Incen, Bayi di Gerobak Tambal Ban yang Hidup meski tanpa Otak

BOKS INCEN2Anda pasti pernah mendengar seseorang mengucapkan kata: Tidak punya otak. Jangan anggap itu kata kiasan. Sebab, memang ada orang yang lahir tanpa otak dan bertahan hidup. Salah satunya ada di Surabaya

NANYWIJAYA
Wartawan Jawa Pos

Seorang bayi mungil tergolek tenang di sebuah ranjang kecil, di ruang perawatan bayi Rumah Sakit Katolik Vincentius A Paulo (RKZ) Surabaya. Tubuhnya yang mungil ditutup selimut tipis berisi udara hangat. Di hidungnya ada slang kecil yang berfungsi untuk memasukkan makanan.
Kecuali kepalanya yang agak besar dan kelopak matanya yang tertarik ke atas, tubuh bayi bernama lengkap Vincentius Rizky Ramadan itu sempurna.

Ketika melihat kepalanya pun, orang pasti menduga Incen, panggilan bayi itu, menderita hidrosefalus. Suatu kondisi di mana cairan otak berlebih dan mendesak tulang kepala bayi yang masih empuk, sehingga kepala membesar hingga seukuran buah semangka.
Dugaan itu tidak salah. Incen memang menderita hidrosefalus. Tetapi, kasus Incen bukan kasus hidrosefalus biasa. Dalam istilah medis, kasus bayi yang diperkirakan berumur 6 bulan itu disebut hydranencephaly. Yakni, kependekan dari kata hydrocephalus (kelebihan cairan otak) dan anencephaly (tanpa otak besar).
Artinya, Incen tidak memiliki otak besar, sehingga kepalanya kosong. Rongga kepala yang kosong tersebut lantas ditempati cairan otak yang seharusnya tidak sebanyak itu.
Makin hari, jumlah cairan otaknya makin banyak, sehingga mendorong tulang kepalanya yang masih empuk untuk membesar. Karena itu, kepala bayi hidrosefalus selalu membesar.
Kasus seperti Incen tersebut terbilang langka karena hanya ada di setiap 10.000 kelahiran. Di negara maju seperti Amerika Serikat dan Eropa, kejadian seperti Incen itu lebih langka. Yakni, satu per 200.000 kelahiran. Sebab, di negara maju, masalah gizi buruk pada ibu hamil atau pengetahuan tentang kehamilan yang sehat sudah bukan problem.
Kasus hydranencephaly terjadi karena otak besar tidak tumbuh. Pertumbuhan otak besar terganggu karena beberapa hal. “Itu bisa karena infeksi TORCH, kekurangan gizi saat dalam kandungan, atau stroke,” jelas Dr dr M. Arifin Parenrengi SpBS yang menangani Incen.
TORCH adalah kependekan toksoplasma, rubela, cytomegalovirus/CMV, dan herpes simplex.
Janin juga bisa kena stroke lho. Penelitian di Amerika Serikat menunjukkan bahwa 38 persen hydranencephaly terjadi karena stroke pada janin saat dalam kandungan; 5 persen karena salah satu kembarannya meninggal saat otak janin dalam pertumbuhan; 11 persen karena pemakaian obat; 7,4 persen karena ibu mengalami infeksi TORCH saat hamil; dan 44 persen tidak diketahui.
Dalam kasus Incen, apa penyebabnya? Itu pertanyaan yang tidak mungkin bisa dijawab. Begitu pula dengan berapa usia Incen sebenarnya. Sebab, tidak ada yang tahu siapa ayah atau ibu Incen. Bayi tersebut dibuang orang tuanya di sebuah gerobak tambal ban di Sidoarjo, pada bulan puasa (Ramadan) lalu. Ketika itu, kondisi kepala Incen sudah lebih besar dari ukuran normal.
Warga yang menemukan bayi malang itu lantas membawanya ke RSUD dr Soetomo Surabaya. Di rumah sakit provinsi tersebut, Incen sempat dirawat selama lebih dari sebulan.
Setelah kondisinya stabil, pihak RSUD mulai bingung karena tidak ada nama atau alamat orang yang bertanggung jawab atas bayi tersebut. Untungnya, dalam situasi kritis seperti itu, ada kelompok ibu muda yang menamakan diri “Bunda Sehati”. Kelompok sosial tersebut memang memfokuskan kegiatan mereka pada bayi-bayi yang kurang beruntung. Sudah ada beberapa bayi di RSUD dr Soetomo Surabaya yang mereka biayai.
Tetapi, kondisi Incen yang saat itu diduga mengalami hidrosefalus agak menyulitkan “Bunda Sehati” untuk mendapat panti asuhan yang bersedia merawatnya.
