Hakim Ragu Raka Sakit Jiwa

TANGERANG, SNOL Sidang perkara narkoba yang melibatkan anak angkat Wakil Gubernur Banten H Rano Karno, Raka Widiatama (21), kembali digelar di Pengadilan Negeri Tangerang, kemarin (7/8). Pada sidang tersebut, Majelis Hakim yang dipimpin oleh Dehel K Sandan meragukan penyakit bipolar, atau gangguan kejiwaan terdakwa dan teman wanitanya Karina Aditya (21).
Dalam sidang yang beragendakan pemeriksaan terdakwa tersebut, Dehel juga tak habis menceramahi kedua terdakwa. “Kamu ini anak wakil gubernur, kok tidak menjaga reputasi orang tua? Apalagi kamu sudah kuliah, masak mengonsumsi narkoba? Kamu ini orang elit, anak pejabat negara, kok bisa memakai narkoba? Tapi ya sudahlah, saya tak tahu bagaimana hubungan anda dengan orang tua,” ucapnya.
Tidak sampai di situ, Dehel terus mencecar Raka dengan sejumlah pertanyaan, yang terkadang sulit dijawab Raka. “Katanya anda sakit Bipolar, tapi anda ingat semua peristiwa. Jangan-jangan anda hanya mengarang saja. Saya meragukan penyakit anda kalau begini,” singgung Dahel lagi.
Mendapat pernyataan seperti itu, Raka hanya tertunduk malu. Menurut Dehel, apa yang disampaikan Raka selama persidangan tidak masuk akal dan terkesan berbohong. Karena itu Dehel berulang kali meminta Raka agar memberikan keterangan yang benar. “Pesan ekstasi sampai ke Malaysia? Kamu ini anak orang kaya, harga Rp 1 juta per butir juga mampu,” ucap Dehel.
Dehel semakin kesal ketika Raka mengaku tidak tahu alamat tempat hiburan Stadium, yang menjadi tempat nongkrong Raka bersama Karina, mengonsumsi ekstasi. “Kamu ini orang Betawi (Jakarta) masak tidak tahu alamatnya. Saya khawatir anda hanya mengarang-ngarang semua keterangan ini,” ucapnya.
Dalam keterangannya, Raka mengaku bahwa dirinya kenal dengan sindikat narkoba internasional dari Malaysia, bernama Jimos, ketika berlibur bersama keluarganya akhir tahun lalu. “Waktu libur bersama papi (Rano Karno), mami, dan istri ke Malaysia. Pas semua lagi belanja, saya pergi ke restoran dan bertemu Jimos. Lalu tukaran nomor telepon,” katanya.
Setelah perkenalan singkat itu, kata Raka, dirinya sering berkomunikasi dengan Jimos. Keduanya banyak berbicara mengenai masalah narkoba. “Saya ditawari ekstasi sebanyak 50 butir. Tapi saya tolak, karena terlalu banyak. Saya hanya pesan lima butir untuk dipakai sendiri,” ucapnya.
Mengenai KTP palsu yang digunakan Raka saat memesan ekstasi, adalah atas arahan dari Jimos. “Dia datang ke Indonesia dan membuatkan saya KTP palsu dengan nama Irwan Imam. Dia hanya minta foto saya,” ucapnya.
Menurut Raka, digunakannya KTP palsu adalah guna mengelabui bahwa dirinya adalah putra wakil gubernur Banten. Begitu juga dengan alamat paket ekstasi itu dikirim, Raka sengaja menggunakan alamat Karina, teman wanitanya, di Bintaro Sektor V. “Takut ketahuan papi dan mami, jadi gunakan alamat Karina,” ujarnya.
Pada kesempatan itu, Raka juga mengungkapkan bahwa dirinya menggunakan ekstasi sejak tahun 2008, ketika masih SMA kelas I. Bahkan Raka pula yang menjerumuskan Karina menjadi pecandu ekstasi sejak tahun 2010.
Menurut Raka, hampir setiap hari dirinya minum ekstasi. Karena tanpa pil setan itu, dirinya menjadi gelisah dan tak bisa konsentrasi dengan baik di pekerjaannya sebagai Direktur Utama Karno’s Film di Cibubur, Jakarta Timur. “Tidak fokus kalau tak minum,” ujarnya.
Seperti diketahui, Raka dan Karina ditangkap petugas serse Polrestro Bandara Soekarno – Hatta, 6 Maret 2012, di Bintaro Sektor V. Keduanya ditangkap karena menerima paket berisi lima butir pil ekstasi. Atas kasus tersebut keduanya kini dimejahijaukan, dengan ancaman hukuman 15 tahun penjara sesuai UU No 35/2009 tentang Narkotika. (pane/deddy)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.