Saat Mei Wijaya jadi Motor Pembebasan 100 Korban Pasung

 TIDAK banyak yang mau berdekatan dengan orang yang menderita gangguan kejiwaan. Perempuan setengah baya bernama Mei Wijaya justru menganggapnya sebagai tantangan.
MARDIANA, Pandeglang
SIANG itu, matahari di Pandeglang sungguh terik. Dari sebuah rumah yang terletak di Kelurahan Saruni, Kecamatan Majasari, Pandeglang, sesosok perempuan yang mengenakan pakaian bermotif bunga datang menghampiri.
“Silahkan masuk,” sapa perempuan itu.  Dia adalah Mei Wijaya.
Sehari-hari, Mei Wijaya merupakan Kepala Puskesmas Majasari, Pandeglang. Meski sibuk mengurusi pekerjaan di lingkungan dinasnya di bawah naungan Dinas Kesehatan Pandeglang, wanita kelahiran tahun 1963 ini masih mau menyempatkan waktu untuk peduli kepada sesama.
Kepedulian Mei terhadap sesama tergolong tidak biasa. Yang dihadapinya adalah para korban pasung yang memiliki penyakit kelainan kejiwaan.
Oleh banyak orang, korban pasung ini dianggap harus diasingkan atau dikucilkan. Namun di mata Mei, korban pasung adalah juga manusia yang membutuhkan kasih sayang dan perhatian.
Terdorong rasa kemanusiaan itulah, pada tahun 2010 lalu, Mei membentuk Relawan Anti Pasung (RAP). Dia mulai merintis komunitas kecil ini yang fokus untuk membantu para korban pasung.
Dari hasil observasi dan bermodal informasi dari warga, Mei Wijaya dibantu 10 orang anggota RAP lainnya mulai melakukan proses evakuasi terhadap korban pasung di sejumlah daerah di Pandeglang.
“Sebelumnya kami memang sudah berkoordinasi dengan salah satu dokter ahli kejiwaan, dan kami diarahkan ke rumah sakit jiwa (RSJ) Grogol. Beruntung pihak RSJ merespon itu, sehingga setiap korban pasung yang kami evakuasi langsung dibawa ke RSJ untuk mendapatkan pengobatan,” kata Mei Wijaya yang menjabat sebagai koordinator di komunitas itu.
Saat mengevakuasi korban pasung, Mei tidak asal “comot”. Bersama komunitasnya, Mei selalu berkoordinasi dengan keluarga korban untuk meminta persetujuan.
Keluarga korban pasung juga harus memiliki kartu Jamkesmas, keterangan RT/RW dan keterangan pendukung lainnya sesuai prosedur yang berlaku.
“Korban yang sudah dibawa ke RSJ akan diterapi dan diberikan pengobatan selama kurang lebih 3-6 bulan,” tambahnya.
Selama perjalanan, RAP banyak memberikan dampak positif kepada masyarakat. “Itu tidak terlepas dari prosedur medis yang berlaku. Karena apapun itu, tetap berhadapan dengan kepentingan masyarakat,” tukasnya.
Ibu dua anak lulusan S2 Master Administrasi Rumah Sakit di salah satu Universitas di Jakarta ini mengaku memperoleh kepuasan batin tersendiri ketika berhasil mengevakuasi korban pasung.
“Karena memang tidak mudah, selain melakukan lobi keluarga juga butuh waktu untuk membujuk korban pasungnya sendiri,” kata Istri dr. Suradal ini pernah mendapatkan penghargaan sebagai Kepala Puskesmas dengan Pelayanan Prima dari Kementerian Kesehatan tahun 2011 lalu.
Selama ini, sudah ada 100 korban pasung di beberapa wilayah di Pandeglang yang sudah berhasil dievakuasi. 50 orang diantaranya sudah normal dan memiliki pekerjaan serta kesibukan masing-masing. Sedangkan sisanya, masih menjalani pengobatan dari RSJ Grogol.
“Banyak sukanya daripada dukanya juga. Korban pasung yang berhasil kami evakuasi paling jauh di daerah perbatasan Malingping dan di kawasan kaki Gunung Karang,” kenang Komisaris RS Bersalin Permata Ibunda itu.
Mei berharap, program nasional Indonesia bebas pasung, bisa dimulai percontohannya dari Pandeglang. “Kami membuka diri ketika ada masyarakat yang mengetahui atau ada tetangga, keluarga dan siapapun yang mengalami pemasungan keluarga, segera diinformasikan untuk mendapat penanggulangan dan penanganan,” tandasnya.(*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.