Setelah bertanya ke sana-kemari dan dengan dibantu dr Arifin, kelompok tersebut menemukan panti asuhan Katolik “Bakti Luhur” yang berlokasi di kompleks perumahan Wisma Tropodo, Surabaya. Panti tersebut memang mengkhususkan diri pada anak-anak berkebutuhan khusus, tanpa memandang perbedaan agama dan suku bangsa.
Karena misinya memang membantu bayi malang, “Bunda Sehati” pun mengiyakan permintaan Christine. Sama sekali tak terbayang oleh mereka saat itu bahwa bayi yang baru saja mereka bawa dari RSUD dr Soetomo tersebut harus menjalani beberapa kali operasi.
Beberapa hari setiba di Bakti Luhur, bayi Incen kejang, sehingga harus dilarikan ke rumah sakit. Karena panti tersebut memiliki kerja sama dengan RS Vincentius A Paulo (RKZ), ke rumah sakit itulah Incen dibawa.
Kejang tersebut menunjukkan bahwa cairan otak di kepala Incen sudah sangat tinggi. Untuk mengatasi itu, dokter harus memasang slang khusus yang berfungsi mengalirkan kelebihan cairan otak ke perut.
Sebelum operasi pemasangan slang, Incen tentu harus lebih dulu di-CT scan. Saat itulah diketahui bahwa otak besar Incen sama sekali tidak ada. Dia hanya hidup dengan otak kecil dan batang otak.
Jadi, kalau kita pernah mendengar orang yang sedang marah mengatakan, “Tidak punya otak”, itu bukan kiasan. Ternyata, memang benar-benar ada orang yang tidak memiliki otak.
Sebagaimana diketahui, kepala kita berisi otak besar dan otak kecil. Keduanya dihubungkan oleh batang otak. Otak besar sendiri terbagi dua: otak kiri dan otak kanan. Masing-masing bagian otak tersebut memiliki fungsi yang berbeda.
Seseorang yang tidak memiliki otak besar bisa bertahan hidup. Sampai kapan, tentu hanya Tuhan yang tahu. Tetapi, dengan penanganan medis yang benar, bayi yang lahir tanpa otak besar bisa bertahan hingga dewasa.
Anak-anak tanpa otak besar, menurut Dr dr Arifin Parenrengi SpBS yang menangani Incen, “Bisa bertahan hidup karena otak besar kan hanya berfungsi untuk berpikir, psikomotorik, dan emosi. Sedangkan yang mengendalikan pernapasan, pencernaan, dan organ-organ penting kita adalah otak kecil dan batang otak. Selama batang otak dan otak kecil masih berfungsi, selama itu pula seseorang bisa bertahan hidup. Kecuali ada gangguan fungsi organ atau infeksi.”
Dari hasil CT-scan yang ditunjukkan kepada Jawa Pos, terlihat bahwa Incen sama sekali tak memiliki otak besar. Tetapi, kok dia bisa menggerakkan kedua tangan dan kakinya seperti halnya bayi normal? “Itu hanya refleks otot,” jelasnya.
Karena refleksnya masih berfungsi, sampai saat ini Incen masih bisa merespons sentuhan. Dia akan berhenti menangis dan tidak lagi meronta ketika tangan, punggung, atau kepalanya dielus-elus dengan lembut.
Selain itu, dia bisa mendengar. Buktinya, kalau namanya disebut, bola matanya yang juling akan berputar-putar, seakan mencari arah suara yang memanggilnya.
Dia juga bisa lho menggerak-gerakkan bibir serta lidahnya seakan sedang mengecap sesuatu saat menjelang waktu minum tiba.
Menurut Lastri, perawat yang menanganinya di RKZ, sesekali Incen bisa diberi makan atau minum dengan sendok. Tetapi, karena dengan cara tersebut dia tak bisa makan dan minum dalam jumlah cukup dan kadang-kadang terhenti karena muntah, makan dan minumnya dimasukkan melalui sonde (slang yang dipasang lewat hidung, menuju ke jalan makan).
Karena makan dan minumnya cukup, Incen juga buang air besar dan kecil sebagaimana bayi lain yang lahir normal.
Selain merespons sentuhan dan panggilan, Incen bisa menangis ketika kesakitan. Tangisnya relatif kuat dan keras. Itu menunjukkan bahwa bayi tanpa otak besar juga bisa merasakan nyeri dan sakit. Sebab, sensor rasa tersebut ada di otak kecil. (jpnn)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.