56 Imigran Gelap Dievakuasi, Satu Tewas Digigit Hiu 94 Hilang

CILEGON, SNOL Sebanyak 56 imigran asal Afghanistan yang menjadi korban kapal tenggelam di Samudra Hindia dievakuasi ke Pelabuhan Indah Kiat, Merak, Jumat (31/8). Para imigran itu dievakuasi tim gabungan dari Polair Polda Banten, Mabes Polri, serta Badan SAR Nasional (Basarnas) dengan kapal Enggano dan Basarnas.
Satu di antara 56 korban itu tewas karena digigit ikan hiu. Setelah berada di Pelabuhan Indah Kiat, sekitar pukul 10.30 sebanyak 45 korban dibawa ke Hotel Ferry dan 11 lainnya dilarikan ke Rumah Sakit Krakatau Medika, Kota Cilegon.
Berdasarkan informasi dari Direktorat Polair Polda Benten, evakuasi korban kapal tersebut menggunakan 2 kapal, yakni Kapal RB 201 milik Basarnas dan KP Enggano 5015 milik Ditpolair Polda Banten.
Sebelumnya, 56 imigran gelap yang mencari suaka ke Christmas Island Australia ini berhasil dievakuasi tim SAR Australia. Akan tetapi karena evakuasinya berada di wilayah perairan RI, maka pemerintah Australia menyerahkan para imigran tersebut ke Basarnas.
Kepala Basarnas I Ketut Parwa mengatakan, jumlah keseluruhan imigran yang berada di kapal yang hancur adalah 150 orang. Baru dievakuasi sebanyak 56, sementara sisanya masih dalam pencarian. “Sebanyak 94 imigran masih dalam pencarian, dan kita sudah siap dibantu dari Polair dan angkatan laut untuk melakukan pencarian kembali,” ujarnya.
Ketut menjelaskan, berdasarkan PP 36 sesuai dengan hal itu peraturan Badan SAR Nasional bahwa pelaksanaan batas pencarian di tim SAR itu adalah 1 minggu semenjak peristiwa. Tapi itu tidak menutup kemungkinan jika memang masih ada tanda-tanda kehidupan pihaknya akan melakukan operasi kembali. “Operasi ini tidak sebatas hanya satu minggu, kami bisa melakukannya lebih dari itu jika diperlukan,” ujarnya.
Menurut Ketut, pihaknya sudah berkordinasi dengan pihak Internasional yang menghimbau jika menemukan obyek di sekitar jalur lintasan agar membantunya untuk dievakuasi. Ketut juga berharap ke-94 imigran itu masih hidup sehingga proses evakuasi berjalan lancar.
Mulanya para imigran menolak untuk dievakuasi, namun setelah berdialog dengan petugas gabungan yang terdiri dari Polair Polda Banten, Basarnas dan Pangkalan Angkatan Laut Banten, akhirnya mereka mau dievakuasi. Dari 56 Imigran yang dievakuasi, satu orang meninggal di tengah laut, sementara 10 imigran lainnya dirawat di RS Krakatau Medika Cilegon, dan sisanya ditampung di Hotel Fery Merak.
Berdasarkan data Basarnas, dari 56 imigran yang berhasil diselamatkan oleh sejumlah kapal Internasional yang berlayar di Samudera Hindia diantaranya, APL Bahrain 15 orang yang terdiri dari dua wanita dan 13 pria pada titik kordinat 0620-306, AS Carelia empat orang satu orang wanita dan tiga pria, sedangkan satu orang meninggal dunia pada titik kordinat yang sama, Main Land Wall Ship 44 Orang terdiri dari satu wanita dan sisanya pria pada titik kordinat 061954-10538117, Daqing Kia satu orang pria 0618047-10565963, Gwendolen London satu orang pria pada titik kordinat 0618423-10536219.
Kapolda Banten Brigjen Eko Hadi Sutedjo di sela-sela evakuasi mengatakan, para imigran diangkut menggunakan kapal yang tidak layak dan berukuran kecil sehingga mudah hancur ketika diterjang gelombang tinggi. “Kapal yang digunakan imigran over kapasitas penumpang. Ditambah cuaca yang buruk hingga terhempas oleh gelombang, dan semua penumpangnya tercebur ke laut. Satu orang meninggal,” kata Kapolda.
Lebih lanjut, Eko menjelaskan, para imigran tersebut berangkat dari Jakarta. “Mereka ada yang menginap di Bogor juga. Kemudian menggunakan beberapa kapal kecil lalu berkumpul di kapal besar. Kita masih melakukan penyelidikan dari mana arah keberangkatan mereka apakah dari Jakarta langsung atau dari perairan Teluk Naga Tangerang. Kita masih dalami,” katanya.
Sementara itu, Direktorat Polair Polda Banten, Kombes Budhi Hermawan mengatakan, sebanyak 56 dari total 150 pencari suaka asal Timur Tengah yang kapalnya tenggelam dihantam ombak besar di perairan Pulau Panaitan, Pandegang, berhasil dievakuasi tim gabungan Basarnas dan Ditpolair Polda Banten.
Salah satu dari awak Kapal Basarnas RB 201, Fazmi Aslam mengungkapkan, pada saat imigran berada di sejumlah kapal milik asing, para imigran tersebut enggan untuk dievakuasi oleh  Basarnas maupun kapal milik Polair. “Mereka enggan naik ke kapal Basarnas maupun Polair,” terangnya. “Setelah diberi pengertian, mereka baru mau naik ke kapal. Itu pun dilakukan dengan sedikit memaksa,” tambahnya.
Sementara itu, salah seorang korban selamat, Rajab Sholihi, mengaku berangkat dari Bogor dan berlayar dengan imigran lainnya menuju Australia, tepatnya Pulau Christmas. Meski sadar penuh risiko, menurut Rajab, perjalanan menuju Pulau Christmas tidaklah menakutkan. Meninggal di negara tetangga lebih baik daripada di Afghanistan.“Saya lebih baik mati di sini daripada harus mati di tangan Taliban,” katanya.
Korban lainnya, Muhammad Sayid, menceritakan, kapal yang ditumpanginya secara mendadak dihantam ombak besar sampai pecah dan hancur. Akibatnya, para imigran tersebut terombang-ambing di laut tiga hari. “Kejadiannya malam,” ujarnya. (cr-1/deddy/bnn/jpnn)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.