SMKN 6 Disegel Ahli Waris

SERANG, SOL Puluhan warga yang mengklaim sebagai ahli waris, menyegel pintu ruangan Sekolah Menengah Kejuruan Negeri (SMKN) 6 Kota Serang di Desa Priyai, Kecamatan Kasemen, Kamis (18/10). Kondisi tersebut mengakibatkan proses kegiatan belajar mengajar terganggu.
Sejumlah warga yang mengklaim sebagai ahli waris tersebut sebelumnya menggelar aksi unjuk rasa di halaman sekolah sambil membawa sejumlah bambu untuk menutup semua akses masuk ke ruangan belajar. Siswa/siswi yang tengah belajar tidak bisa berbuat banyak dan memilih keluar untuk menyaksikan aksi itu.

Hingga hingga pukul 11.30 WIB, situasi memanas akibat tidak ada pihak Pemkot maupun sekolah menemui mereka. Sejumlah warga tersebut kemudian merangsek ke dalam sambil membawa bambu dan langsung menutup pintu pintu kelas dengan menggunakan bambu tersebut.

“Sudah tiga tahun kami bersabar menunggu janji Pemkot serang yang akan mengganti lahan milik keluarga kami. Nyatanya hingga saat ini belum ada niatan baik dari Pemkot Serang. Bahkan kami seperti tidak dianggap karena pemkot tidak pernah mengundang kami untuk menyelesaikan persoalan itu,” kata salah seorang ahli waris Oji.

Oji menyatakan, warga pemilik lahan lain sudah berulang kali mencoba menuntut hak kepada Pemkot Serang dengan cara baik-baik. Namun, saat di datangi, Pemkota hanya mengiyakan tanpa merealisasikan ganti rugi tanah.

“Kami sudah beberapa kali mendatangi dinas pendidikan, mereka seolah tidak serius menanggapi tuntutan kami. Maka, sebagai bentuk kekecewaan kami kepada Pemkot serang, kami memilih menyegel pintu-pintu sekolah itu,” ujarnya.

Kepala Desa Masjid Priyai Kota Serang Patih mengatakan,  awalnya memang aksi dicegah oleh pihak desa. Tetapi karena sudah terlalu lama dan nampak tidak ada niatan baik dari Pemkot, kepala sekolah dan Dinas Pendidikan, maka masalah tersebut kembali diserahkan ke warga.

Kepala SMKN 6 Kota Serang Febrianyandi mengaku, sangat terganggu dengan adanya aksi tersebut. “Sebenarnya kalau warga ingin menyelesaikan soal sengketa yang dituduhkan kan bisa dibicarakan dengan baik-baik,” kata Febri. (bagas/eman)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.