Adik Petinju Nasional Tersangka

Jenazah Marbun Diterbangkan ke Medan
TANGERANG, SNOL Mantan petinju nasional Marangin Marbun (27) tewas ditembak aparat Polres Metro Tangerang karena berusaha merampas sepeda motor di Jalan Hasyim Ashari, Cipondoh, Kota Tangerang. Adiknya, Barita Lumban Gaol, yang turut da­lam aksi itu sudah ditetapkan sebagai tersangka.
Kabid Humas Polda Metro Jaya, Kombes Pol Rikwanto mengatakan, Barita Lumban Gaol kini telah berstatus ter­sangka begitu ditahan di Pol­sek Cipondoh, Tangerang.
“Tersangka BLG (Barita Lumban Gaol) diproses di Polsek Cipondoh Tangerang. Kasusnya ditangani Polsek Ci­pondoh,” terang Kombes Pol Rikwanto, Minggu (1/12).
Rikwanto menambahkan, atas perbuatannya Barita Lumban Gaol dikenakan pasal 365 KUHP dan 170 KUHP dengan ancaman di atas 5 tahun penjara.
Sementara itu, jasad almar­hum Marangin Marbun diter­bangkan ke kampung halaman­nya di Medan, Sumatera Utara, Minggu (1/12) siang, melalui kargo Bandara Soekarno-Hat­ta. Seluruh biaya penerbangan ditanggung polisi. “Kita tang­gung karena orangtua Ma­rangin sudah tiada dan kondisi ekonominya di sana termasuk dalam kategori tak mampu,” ujar Kapolsek Cipondoh, Kom­pol Suyono, Minggu (1/12).
Dijelaskan Kapolsek, jenazah diterbangkan dengan pe­sawat Lion Air dan diantar oleh tiga keluarganya. “Jenazah dari RSU Tangerang diba­wa ke Bandara sekitar Pukul 12.00 WIB,” jelasnya.
Sementara itu, Mega Sagala (30), tidak henti-hentinya me­nangis di ruang jenazah RSUD Tangerang. Ia sama sekali tidak menyangka suaminya, atlet tinju Marangin Marbun (27), ditembak sampai mati dan dituduh terlibat aksi perampokan sepeda motor.
Mega berkali-kali meyakinkan wartawan bahwa suaminya bu­kan perampok. “Tidak mungkin. Saya tidak percaya suami saya seorang pelaku kejahatan. Dia atlet tinju, bukan perampok,” ujar Mega, Sabtu (30/11) siang.
Mega mendapat kabar suaminya ditembak di bagian kepala oleh anggota polisi pada Sabtu sekitar pukul 06.00 WIB. Sontak, ibu dari Sena (9 bulan) itu kaget. Dari rumah­nya di kawasan Bekasi Barat, ia langsung bergegas menuju RSUD Tangerang. Saat men­dengar alasan penembakan suaminya adalah karena aksi perampokan, Mega percaya.
“Awalnya saya bingung, karena dikatakan suami saya ditembak akibat ikut aksi perampokan. Saya shock sekali saat melihat bahwa ternyata benar suami saya yang ditem­bak,” kata Mega.
Mega ingin polisi kembali meninjau alasan penemba­kan terhadap suaminya. Mega menambahkan, jika memang suaminya terbukti meram­pok sepeda motor di Jalan Hasyim Ashari, Cipondoh, Kota Tangerang, ia tetap me­nyayangkan tindakan polisi.
“Saya minta kepada jaja­ran dan pimpinan Polri untuk segera prosedur penembakan tersebut. Suami saya ditem­bak di bagian kepala sampai tewas. Kenapa harus di bagian kepala? Saya bingung,” kata Mega sambil menangis.
“Saya terakhir bertemu suami saya sepekan yang lalu. Setiap suami saya pulang ke rumah, ia selalu membawa uang untuk kebutuhan hidup kami. Seka­rang dia sudah tidak ada, saya bingung mau berbuat apa,” kata Mega yang tinggal di Pe­rumahan Puri Bintara Regensi Blok K No 12, Bekasi Barat.
