KPK Lacak Aset Atut-Wawan

Upaya Bongkar Kasus Alkes Banten
JAKARTA,SNOL KPK langsung melakukan pela­cakan aset pasca menetapkan Ratu Atut Chosiyah dan adiknya Tubagus Chaery Wardhana sebagai ter­sangka kasus korupsi pengadaan alat kesehatan (al­kes) di Provinsi Banten. Pelacakan itu salah satunya dilakukan dengan meminta data ke Pusat Pelaporan dan Analisa Transaksi Keuangan (PPATK).
Pelacakan aset Atut-Wawan dilakukan untuk mengetahui harta adik kakak itu yang diduga perole­hannya dari permainan proyek Alkes. “Kami lang­sung lakukan pelacakan aset, apalagi ini berkaitan dengan pengadan barang dan jasa. KPK juga me­minta data ke PPATK terkait aliran uang selama
proyek itu berjalan,” jelas Johan di Gedung KPK, kemarin (8/1).
Dalam kasus pengadaan Alkes Banten, KPK mengendus adanya permainan pada penggunaan anggaran 2011-2013. Dari kurun waktu itu, KPK kini masih kon­sentrasi mendalami pengadaan tahun 2012. Saat itu pengadaan alkes nilainya mencapai Rp 9,3 miliar. “Tentunya ada peng­gelembungan harga dari proyek itu, tapi soal berapa total keru­gian negaranya informasinya be­lum sampai ke saya,” jelasnya.
Selain menikmati penggelem­bungan harga, Atut juga menda­patkan fee dari proyek itu. Pen­etapan Atut dan Wawan sebagai tersangka secara resmi disam­paikan KPK, Selasa sore (7/1). Penetapan itu diikuti dengan ke­luarnya surat perintah penyidi­kan (sprindik) tertanggal 6 Janu­ari. Baik Wawan maupun Atut dijerat pasal yang sama yakni, pasal 2 ayat 1 dan atau Pasal 3 UU Pemberantasan Tindak Pi­dana Korupsi jo Pasal 55 ayat 1 ke 1 KUHP.
Dengan penetapan ini, Atut setidaknya sudah menyandang dua gelar tersangka. Selain Alkes, Atut juga telah ditetapkan sebagai tersangka suap sengketa pilkada Kabupaten Lebak di Mahkamah Konstitusi. Sementara adiknya, Wawan lebih banyak lagi. Sua­mi Walikota Tangerang Selatan, Airin Rachmi Diany itu sudah ditetapkan sebagai tersangka da­lam tiga perkara korupsi.
Gelar tersangka untuk Wawan antara lain kasus suap sengketa Pilkada Lebak, pengadaan Al­kes Tangerang Selatan dan Alkes Provinsi Banten. Johan Budi me­negaskan perkara yang melibat­kan keluarga Atut ini tidak hanya berhenti disini. Artinya gelar tersangka itu bisa bertambah jika KPK menemukan dua alat bukti baru pada kasus dugaan korupsi lainnya.
“Meskipun kami saat ini me­nyidik kasus Alkes, bukan berarti kasus suap sengketa pilkada-nya juga tuntas. Jadi masih mung­kin ada tambahan tersangka lain terkait sengketa pilkada,” jelas­nya. Pernyataan itu disampaikan Johan saat ditanya status pasan­gan calon bupati Lebak yang di­bela Atut dan Wawan di MK.
Selain tiga kasus itu, kasus lain juga tengah menanti keluarga Atut. Informasinya ada dugaan korupsi juga dalam penggunaan dana bantuan sosial (bansos) yang dilakukan Dinasti Atut. Laporan itu disebut telah masuk ke bagian pengaduan masyarakat (Dumas) KPK.
Saat penetapan Atut sebagai tersangka kasus suap sengketa Pilkada Lebak, Ketua KPK Abra­ham Samad pun mengindikasi­kan ada keluarga Atut lainnya yang melakukan korupsi.
Dalam jumpa pers-nya ke­marin, Johan Budi juga me­nyampaikan perihal permohonan pelimpahan kewenangan Guber­nur Banten Ratu Atut Chosiyah pada wakilnya Rano Karno. Per­mohonan itu disampaikan oleh Biro Hukum Pemprov Banten.
“Saat ini permohonan itu se­dang dikaji oleh pimpinan dan biro hukum KPK,” ujar Johan. Menurutnya KPK pasti mendu­kung hal itu dan tidak ada upa­ya untuk menghalangi-halangi. KPK perlu mengkaji hal tersebut terlebih dalam kaitannya dengan dampak hukumnya.
“Hanya masalah waktu saja, karena surat dari Pemprov Ban­ten itu kami terima akhir Desem­ber. Sementara waktunya kepo­tong libur natal dan tahun baru,” jelasnya. Surat pelimpahan yang dikirim Pemprov Banten itu isinya agar Wagub Rano Karno bisa menjalankan kewenangan Gubernur Banten.
Permintaan tersebut diajukan karena selama ini pejabat Pem­prov Banten tidak bisa bertemu dengan Atut. Sehingga beberapa berkas belum bisa ditandatangani Atut, termasuk soal pelimpahan kewenangan itu. “Kami tidak melarang seseorang menjenguk, tapi itu harus sesuai prosedur yang ada,” jelasnya. (gun/bnn/jpnn)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.