Ridwan Kamil, Arsitek Penggerak Kultur Bersepeda di Bandung

Ridwan Kamil merancang sejumlah program untuk membuat warga Bandung berpaling ke sepeda sebagai alat transportasi sehari-hari. Solo dan Jakarta sudah tertarik meniru bike sharing.
Gerimis masih tersisa di langit Bandung setelah hujan deras mengguyur ibu kota Jawa Barat itu pada Minggu (12/8) lalu. Belasan cyclist terlihat menerabas hujan rintik itu memasuki gerbang Balai Kota.
Mereka adalah para wisatawan dan anggota Bike.Bdg yang baru saja melakukan bike tour. Mereka menjadikan Kantor Wali Kota Bandung Dada Rosada sebagai titik terakhir tur, sekaligus melakukan buka bersama sebelum membubarkan diri.
Rombongan tur itu dipimpin Ridwan Kamil, salah seorang arsitek terkemuka tanah air sekaligus pemrakarsa lahirnya Bike.Bdg. “Posisi saya hanya ‘provokator’ untuk membangkitkan budaya bersepeda di Bandung ini,” urai lelaki kelahiran 4 Oktober 1971 itu.” “Selama ini orang sering mengeluh, namun tidak ada langkah konkret. Sebagai bagian dari warga, inilah yang bisa kami lakukan,” sambung arsitek yang telah melahirkan puluhan karya yang memperoleh apresiasi luas itu.
Berkaca dari pengalamannya melanglang ke Eropa maupun Amerika, lelaki yang biasa disapa Emil itu memandang sepeda sebagai solusi konkret untuk mengatasi kemacetan di Kota Bandung. Sebab, pemerintah kota tak kunjung mampu menyelesaikan masalah transportasi.
Menurut lulusan University of California, Berkeley, Amerika Serikat, yang dikenal sangat peduli pada persoalan tata kota itu, masyarakat tak mungkin mengupayakan pembangunan mass rapid ransportation (MRT) yang menjadi impian di kota-kota besar di Indonesia selama ini. Karena itulah, sepeda menjadi pilihan paling masuk akal.
Karena tidak mungkin mewujudkan semuanya sendiri, Emil melalui bendera Bandung Creative City Forum (BCCF) membentuk Bike.Bdg pada 11 November 2011. Embrionya berasal dari sejumlah komunitas pencinta sepeda di Bandung.
Bersama komunitas yang belum berumur setahun itu, lelaki yang mengaku biasa bersepeda dari rumah ke kantornya tersebut merancang sejumlah program yang bertujuan membuat warga Bandung berpaling ke sepeda sebagai alat transportasi sehari-hari. Paling tidak, untuk penggunaan dalam jarak dekat (short distance ride).
Salah satunya bike tour yang digelar perdana pada 12 Agustus lalu. Saat itu tur yang diikuti 10 wisatawan tersebut mengambil tema Arsitektur dan Sejarah. Sesuai dengan tema itu, rute yang dipilih pun menyinggahi sejumlah bangunan bersejarah di Bandung.
Misalnya di kawasan Braga yang dikenal sebagai kawasan Kota Tua di kota itu. Lalu, GOR Saparua, SMA Negeri 3 Bandung, dan Jalan Asia-Afrika. Emil dan beberapa anggota Bike.Bdg menjadi pemandu tur wisata itu.
“Tur ini juga menjadi alternatif wisata di Bandung. Sebab, setelah saya riset, tempat-tempat wisata di Bandung radiusnya hanya sekitar 15 kilometer. Tidak terlalu jauh untuk ditempuh dengan sepeda,” terang dosen Jurusan Arsitektur Institut Teknologi Bandung (ITB) yang merancang Masjid Al Irsyad berbentuk kubus di Bandung itu.
Pria yang menjadi motor organisasi ekonomi kreatif, Bandung Creative City Forum, itu menambahkan, promosi untuk bike tour dilakukan via media sosial dan website. Peserta hanya dibatasi sepuluh orang agar lebih fokus dan tidak terlalu susah mengawasi saat berkonvoi.
Selanjutnya, tur itu digelar setiap sore ketika weekend (Jumat, Sabtu, Minggu). Setiap peserta yang ingin mengikuti tur dikenai tarif Rp 75 ribu. Henri Vallen yang berasal dari Belanda adalah salah satu peserta tur perdana itu.
