Kak Seto: Harusnya Pidato SBY Lebih Segar

CIPUTAT,SNOL Pengamat pendidikan anak Seto Mulyadi memaklumi peristiwa pada puncak peringatan Hari Anak Nasional (HAN) Rabu (28/8) lalu, saat Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menegur beberapa siswa yang tertidur ketika dirinya tengah berpidato. Menurut Kak Seto, hal itu terjadi bukan karena kesalahan Presiden SBY. Tetapi menurutnya, anak-anak sangat wajar mengantuk karena faktor isi pidato.
“Harusnya staf kepresidenan bisa membuat materi pidato yang lebih segar meski kenyataannya sulit berbicara pada dua generasi yang berbeda dengan sekaligus,” kata Kak Seto seusai menjadi pembicara dalam sebuah seminar tentang anak yang digelar Universitas Muhammadiyah Jakarta (UMJ), di Ciputat Timur, Tangerang Selatan (Tangsel), Sabtu (1/9).
Buntut dari peristiwa itu, kemudian banyak pendapat mengemuka dari berbagai pihak dan ramai diperbincangkan. Menurut Kak Seto, penilaian dan tanggapan terkait hal ini harus berlandaskan pada situasi riil di lapangan. Baginya, Presiden SBY hanya menegur anak-anak yang tertidur pada saat itu. Namun setelahnya, Presiden nampak terlihat sangat erat dengan anak-anak. Menurutnya, itu menunjukkan bahwa Presiden Republik Indonesia bisa menjadi figur yang sangat dekat dengan anak-anak.
“Harus fair dan lihat secara keseluruhan. Saya selalu hadir di HAN sejak 1986. Pada hari itu pak SBY nampak sangat akrab dibanding dengan presiden-presiden sebelumnya,” kata Kak Seto.
Tidak hanya itu Kak Seto menerangkan semua pihak seperti Pemerintah, Swasta, Orang Tua dan  termasuk media, selama ini dinilai masih kurang dan belum serius dalam memenuhi hak anak-anak yang diatur dalam UU Perlindungan Anak.
Kak Seto mengambil contoh, hak anak dalam bidang hukum, karena saat ini masih banyak kelemahannya. Sudah seharusnya anak-anak yang menjalani hukuman mendapat remisi di tiga hari besar, yaitu pada 17 Agustus HUT Kemerdekaan RI, Hari besar agama.
Selain itu dibidang hukum, Kak Seto menyoroti banyaknya anak-anak yang masih dicampur dan ditahan dengan tahanan orang dewasa.  Kak Seto juga menyarankan kepada Kementrian Hukum dan Ham untuk menambah Lapas khusus bagi anak.
“Saya berharap nama lapas dapat diubah menjadi pusat pemberdayaan anak sehingga anak merasa lebih nyaman dan tidak merasa divonis bawa dirinya bersalah walaupun salah,”ungkap Kak Seto. (irm/bnn)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.