Trombosit Diambil, Darahnya Dimasukkan Lagi

F-BUS DONOR DI THAILAND-MARISZKA FOR JP1Palang Merah Thailand, Bukan Sekadar Tempat Donor Darah (2-Habis)

Perbedaan paling mencolok antara PMI dan Palang Merah Thailand ada pada kemewahan fasilitas yang diberikan kepada donor, baik di Bangkok maupun di daerah-daerah. Padahal, dukungan anggaran dari pemerintah tidak banyak. Bagaimana Palang Merah Thailand mendapat sisanya?

TITIKANDRIYANI
Thailand

Seperti yang saya sebutkan di bagian pertama tulisan ini, berkunjung ke Palang Merah Thailand (PMT) benar-benar merupakan pengalaman menakjubkan. Padahal, yang saya kunjungi hanya satu unit, yakni blood center (unit pengambilan dan pengelolaan darah). Itu pun hanya yang di Bangkok dan hanya beberapa jam.
Saya tidak bisa membayangkan, pengalaman dan pelajaran apa yang bisa saya dapatkan dari lembaga itu bila berkesempatan meninjau semua fasilitas yang mereka miliki. Tapi, seandainya saya punya kesempatan itu, rasanya juga tidak banyak bermanfaat bagi Palang Merah Indonesia (PMI). Sebab, maksimal yang bisa saya lakukan adalah menuliskan pengalaman saya di koran ini.
Karena itu, selama berada di National Blood Center (NBC) Palang Merah Thailand itu, saya berharap suatu hari pengurus pusat PMI bisa datang dan belajar di situ. Sangat banyak yang bisa dipelajari dari PMT.
Ketika mengunjungi NBC, saya dan rombongan dari Rotary Club Surabaya Jembatan Merah dan Frismed Hoslab Indonesia berkesempatan meninjau semua fasilitas yang dimiliki lembaga sosial yang berkantor pusat di Henry Dunant Road, Bangkok, itu.
Mula-mula kami mendapat penjelasan tentang banyaknya darah yang bisa dikumpulkan PMT melalui NBC dan blood center-blood center nya di 12 provinsi di seluruh negeri berpenduduk 77 juta jiwa tersebut. Presentasi diberikan deputi direkturnya, Tasanee Sakuldamrongpanich.
Yang menarik dari Tasanee, dia bukan seorang dokter. Dia juga bukan pengusaha. Perempuan yang bekerja di PMT sejak lulus kuliah itu adalah sarjana teknologi kedokteran. Tapi, jiwa bisnisnya luar biasa. Dan itu sangat terlihat dari cara dia mengelola NBC.
Tampaknya, “jiwa bisnis” merupakan salah satu faktor yang dinilai dari seorang staf PMT sebelum dipilih untuk menduduki jabatan puncak. Kalau tidak, tak mungkin PMT bisa berkembang pesat dan mampu menghidupi dirinya sendiri. “Dari pemerintah, kami juga dapat anggaran. Tapi, itu tidak banyak. Hanya cukup untuk kebutuhan-kebutuhan dasar seperti membayar pegawai dan operasional yang rutin,” jelas Tasanee.
Lantas, dari mana mereka mendapatkan sisanya? “Dari sumbangan perusahaan-perusahaan, hasil penjualan serum-serum, reagent, dan dari efisiensi,” jelas Tasanee.
Jumlah sumbangan yang didapat PMT dari perusahaan dan institusi di dalam maupun luar negeri serta perorangan sangat banyak. Bentuknya juga bermacam-macam. Ada yang berbentuk uang, ada pula yang berbentuk mobil, mesin-mesin pengolah komponen darah, gedung, bahkan bus-bus raksasa untuk pengambilan darah.
Satu demi satu fasilitas itu ditunjukkan Tasanee kepada kami. Dimulai dari lantai dasar atau lobi gedung NBC yang saya ceritakan kemarin. Selain ruang-ruang untuk memeriksa kelayakan calon donor, di lantai tersebut –tepatnya di kiri lobi– ada sebuah ruangan kaca yang sangat steril. Tak sembarang orang boleh masuk. Kami pun hanya bisa melihatnya dari balik kaca.
