Pengrajin Tahu Tempe Mogok Massal

Mulai Hari Ini Hingga Tiga Hari Ke Depan

TANGERANG, SNOL  Jangan kaget jika makanan tahu dan tem­pe menghilang dari pasaran. Soal­nya, mulai hari ini hingga tiga hari ke depan, ribuan pengusaha tahu tempe di Tangerang akan melaku­kan mogok produksi memprotes kenaikan harga kedelai.
Ketua Gabungan Koperasi Tahu dan Tempe (Gakopti) Kota Tangerang, Kasbari mengatakan, saat ini pihaknya tengah melakukan sosialiasi kepada seluruh pro­dusen, pengrajin, maupun peda­gang di Kota Tangerang terkait rencana mogok massal tersebut.
“Ada sekitar 2.000 pengrajin tempe dan tahu yang ada di Kota Tangerang akan mogok produksi dari tanggal 9-11 September. Dan mulai malam ini (tadi malam) akan kita sosialiasikan ke semua pasar di Kota Tangerang untuk berhenti produksi,” kata Kasbari kepada Satelit News, Minggu (8/9).
Kasbari yang juga bendahara Ko­perasi Berkah Amanah Sejahtera (KOPBAS) ini menambahkan, pihaknya akan melakukan sosialia­si keliling ke beberapa pedagang di pasar, dengan mendatangi sejumlah pasar yang ada di Kota Tangerang. “Kami juga sudah berkoordi­nasi dengan Polres setempat. Jika masih ada yang nekat melakukan produksi, nantinya mereka akan berhubungan langsung dengan Pol­res,” tukasnya.
Kasbari mengatakan, aksi mogok produksi kali ini dikar­enakan harga kedelai terus naik setiap harinya. Bahkan harga kedelai untuk saat ini mencapai harga tertinggi yakni Rp 9.500 per kilogram. Sedangkan untuk harga terendah berkisar Rp 9.300 per kilogramnya. “Harga kedelai di atas Rp 8.000 saja sudah sangat berat apalagi jika harga mencapai di atas Rp 9.000,” katanya.
Akibat kenaikan harga tersebut beberapa produsen harus mengu­rangi jatah produksi. Bahkan ada pula yang terpaksa mengurangi karyawan karena tidak sanggup menggaji lagi.
“Produksi saat ini dikurangi hingga 30%, penghasilan sudah pasti menurun, para pekerja juga terpaksa dikurangi. Rugi terus, setiap hari harga kedelai naik. Pusing saya,” ungkapnya.
Meski demikian, diakui Kas­bari, harga tahu tempe di pasaran belum naik. Hal itu dikarenakan jika harga dinaikkan maka daya beli akan menurun. “Harga ba­han pokok terus naik, tapi harga di pasaran masih normal. Kalau dinaikkan, pembeli yang akan menjerit,” bebernya.
Menurut Kasbari, harga stan­dar untuk kedelai maksimal Rp 7.500 per kilo, sehingga masih bisa dijangkau oleh produsen. Serta pedagang juga masih bisa mengambil untung dari hasil pen­jualannya. “Harapan kami harga bisa kembali turun. Pemerintah harus bisa menata kebijakan atas lonjakan harga ini,” ungkapnya.
Kasbari menambahkan apabila aksi mogok produksi selama tiga hari tersebut dari tidak mendapatkan perhatian dari pemerintah. Maka pihaknya mengancam akan melaku­kan aksi demontrasi lebih besar lagi bersama seluruh produsen dan ped­agang tempe tahu ke gedung DPR di Jakarta. (kiki/deddy)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.