Pengusaha Tuding BPOM Sewenang-wenang

PANDEGLANG,SN—Diduga belum melengkapi prosedur dan administrasi perizinannya, sebuah toko herbal atau obat tradisional As Shohwah di Kampung Campraksanta Desa Pagerbatu Kecamatan Majasari, Pandeglang dirazia oleh Badan pengawas Obat dan Makanan (BPOM) Serang. Dalam kesempatan itu, pihak BPOM menyita sejumlah kemasan obat herbal dan beberapa peralatan produksinya. Untuk sementara toko obat tradisional itu tidak bisa memproduksi obat-obatan.

Razia itu dilakukan dalam rangka pembenahan toko atau perusahaan yang memproduksi obat tradisional atau herbal, agar semuanya berjalan sesuai prosedur dan tidak merugikan masyarakat. Dan hal itu merupakan kewenangan BPOM untuk menertibkannya.

Kepala BPOM Serang Rustyawati mengatakan, tindakan yang dilakukan sudah sesuai dengan prosedur dan langkah yang jelas. Menurutnya, toko herbal As Shohwah belum punya SIM sebagaimana diistilahkan dalam kendaraan bermotor.

“Seharusnya semua dokumen perizinannya diurus dan diselesaikan dulu, yang menjadi masalah adalah akibatpengurusan izinnya belum selesai, ternyata pabrik herbal itu sudah beroperasi,” kata Rustyawati, kepada wartawan, Rabu (7/5). Ditegaskannya, pihaknya tidak akan main-main dan tidak mungkin sewenang-wenang merazia sebuah toko atau pabrik herbal, jika semua dokumen perizinannya sudah lengkap. BPOM tidak pernah dan tidak akan mempersulit atau mengulur-ulur perizinan jika dokumen yang diajukan sudah lengkap.

Disinggung adanya keluhan atau anggapan bahwa tindakannya itu semena-mena, Rustyawati membantahnya. Bahkan ia juga berharap kepada pemilik toko atau pabrik herbal untuk mengecek ulang kelengkapan dokumen perizinannya.

Terpisah, pemilik/pengusaha obat tradisional As Shohwah Sukendar menyesalkan sikap BPOM. Karena saat ini As Shohwah tidak bisa melakukan produksi obat, lantaran beberapa peralatan produksinya disita BPOM, dan penyitaan itu dianggap tidak beralasan. “Pada bulan November 2013 lalu, BPOM Serang pernah datang dan melihat pabrik kami dalam rangka inpeksi mendadak (Sidak). Kami sangat senang dengan kedatangan BPOM, karena membutuhkan bimbingan dan pembinaan,” ujarnya.

Toko herbal miliknya itu, sudah berdiri dan beroperasi sejak tiga tahun dan sempat dikunjungi BPOM. Saat itu, katanya, BPOM menyarankan agar perusahaannya itu memenuhi standar farmasi, dan saran itu dilaksanakan serta dipenuhinya.

Tidak hanya itu, pihaknya juga menempuh perizinan sebagaimana disarankan BPOM, karena ia juga tidak ingin punya status yang tidak jelas atau dianggap melanggar peraturan perundang-undangan. Kali ini, imbuhnya, BPOM Serang kembali datang ke perusahaannya untuk kembali melakukan sidak.

Tapi, sidak kali ini, ternyata BPOM mengambil bahan baku, sebagian sarana produksi, dan berbagai alat kemasan yang bernilai ratusan juta. Pihaknya tidak habis pikir, kenapa tindakan BPOM terkesan sewenang-wenang dan menyebabkan perusahaan yang berskala kecil itu, nyaris bangkrut. Bahkan sedikitnya 50 orang karyawan tidak bisa bekerja sampai saat ini.

“Produk yang dihasilkan As Shohwah, semuanya sudah memiliki Izin Industri Kecil Obat Tradisional (IKOT) dari lembaga pemerintah, seperti Dinas Kesehatan (Dinkes) dan setiap produk memenuhi syarat Pangan Industri Rumah Tangga (PIRT) dari lembaga terkait,” imbuhnya.

Pihaknya mengklaim, sudah melayangkan surat permohonan izin kepada BPOM setahun lalu, namun sulit keluar, entah apa penyebabnya. Sukendar juga menjelaskan, bahwa pihaknya menggunakan jasa konsultan untuk mengurus izin BPOM, tapi tetap saja tidak keluar sehingga razia terjadi. (mardiana/gatot)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.