Diajak Nego, Teroris Balas Menembak

JAKARTA, SN—Kapolri Jenderal Sutarman angkat bicara soal dugaan pelanggaran HAM dalam baku tembak antara Densus 88 Antiteror dengan enam teroris di Kampung Sawah, Ciputat, Kota Tangerang Selatan. Dalam pernyataannya, Sutarman membela anak buahnya yang menembak mati keenam teroris tersebut.

Sutarman menjelaskan bahwa dirinya sebenarnya tidak menghendaki terjadinya pertumpahan darah apalagi korban tewas di kedua belah pihak.
Bahkan, sebelum terjadi baku tembak di sebuah rumah kontrakan yang dihuni keenam teroris tersebut, dirinya memerintahkan angotanya di lapangan untuk melakukan negosiasi dengan para teroris tersebut.
Hal tersebut, lanjutnya, menjadi salah satu alasan mengapa penyergapan tersebut berlangsung lama hingga 13 jam. “Polri melakukan langkah-langkah yang soft agar tidak ada yang meninggal. Makanya kita memerlukan waktu lama untuk negosiasi agar mereka tidak menyerang,” kata Sutarman di Gudung rupatama Mabes Polri kemarin (6/1).
Namun, lanjutnya, para teroris justru menjawab niat baiknya dengan tembakan dari ujung senapan. “Itu dinilai oleh tim lapangan sangat membahayakan jiwa petugas, maka dilakukan tindakan-tindakan penegakan hukum,” ungkapnya.
Penjelasan Kapolri tersebut sekaligus menjadi bantahan dari pernyataan dari Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (Kontras). Sehari sebelumnya, Kontras mengatakan bahwa Polri tidak serius ingin menangkap para teroris Ciputat dalam keadaan hidup-hidup. Padahal Polri sudah memiliki data intelijen yang akurat dan mampu mendekati para teroris tanpa adanya kekerasan.
Bahkan oleh Sutarman, pernyataan Kontras di atas tidak lebih sebagai bentuk penilaian subjektif seseorang. “Itu adalah penilaian seseorang. Saya menyaksikan dari awal di sana. Tapi mereka (teroris) melawan maka dilakukan tindakan penegakan hukum dan bahwa tindakan sudah benar dan sesuai prosedur,” ujar Sutarman membela anak buahnya.
Namun, Sutarman tetap menyayangkan dan prihatin dengan tewasnya keenam teroris tersebut. “Mereka juga saudara-saudara kita dan Warga Negara Indonesia (WNI) yang juga harus kita lindungi. Kita sudah menyampaikan hal ini ke publik,” ucap Sutarman. (dod/kim/jpnn)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.