Jeffrie Geovanie: Parpol Di Dunia Belum Pernah Gelar Konvensi Ala Demokrat

Jeffrie GeovanieSNOL. Terlepas masih ada kritikan mengenai konvensi capres Partai Demokrat. Tapi gebrakan SBY itu patut diacungi jempol. ”Parpol di dunia belum pernah menggelar konvensi capres ala Demokrat. Terobosan ini patut dipuji,’’ kata Board of Advisor Center for Strategic and International Studies (CSIS), Jeffrie Geovanie, kepada Rakyat Merdeka.
Berikut kutipan selengkapnya;
Kenapa Anda bilang konvensi capres ala Demokrat itu  satu-satunya di dunia?
Sebab, setiap tahapannya selalu ada pemberitahuan ke publik. Kemudian mempertimbangkan kecenderungan pilihan masyarakat terhadap kandidat capres.
Ini belum ada dalam sejarah parpol di dunia.Tradisi konvensi di negara lain,  misalnya Amerika Serikat, hanya tertutup di kalangan kader partai. Pemilihnya hanya internal parpol. Sedangkan konvensi capres ala Demokrat ini pemilihnya publik melalui survei.
Apa itu saja perbedaannya?
Tentu tidak. Komite Konvensi Capres Partai Demokrat itu pun diisi tokoh dari luar partai dengan track record yang baik. Dari 17 orang yang bergabung dalam komite, 10 tokoh luar yang berpotensi.
Komite pun mengundang kandidat perempuan dan orang muda yang kapabel menjadi kandidat capres.
Coba lihat, dari partai lain, secara umum masih menjagokan capres generasi tua.
Padahal pemilih mayoritas adalah generasi muda. Sepantasnya menurut saya, proses ini diapresiasi.
Sebagai orang pertama menyarankan parpol gelar konvensi, apa proses ini sudah sesuai dengan ekspektasi Anda?
Sedikit banyak sudah baik terlihat dari diumumkannya tiap tahapan ke publik, sehingga masyarakat terinformasikan dengan baik.
Dari tahapan dan mekanisme konvensi yang sudah diumumkan SBY, apa tanggapan Anda?
SBY sudah menyerahkan tahapan dan mekanisme kepada komite konvensi, tentunya masih dengan memperhatikan pertimbangan ketua majelis tinggi.
Harapan saya, Demokrat terbuka dalam mekanisme dan penetapan hasil akhir dari konvensi ini. Dan harusnya begitu. Kalau tidak, maka akan jadi bumerang. Bisa jadi publik mengira, semua ini hanya akal-akalan belaka untuk mendongkrak elektabilitas partai.
Seperti Golkar ketika mengadakan konvensi, memang Golkar menjadi pemenang pemilu. Tapi capres hasil konvensi saat itu, yakni Wiranto, tidak berhasil menjadi presiden karena konvensi itu sifatnya tertutup.
Jika Demokrat ingin jadi pemenang, maka lebih baik mengusung kandidat yang tinggi elektabilitas berdasar hasil survei. Tiap perwakilan partai di level provinsi nanti mengusung nama pemenang berdasar hasil survei tersebut, sehingga prosesnya pun berdasar preferensi masyarakat pemilih.
Bagaimana Anda melihat komposisi anggota komite konvensi?
Secara umum komposisinya saya nilai baik. Dari 17 orang itu, 10 orang kan independen/non kader Demokrat. Kalau kita lihat, yang independen ini memiliki track record yang baik.
Pihak internal juga perlu ada dalam komposisi tim, supaya ada proses kontrol terhadap nilai-nilai yang menjadi aturan organisasi.
Bagaimana dengan masuk orang-orang senior di komite?
Mungkin asumsinya yang tua ini banyak pengalaman dan pengetahuan serta kredibel. Makanya dianggap mampu untuk menggawangi proses konvensi ini.
Tapi yang paling ditunggu publik adalah independensi dari komite ini dan menjadi pekerjaan berat untuk membuktikan kepada publik bahwa komite ini tidak sekadar akal-akalan saja. Saya yakin anggota independen komite ini berusaha sekuat tenaga untuk menjaga kredibilitas mereka yang masih terjaga hingga saat ini.
Apa menteri ikut konvensi harus non aktif dari jabatannya?
Ini kan masih seleksi kandidat di level partai. Saya kira tidak perlu non-aktif. Toh masih jadi peserta. Asalkan tugasnya tetap dilaksanakan secara baik.
Peserta konvensi dari partai lain, ini bagaimana?
Syarat ikut menjadi konvensi masih digodok. Masih ada kemungkinan bisa direvisi soal syarat menjadi kader Demokrat. Memang ini menyebabkan beberapa nama mempertimbangkan partisipasinya ikut konvensi. (Harian Rakyat Merdeka)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.