Di situ, berjajar ranjang-ranjang untuk para donor yang diambil darahnya. Masing-masing ranjang dilengkapi TV plasma yang digantung tepat di atas kaki ranjang. Dengan begitu, para donor bisa menyumbangkan darahnya sambil menonton program TV kesukaan mereka. Fasilitas seperti itu pasti tak ada di Indonesia.
Yang membuat saya agak heran dengan ruangan tersebut, di samping setiap ranjang terdapat mesin yang mirip mesin dialisis (pencuci darah). Darah yang keluar dari lengan donor dimasukkan dan diputar di mesin tersebut. Sepintas, prosesnya mirip orang cuci darah.
Apa fungsi mesin itu? “Mesin itu untuk mengambil trombosit dari donor. Jadi, darah donor tidak diambil semua seperti pada donor biasa, melainkan hanya diambil trombositnya. Sisanya dikembalikan lagi ke tubuh donor,” jelas Tasanee. Luar biasa!
Pengambilan trombosit secara langsung itu lebih lama daripada pengambilan whole blood (darah utuh, seperti yang biasa kita lihat di PMI). Karena itu, donor dimanjakan dengan TV yang acaranya bisa diatur sendiri oleh mereka melalui remote di samping ranjang.
Jika dibanding harus memisahkannya di mesin centrifuge –seperti yang disumbangkan Rotary Club Surabaya Jembatan Merah ke Unit Transfusi Darah PMI Surabaya–, pemisahan langsung seperti itu jauh lebih cepat. Sebab, pemisahan dengan mesin butuh waktu sekitar enam jam. Sementara itu, yang langsung seperti yang saya lihat tersebut hanya butuh waktu sekitar dua jam. Sebelum memiliki mesin pemisah langsung, NBC juga punya mesin centrifuge. Jumlahnya sekitar 20 unit, masing-masing berkapasitas 12 bags darah. Sampai kini, mesin-mesin itu masih difungsikan.
Bagaimana ruangan bagi donor whole blood? Meski tanpa TV, ruangan itu cukup mewah dan steril. Kalau boleh saya gambarkan, ruangan tersebut mirip ruang rawat inap VIP di rumah sakit.
Seusai mendonorkan darahnya, para donor bisa naik ke lantai 2 dan memilih menu makan siang sendiri. Ruangan makan itu mirip restoran. Petugas yang melayani para donor di ruangan tersebut adalah para sukarelawan, sama dengan yang melayani pengisian formulir. Dari lantai 2, kami naik ke lantai 4. Di lantai tersebut, segalanya serbasteril karena itu adalah lantai tempat darah-darah para donor diperiksa dan akhirnya disimpan sebelum didistribusikan.
Saking sterilnya, kami diharuskan menukar alas kaki dengan sandal-sandal steril yang sudah disediakan. Di dua lantai itulah nasib darah donor dan calon resipien (penerima)-nya ditentukan. Sebab, di situ sampel darah disaring berkali-kali untuk dilihat apakah darah-darah itu bebas dari virus hepatitis, HIV, maupun sifilis. “Ini bagian terpenting. Sedikit kesalahan di bagian ini bisa menghancurkan hidup seseorang,” tegas Tasanee.
Untuk seluruh Thailand, pusat pemeriksaan darah berada di ruangan itu. Di beberapa provinsi ada juga lab pemeriksaan seperti itu, tapi tidak selengkap yang di Bangkok tersebut. Sebab, blood center yang belum dilengkapi lab seperti itu wajib mengirimkan contoh darah donor ke Bangkok. Pengiriman dilakukan dengan menggunakan kotak-kotak khusus yang mirip dengan kotak untuk mengangkut organ transplantasi. (*/jpnn)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.