Pembatasan Dana Kampanye Kurangi Rivalitas Tak Sehat

JAKARTA,SNOL Tidak diaturnya besaran dana kampanye dalam pemilihan kepala daerah terbukti menimbulkan berbagai konflik. Seperti korupsi, praktik politik uang dan berbagai macam praktek kecurangan lainnya.

Koordinator Nasional Jaringan Pendidikan Pemilih untuk Rakyat (JPPR) M. Afifuddin menjelaskan, pembatasan dana kampanye bagi calon kepala daerah menjadi salah satu alasan untuk mengurangi bahkan meniadakan berbagai praktik kecurangan.

Pembatasan juga diyakini mampu mengurangi rivalitas tidak sehat antar kandidat. “Semestinya penggunaan dana kampanye dibatasi. Jika tidak, maka rivalitas antar pasangan calon akan lebih dipengaruhi oleh faktor uang. Mau tidak mau, kita harus akui bahwa itu adalah praktik di lapangannya,” katanya dalam diskusi bertema ‘Membatasi Belanja Kampanye, Mencegah Korupsi di restoran Bakoel Koffie, Cikini Jakarta, Minggu (2/6).

Menurut Afifuddin, sejak tahun 2005, pihaknya melakukan pemantauan terhadap ratusan pilkada yang digelar. JPPR menemukan, salah satu hal yang masih menjadi perdebatan ialah fokus pantauan soal money politic.

“Masih banyak alasan-alasan yang dilakukan oleh tim sukses. Misalnya kemudian yang membagikan uang tersebut adalah orang yang tidak terdaftar sebagai tim sukses, sehingga kemudian mau ditindaklanjuti itu menjadi agak susah,” ujarnya.

Afifuddin mencontohkan, dalam ajang pilkada di suatu daerah pada 2012 lalu, tim sukses satu pasangan calon mendata seluruh warga meskipun tidak semuanya terdaftar sebagai pemilih. Menurutnya, apa yang dilakukan oleh tim sukses seperti itu sudah menjadi fenomena di lapangan, sehingga praktik-praktik politik uang dianggap hal lumrah.

“Pembatasan biaya kampanye menurut saya hanya bagian kecil dari bagaimana kita melakukan pilkada yang murah dan efisien. Karena, kalau melihat praktiknya, seperti membeli tiket masuk partai itu luar biasa dilakukan oleh kandidat. Belum lagi pada proses koalisi, berapa banyak uang yang mengalir di situ. Untuk itu, memang harus ada undang-undang yang membuat orang merasa takut karena ada efek jeranya,” tegas Afifuddin.(dem/rmol)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.