempat senyaman-nyamannya di rumah.
“Saya sudah hitung, tiap hari harus berkendara sekitar 40 menit dari rumah di Jogja ke pabrik di Solo. Kadang saya harus tidur di pabrik jika order melimpah. Jadi, tidak setiap waktu saya bisa berkumpul dengan keluarga di rumah,” katanya.
Diagonios, perusahaan Dimitri, memang sudah memiliki pabrik di Perum Taman Pratama, Kolomadu, Karanganyar, Solo. Dari pabrik yang dioperasikan puluhan tenaga lokal tersebut, dibuat berbagai furnitur kualitas tinggi yang banyak dipesan hotel-hotel bintang lima di Eropa. “Saya yang mendesain seluruh produk dan tenaga kerja di Solo yang mewujudkannya. Keterampilan mereka luar biasa bagus,” tuturnya.
Dimitri mengakui, dalam lima tahun terakhir, pabrik di Solo sulit mendapatkan bahan baku. Kesulitan semakin bertambah dengan kenaikan biaya produksi yang dipicu kenaikan tarif listrik dan rencana kenaikan harga BBM.
Kesulitan di bagian produksi itu semakin menggenapkan masalah Dimitri yang juga menghadapi lesunya pasar lantaran krisis Eropa. “Namun, saya sudah bertekad tetap survive, semoga dengan saya tangani langsung, masalah-masalah tersebut bisa segera teratasi,” tegasnya.
Dengan kerja keras yang dilakukan, Dimitri juga ingin menunjukkan bahwa warga Yunani bukanlah warga pemalas seperti yang banyak diberitakan media asing. “Kami bekerja sangat keras setiap hari. Namun, kami membawa uang ke rumah lebih sedikit karena harus membayar pajak lebih tinggi dan membeli barang dengan harga lebih mahal,” ungkapnya.
Dimitri mengaku, setiap hari mengawali aktivitas pada pukul 05.00 dengan mengontak partner lokal di Solo dan menyiapkan gerai. “Setelah itu, mulai pukul 07.30 hingga 21.00 saya melayani customer di toko. Saya lihat semua pengusaha melakukan hal yang sama dengan saya. Jadi, kami sama sekali bukan pemalas,” tegasnya kali ini dengan nada berat dan tanpa senyum.
Dimitri menuding, opini yang menyebut sumber krisis di Yunani adalah kemalasan dan kebiasaan boros warganya hanyalah rekayasa dari negara-negara kreditor agar bisa terus menggerojok dana talangan lebih banyak lagi ke Yunani. “Negara-negara itu di bawah koordinasi Jerman, mereka mendapat banyak keuntungan dari kesusahan kami. Dana bailout yang mereka berikan hanya untuk membayar utang sebelumnya. Penerimanya ya bank, bukan rakyat atau pengusaha seperti saya. Semua rekayasa,” keluhnya.
Dia berharap agar nasib buruk yang menimpa warga Yunani saat ini tidak menimpa penduduk Indonesia yang dia kenal juga sebagai pekerja keras. “Di Yunani tidak ada pilihan selain menjadi miskin. Di Indonesia masih ada harapan,” ujarnya.(rokhim/jpnn)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.