Sekretaris Jenderal Persatuan Tinju Amatir Indonesia (Pertina), Martinez Dos San­tos, membenarkan bila Ma­rangin Marbun adalah atlet tinju nasional. Namun, Mar­ingin tercatat sebagai petinju profesional dan bukan berada di bawah naungan Pertina.
“Dia memang pernah men­jadi juara nasional,” ucap Mar­tinez, Sabtu (30/11). Menurut Martinez, Marangin yang ber­gabung bersama sasana Cah Sragen di kawasan Tangerang dikenal sebagai petinju dengan teknik yang bagus. Tak mengherankan bila ia sempat menjadi juara nasional kelas bulu junior. Namun, Martinez tak mengetahui rekam jejak pertandingan Marangin di kancah tinju profesional.
Seperti diberitakan, mantan petinju nasional Marangin Mar­bun tewas ditembak polisi karena berusaha merampas sepeda mo­tor di Jalan KH Hasyim Asy’ari, Cipondoh, Tangerang. Polisi ter­paksa melepaskan timah panas karena Marbun melawan.
Kapolres Metro Tangerang Kota Kombespol Riad membe­narkan adanya peristiwa terse­but. Riad mengatakan bahwa ke­jadian tersebut berlangsung pada Sabtu (30/11) pukul 02.30.
Berdasar keterangan yang dikumpulkan dari para saksi dan korban kejadian saat itu, Riad menjelaskan bahwa Marbun yang berboncengan bersama adiknya, Barita Mar­bun, dengan sepeda motor tiba-tiba mencegat Marjaya, 25, yang sedang melintas di Jalan KH Hasyim Asy’ari. Setelah itu, korban yang se­orang diri mengendarai Ya­maha Mio miliknya tiba-tiba dipepet dan ditendang hingga tersungkur ke tengah jalan. ”Korban jatuh, lalu dipukul Marbun,” kata Riad kemarin.
Marjaya yang terdesak, lalu menjerit minta tolong yang ternyata didengar beberapa warga di sekitar tempat ke­jadian perkara (TKP). Mereka kemudian datang untuk melerai. Namun, bukannya menghentikan aksinya, Mar­bun justru semakin beringas. Dia berusaha melawan warga yang datang tersebut.
Untung, pada saat yang sama, jeritan Marjaya juga didengar satuan petugas yang kebetu­lan sedang berpatroli di sekitar TKP. ”Korban terdengar petu­gas patroli menjerit rampok, rampok. Lalu, polisi mendatangi sumber suara,” ujar Riad.
Melihat kejadian tersebut, petugas melepaskan tembakan peringatan ke udara dua kali untuk meredakan keributan serta aksi Marbun. Namun, mantan raja kelas bantam na­sional itu memang tidak kenal takut. Dia bersama Barita yang diboncengnya justru berusaha melawan petugas dengan me­nabrakkan motor yang diken­darainya ke arah petugas.
Mendapati aksi nekat Mar­bun tersebut, polisi melepas­kan satu tembakan yang tepat mengenai lehernya. Temba­kan itu langsung menghenti­kan aksi Marbun. ”Dua kali tembakan tidak mempan, malah berbalik arah ke petu­gas. Lalu, satu tembakan tepat kena lehernya,” ucap Riad.
Melihat abangnya tersungkur, Barita langsung kabur dengan sepeda motor. Namun, petugas berhasil mengejar dan mem­bawanya untuk diamankan di Polres Metro Tangerang Kota.
Sementara itu, Marbun yang saat itu diketahui masih bernapas langsung dibawa ke RSUD Tangerang. Namun, ketika berada di rumah sakit, nyawa Marbun tidak terto­long. ”Marbun tewas saat di rumah sakit,” ucap dia.
Riad mengatakan, saat ini pihaknya masih mendalami motif kedua pelaku. Berdasar keterangan yang dihimpun dari korban, saksi, dan pelaku, Marbun dan Barita berupa­ya merampas sepeda motor Marjaya. ”Kita masih dalami motif sebenarnya. Yang jelas, mereka tertangkap tangan saat sedang beraksi,” terang dia. (kiki/trib/deddy/jpnn)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.