Cabe Rawit di Tangerang Makin ‘Pedas’

TANGERANG, SNOL Sudah sepekan terakhir harga cabe rawit di pasar tradisional di Tangerang semakin ‘pedas’.Saking tingginya harga, sejumlah pedagang enggan menjual cabe rawit karena takut rugi.

Di pasar Kreo, Ciledug misalnya, harga cabai rawit sudah mencapai Rp 50 ribu per kilo meningkat tinggi dari harga awal yang hanya Rp 20 ribu per kilonya.

“Setelah kemarin harga bawang mulai turun, tiba-tiba harga cabai rawit merah yang naik. Pusing saya. Dari induk sudah Rp 45 ribu per kilo berapa harus saya jual kepada langganan,” keluh Naimah (38), salah satu pedagang.

Meski tetap menjual cabe rawit, jumlahnya dia kurangi karena khawatir rugi. “Kalau cabai yang naik, kerasa banget dampaknya. Karena harganya tinggi membuat yang beli jarang, sehingga saya ngga berani menyetok terlalu banyak karena cabai cepat membusuk. Beda sama bawang,” ujarnya.

Cabai keriting atau cabai merah besar harga cenderung normal. “Yang naik sih cuma cabai merah keriting. Cabai keriting dan cabai lombok masih normal Rp 20-25 ribu per kilonya,” paparnya.

Ahmad Wahyudi (50) yang sehari-harinya berjualan sayuran di kawasan Pasar Anyar mengaku pusing dengan kenaikan bumbu dapur yang terus menerus.

“Haduh, saya pusing mbak. Harga bawang aja belum stabil banget, sekarang harga cabai rawit ikutan naik. Rugi terus jadinya,” ungkapnya.

Bahkan, saking mahalnya, Wahyu sempat tak berjualan cabai selama 2 hari. “Pas kemaren harga sempet sampai Rp 60 ribu per kilo, saya sempet tidak jualan 2 hari. Modalnya gak ada. Jadi yang saya jual hanya cabai keriting, rawit hijau dan cabai lombok,” tambahnya.

Akibat kenaikan harga cabai rawit tersebut, Wahyu mengaku mengalami penurunan omset hingga 50%. “Biasanya sehari bisa jual sampai 25 kg, sekarang mah paling cm 10 kg. Banyak yang tidak mau beli,” keluhnya.

Martin (35), salah seorang pedagang besar cabai rawit yang berada di pasar induk Tanah Tinggi mengatakan kenaikan harga cabai rawit yang cukup siginifikan ini akibat terhambatnya pasokan dari berbagai daerah akibat cuaca yang tidak menentu.

“Kalau cabai kan sifatnya cepet busuk. Jadi mesti ketika sampai harus langsung jual. Nah, sedangkan seka-rang, stok menipis. Soalnya, pasokan dari berbagai daerah seperti Jawa Tengah dan Jawa Barat masih terhambat cuaca buruk,” ungkapnya. (mg5/hendra)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.