Status Siaga, Puncak Gunung Kelud Ditutup

KEDIRI,SNOL Warga di sekitar Gunung Kelud harus lebih waspada. Status gunung di perbatasan Blitar dan Kediri itu dinaikkan.
Setelah berada di level II (waspada), kemarin sore (10/2) Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) meningkatkan statusnya menjadi siaga (level III). Itu berarti, ada peningkatan aktivitas yang cukup signifikan di gunung berapi tersebut.
Kepala PVMBG M. Hendrasto kepada Radar Kediri (Jawa Pos Group) mengatakan, perubahan status Gunung Kelud menjadi siaga ditetapkan pada pukul 16.00. Sebab, hingga tengah hari pukul 12.00 kemarin, terjadi peningkatan gempa yang didominasi gempa vulkanis.
Selain itu, suhu air di kawah Kelud meningkat. Sejak dipantau 23 Januari hingga kemarin, terjadi kenaikan suhu rata-rata sekitar 4 derajat Celsius. “Dengan sejumlah indikasi itu, akhirnya kami naikkan statusnya,” ungkap pria asli Solo tersebut.
Karena status waspada berubah menjadi siaga, menurut Hendrasto, daerah terdampak letusan dapat diperluas sesuai dengan ancamannya. Meski demikian, keputusan tersebut tidak ditentukan oleh PVMBG.  Melainkan satuan pelaksana penanggulangan bencana (satlak PB) di setiap wilayah terdampak. “Kami hanya memberikan rekomendasi,” terangnya.
Rekomendasi lain, sambung Hendrasto, masyarakat dan wisatawan tidak diperbolehkan mendekat ke puncak Gunung Kelud dalam radius 5 kilometer (km). Sebelumnya, ketika level waspada, radius 2 km dari puncak harus steril. Karena itu, masyarakat di kawasan rencana bencana II (KRB II) harus lebih waspada.
Kendati telah berstatus siaga, Hendrasto mengimbau  masyarakat agar tetap tenang. Jangan sampai terpancing oleh isu-isu tentang letusan Gunung Kelud. Karena itu, dia meminta,  masyarakat mengikuti arahan dari satlak PB. “Terus berkoordinasi. Abaikan informasi dari luar,” harapnya.
Menanggapi hal itu, tadi malam satlak PB langsung melakukan koordinasi di ruang Grahadi Pemkab Kediri. Mereka membahas tindak lanjut dalam menyikapi kenaikan status Gunung Kelud itu.
Wakil Bupati Kediri Masykuri mengharapkan warga agar tetap tenang. Sebab, sejumlah antisipasi menghadapi bencana Gunung Kelud sudah dikerjakan. Misalnya, penentuan titik kumpul evakuasi, jalur evakuasi, dan posko terpadu di tiga desa pada  Kecamatan Ngancar. Posko terpadu itu ada di Desa Sugihwaras, Desa Babadan, dan Desa Sempu.
“Sebenarnya, ada sepuluh desa. Tapi, untuk sementara tiga desa dulu yang paling dekat,” kata Douglas, ketua Radio Antar Penduduk Indonesia (RAPI) Kediri 6, radio yang selalu meng-update informasi tentang Kelud.
RAPI menyampaikan perkembangan aktivitas Gunung Kelud ke masyarakat di setiap  desa. Frekuensi radio yang bisa diakses adalah 142.220 MHz. Sebab, di saat sinyal buruk, gelombang radio merupakan sarana untuk menyampaikan informasi paling cepat.
Jika tidak punya radio, masyarakat bisa datang ke posko langsung. Dengan begitu, tidak ada satu pun warga yang tidak mendapat informasi tersebut. “Selalu ada petugas kami yang berjaga,” ungkap pria asli Desa Sugihwaras itu.
Menurut Douglas, informasi itu disampaikan dua kali sehari. Yakni pagi sekitar pukul 06.00 dan sorenya sekitar pukul 18.00. “Kenaikan siaga juga sudah kami sampaikan ke masyarakat,” tuturnya. (baz/ndr/c1/kim/jpnn)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.