Tiga Saksi Beratkan Yuki

Sidang Kasus Perbudakan di Pabrik Kuali Sepatan Timur
TANGERANG,SNOL Pengadilan Negeri Tangerang menggelar sidang lanjutan perkara dugaan perbudakan yang dilakukan oleh Yuki Irawan (41) terhadap puluhan karyawannya di Lebak Wangi, kecamatan Sepatan Timur. Sidang yang digelar pukul 13.00 Wib, Selasa (7/1), mengagendakan mendengarkan saksi-saksi dan korban. Sidang yang dipimpin Asiyadi Sembiring itu menghadirkan tiga orang saksi, yaitu Bagas (23), Syaeful (21) dan Dikdik (19).
Sebelumnya, anggota jaksa penuntut umum, yaitu Agus Suhartono dan Imam Cahyono, menjerat bos pabrik kuali tersebut dengan pasal berlapis, yakni Pasal 2 Ayat 1 Undang- Undang Nomor 21 Tahun 2007 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Perdagangan Orang juncto Pasal 55 Ayat 1 KUHP, Pasal 88 Undang- Undang Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak juncto Pasal 55 Ayat 1 KUHP, Pasal 372 juncto Pasal 55 Ayat 1 KUHP, dan Pasal 24 Ayat 1 Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1984 tentang Perindustrian.
Dalam pengakuan saksi, Bagas mengatakan, selama ia bekerja di Pabrik Kuali tersebut. Dia tidak diberi gaji beberapa bulan, dipukuli dan mendapatkan makanan basi. “Saya minta pelaku dihukum seberat-beratnya dan mengganti kerugian seperti gaji yang belum dibayarkan dan biaya pengobatan,” ucap Bagas.
Sedangkan saksi kedua, Syaeful, menjelaksan bahwa selama bekerja tidak diberikan gaji selama 6 bulan dan harus bekerja mencapai target. Bila tidak mencapai akan dipukul. “Saya pernah dipukul karena tidak memenuhi target dan saya pernah mau kabur namun takut dengan ancaman,” tambahnya.
Saksi ketiga, Dikdik mengungkapkan, selama bekerja tidak menggunakan sarung tangan dan pakaian yang layak pakai. Selain itu, handphone dan dompetnya juga diambil Yuki. “Saya pernah luka karena tidak memakai sarung tangan,” ungkapnya sambil menunjukkan luka di persidangan.
Dalam sidang tersebut, pihak kuasa hukum Yuki melakukan pembelaan yaitu menunjukkan bukti-bukti seperti nota/ kwitansi pengobatan dan gaji karyawan. Bahkan kuasa hukum langsung menawarkan ganti rugi di dalam persidangan. Namun seluruh pembelaan dan bukti-bukti yang diajukan kuasa hukum Yuki, disanggah oleh seluruh saksi/korban.
“Yang terpenting kita sudah menyampaikan bukti dan fakta. Mereka bilang tidak pernah berobat dan dikurung selama bekerja serta dipukuli, tapi kita bantah dengan nota pembayaran rumah sakit. Fakta lapangannya tidak seperti itu,“ kata Lamet Yuono.
Slamet berharap hakim harus jeli karena menurut kami ini bukan masalah penyekapan, tetapi ini perkara yang direkayasa dan jangan sampai salah menghukum orang.
Dalam sidang yang berlangsung hampir 3 jam lebih tersebut, kuasa hukum Yuki mengatakan sangat keberatan dan sidang lanjutan akan digelar pada Kamis mendatang. (mg-17/jarkasih)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.