2000 Hektar Lahan Pertanian Puso

TIGARAKSA,SNOL Sekitar 2000 hektar lahan pertanian di Kabupaten Tangerang dilanda puso atau gagal panen. Kemarau panjang menyebabkan lahan pesawahan mengering dan sumber air sulit didapat. Kemungkinan data ini akan terus bertambah jika tidak ada hujan, sementara sumber air dan irigasi debitnya terus menyusut dan mengering.
“Sejauh ini berdasarkan data sementara sudah ada 2000 hektar lahan pertanian yang mengalami puso,” ungkap Jarnaji, Kepala Dinas Pertanian dan Peternakan Kabupaten Tangerang kepada wartawan koran ini, Senin (3/9).
Minimnya air mempengaruhi kebutuhan padi. Selain menyusutnya debit air, puso juga terjadi akibat adanya  pendangkalan saluran sekunder dan banyak irigasi tersier yang rusak. Air yang tidak naik ke daerah hulu membuat tanaman padi di beberapa kecamatan mengalami kekeringan. Pada masa tanam kedua sejak April hingga September 2012 luas lahan mencapai 30.471 hektar.  Sayangnya sebanyak 2000 hektar mengalami fuso. “Kami berharap padi yang belum terkena fuso bisa diselamatkan, inipun jika ada hujan. Akibat fuso ini belasan ton gabah kering giling hilang,” ungkapnya.
Adapun lokasi lahan pertanian yang terkena puso yakni tanaman padi yang berusia 21 hingga 85 hari dan tersebar di 20 kecamatan. Beberapa diantaranya Balaraja, Sukamulya, Cisauk, Kosambi, Cisoka, Solear, Kresek, Teluknaga, Pakuhaji, Jayanti, Rajeg, Sindangjaya, Tigaraksa dan Cikupa. “Untuk mengatasi ini kami terus melakukan monitoring, mobilisasi pompa dari pemerintah kabupaten 6 unit, provinsi 20 unit dan pusat 6 unit. Mobilisasi dilakukan di lokasi yang terdapat sumber air,” ucapnya.
Disinggung terkait desakan untuk dilakukan hujan buatan, Jarnaji mengaku hal itu bisa saja dilakukan. “Kami akan bahas rencana hujan buatan untuk diusulkan ke pemerintah pusat,” imbuhnya.
Terpisah, Ketua Agroindustri Kabupaten Tangerang Jaini mengatakan, kondisi kekeringan ini memang dikarenakan faktor alam. Untuk itu pemerintah harus memberikan bantuan atau subsidi bagi petani yang terkena fuso. “Selain itu optimalkan penyuluhan pola tanam yang baik, sehingga pada musim kemarau, petani tidak lagi menanam padi,” tegasnya.
Kemarau panjang membuat semakin cemas petani di Kabupaten Tangerang. Ancaman puso atau gagal panen menghantui mereka. Kalangan petani mendesak pemerintah agar memberikan solusi, salah satunya dengan membuat hujan buatan untuk membasahi lahan pesawahan.
Ketua Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI) Kabupaten Tangerang, Budi mengungkapkan kemarau panjang kali ini menjadi persoalan serius bagi petani. Sejumlah sumber air yakni Sungai Cisadane, Cidurian dan Cimanceri mengalami penurunan debit air. “Bahkan di wilayah ujung atau hulu, ada keluhan para petani sudah tidak mendapatkan air. Ini persoalan serius,” katanya kepada wartawan koran ini, Minggu (2/9). (fajar aditya/jarkasih)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.