Tiga Bocah Praktik ML

Tuding Warem Jadi Penyebab
PONDOK AREN,SNOL Su­dah sejak 1979, keberadaan warung remang (warem) di Pondok Kacang, Kecamatan Pondok Aren semakin mengakar. Pemerintah Kota Tange­rang Selatan pun terkesan tu­tup mata mengenai penyakit masyarakat ini.
Adalah Lia (40), satu dari puluhan warga RT.02/04 Kampung Liau, Pondok Ka­cang Barat Kecamatan Pon­dok Aren, yang mengadu di hadapan Siti Chodijah, Ketua Komisi II DPRD Kota Tang­sel, dan anggota Komisi II, Julia Miharjah. Lia mewakili para ibu Majelis Taklim As­syuhada yang berada di ling­kungan tersebut mengaku mi­ris dengan beberapa kejadian efek dari keberadaan warem.
”Setidaknya ada dua titik warem di lingkungan kami. Sudah kami protes mengenai keberadaannya, tapi malah ditanggapi dingin oleh pak RT,” tutur Lia mengawali cur­hatannya.
Dia menuturkan, ketua RTyang juga anggota Pol PP dari kecamatan setempat pernah bersikap membiarkan, saat warga yang tak setuju dengan keberadaan warem berada di sekitarnya. ”Pak RTsaat itu bilangnya, dia tidak mendu­kung juga tidak melarang,” ucapnya.
Ketegangan dengan ketua RTpun kembali terjadi saat para anggota majelis meminta izin untuk memasang spanduk berisikan penolakan atas kebe­radaan warem dan peredaran miras di lingkungan mereka.
Ketua RTtersebut justru menjawab enteng. ”Ibu, di Pondok Kacang ini banyak majelis taklim tapi tidak ada yang memprotes kaya begini. Banyak juga para ustadjah, tapi tidak ada yang mempro­tes kaya ibu-ibu begini,” ujar Lia menirukan perkataan Ke­tua RTnya.
Aksi protes mendatangi RTtersebut bukan tanpa alasan. Selain merasa terganggu kare­na kebisingan yang ditimbul­kan suara musik yang keras, warga juga pernah memergoki kejadian yang sangat men­cengangkan. Pada minggu lalu, warga pernah melihat anak dari pemilik warem yang baru berumur 7 tahun, menga­jak dua anak lain yang masih berumur 3 dan 7 tahun pula.
”Ketiganya menuju bela­kang pohon di lingkungan kami. Saat kami pergoki, me­reka tengah melakukan simu­lasi hubungan suami istri atau making love (ML). Astagh­firullah,” tutur Lia sembari mengelus elus dadanya.
Semenjak kejadian itu, war­ga merasa ketakutan sendiri tentang apa yang bakal terjadi nanti. Belum lagi, para warga menilai, ketua RTsetempat tak lagi berada dipihak me­reka. ”Kami sangat mengkhawatirkan masa depan anak-anak kami. Tolonglah, jangan sampai keberadaan warem atau warung jablay ini justru merusak masa depan,” pungkasnya sembari mene­teskan air mata.
Curhatan Lia membuat mi­ris para anggota dewan yang menyimak. Dikatakan Siti Chodijah, sudah seharusnya Pemkot Tangsel melalui apa­rat terkait, segera menetrali­sir keberadaan warem yang meresahkan. ”Kita sudah ada Perda tentang Keterti­ban Umum dan Keamanan Masyarakat. Sudah seharus­nya masyarakat dilindungi dari hal seperti ini,” katanya. Keberanian para ibu juga se­harusnya patut dicontoh oleh masyarakat lain. Sehingga keberadaan warem bisa se­gera diberangus dari Tangsel.
Menanggapi keluhan itu, Kepala Satpol PP Kota Tang­sel Azhar Syamsun, mengata­kan pihaknya siap turun untuk menertibkan warem. ”Tapi se­belumnya, harus ada penyele­saian di tingkat musyawarah pimpinan kecamatan atau Muspika,” ujarnya.
Bila tak bisa juga, barulah Satpol PP Kota Tangsel turun namun harus ada investigasi terlebih dulu sebelumnya un­tuk mengecek kebenaran apa yang dilaporkan oleh war­ga setempat. ”Intinya kami siap, namun silahkan sele­saikan dulu ditingkat muspi­ka,” pungkasnya. (pramita/ jarkasih)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.