Mahasiswa kedokteran Nijmegen Radbound Universiteit yang tengah memperdalam ilmu di RS Hasan Sadikin, Bandung, itu mengaku tertarik mengikuti tur setelah mendapatkan informasi dari kawannya yang juga anggota Bike.Bdg. “Di Belanda kami biasa bersepeda. Senang sekali di Indonesia juga bisa bersepeda dan mengikuti tur wisata seperti ini. Orang Indonesia harus lebih sering bersepeda, karena ini sehat dan menyenangkan,” ujar pemuda 25 tahun itu.
Program lain yang tengah dijalankan untuk menumbuhkan budaya bersepeda warga Bandung adalah bike sharing yang resmi diluncurkan pada 3 Juni lalu. Sejumlah shelter di jalan-jalan protokol Bandung sudah dibangun untuk mendukung program ini.
Untuk sementara ini baru dikonsentrasikan di kawasan Dago dan Buah Batu. Sekarang sudah ada sepuluh shelter, namun baru lima yang dioperasikan. Jam operasional shelter mulai pulul 06.00 sampai 18.00.
Konsepnya adalah menyewakan sepeda di jalan-jalan padat. Nah, agar tidak repot, penyewa bisa mengembalikan sepeda di shelter yang paling dekat dengan tempat tujuan mereka. Biaya sewanya Rp 3 ribu per jam.
Tidak harus menjadi member untuk menyewa sepeda. Namun, penyewa non-member harus mengembalikan sepeda ke tempat mereka mengambilnya karena kartu identitasnya juga ditinggal di situ. Member-nya sendiri sampai saat ini berjumlah 50 orang, yang kebanyakan mahasiswa. Sepeda yang ada berjumlah 140 buah dengan bermacam-macam jenis. Yaitu, mountain bike (MTB), city bike, dan sepeda listrik.
Emil mengatakan, biaya untuk membangun shelter-shelter itu didapat dari donasi Ikatan Alumni ITB, organisasi tempat dia juga menjadi salah seorang pengurusnya. Untuk pengembangan selanjutnya akan dicarikan dana dari corporate social responsibility (CSR) sejumlah perusahaan. Sedangkan biaya operasional per shelter sekitar Rp 2 juta sebulan untuk membayar operator dan perawatan sepeda.
Shitta Natashia, PR Bike.Bdg menuturkan, saat ini pihaknya bernegosiasi dengan sejumlah perusahaan yang ingin mengalokasikan dana CSR untuk bike sharing. Dia menargetkan, tahun ini setidaknya 20 shelter yang berlokasi di sekitar kawasan kampus di Bandung sudah beroperasi.
Lalu, bagaimana menjaga agar sepeda-sepeda yang disewakan itu tidak dicuri? “Selama ini belum ada kabar kehilangan sih. Sebelum meminjam, juga kami klarifikasi dulu kebenaran identitasnya. Nanti, kalau sudah lebih maju, bisa saja sepedanya dipasangi GPS (global positioning system),” ujar perempuan yang juga anggota komunitas Bandung Cycle Chic itu.
Meski belum mampu menjangkau semua jalan di Bandung, Shitta mengatakan, warga Kota Kembang itu mulai aware dengan bike sharing. Itu tampak dari beragamnya kalangan penyewa sepeda, yang bukan hanya dari kalangan mahasiswa.
Semangat bersepeda itu pun ingin ditularkan ke kota-kota lain. Harapannya, paling tidak kota-kota besar di Indonesia, seperti Jakarta, Surabaya, dan Medan, juga mengadopsi program serupa.
Namun, saat ini baru Solo dan Jakarta yang sudah berkomunikasi dengan Bike.Bdg untuk mewujudkan ide tersebut di kota masing-masing. Di Kota Bengawan, pengelolaannya akan diserahkan kepada komunitas sepeda setempat. Namun, pengelolaan di Jakarta akan didampingi Emil dan Bike.Bdg. Ini mengingat kompleksitas masalah transportasi dan keruwetan lalu lintas di Jakarta yang intensitasnya jauh melebihi kota-kota lain.
Perwujudan proyek itu di Solo dan Jakarta dirintis bulan depan. Targetnya, awal tahun depan bike sharing sudah muncul di kedua kota tersebut. Baru kemudian Emil menggarap kota-kota lain.
Ide memasyarakatkan sepeda sebenarnya bukan virus pertama yang dicoba ditularkan oleh Ridwan Kamil. Sebelumnya, dia sukses mengembangkan Indonesia Berkebun dari Bandung hingga ke sejumlah kota di tanah air. (m dinarsa*/c2/ttg/jpnn)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.