Kalah Nyaleg, Sekolah Disegel

Anggota DPRD Tangsel Barikade Gedung PAUD

PONDOKAREN,SN— Malang nasib 80 siswa sekolah pendidikan anak usia dini (PAUD) Sekar Melati di Jalan Reformasi III RT 05/RW 02 Kampung Rawa Gledek, Pondok Aren Kota Tangerang Selatan. Gedung sekolah tempat anak-anak kecil nan lugu itu belajar secara tiba-tiba disegel Gacho Sunarso, anggota DPRD Kota Tangerang Selatan.

Aksi penyegelan oleh Gacho Sunarso sudah dilakukan sejak Kamis, 15 Mei 2014 lalu. Awalnya penyegelan dengan memasang bambu dilakukan pada jalan masuk gedung sekolah yang juga dijadikan Posyandu itu.

“Saat itu, kegiatan belajar mengajar masih dapat berjalan. Peserta didik maupun tenaga pengajar masih dapat masuk ke dalam ruang kelas dengan menerobos portal penutup,”ujar Ahmad Darwanto, Pengurus PAUD Sekar Melati sembari menghela nafas, Senin (19/5). Setelah barikade-nya diterabas, melalui orang suruhannya, Gacho kemudian memasang

 bambu penghalang pada pintu setiap ruangan. Di bagian pintu ruang kelas, terpampang pengumuman dari si tuan tanah yang bertuliskan “Mau Buka Pintu, Lapor Dahulu ke Pemilik Ir. Gacho Sunarso”.

Dengan barikade di pintu ruangan tersebut, siswa maupun pengajar tak bisa lagi memasuki gedung untuk melakukan kegiatan. Akibatnya, aktifitas pembelajaran di PAUD, pelayanan masyarakat di Posyandu, Bina Keluarga Balita (BKB), Bina Keluarga Lansia (BKL) serta Bina Keluarga Remaja (BKR) yang ada di satu komplek dengan sekolah tersebut terhenti.

Ahmad Darwanto mengatakan Gacho mengklaim lahan yang sudah dijadikan sekolah sejak 2007 itu sebagai miliknya. Padahal, PAUD Sekar Melati berdiri atas dasar inisiatif warga berdasarkan persetujuan dari pihak kelurahan setempat.

“Aslinya tanah sekolah milik orang di luar Pondok Aren yang sudah lama diurusnya. Saya juga bingung, kenapa pak Gacho baru sekarang mengungkit. Mulai sejak menggugat sampai sekarang, dia juga tidak pernah membawa surat kepemilikan tanah yang sah,” ungkap Ahmad.

Salah satu orangtua siswa, Budi (35) mengaku keberatan PAUD tersebut disegel. Menurutnya, aksi penyegelan merupakan bentuk arogansi anggota DPRD.

“Seharusnya anggota DPRD mendukung perkembangan pendidikan, bukan malah menyegel sekolah. Ini tidak benar,”protesnya. Dalam waktu dekat, Budi yang mengaku mendapat dorongan dari orangtua murid lain juga bakal mengadukan hal tersebut ke Dinas Pendidikan. Para orangtua murid juga diakuinya bakal melaporkan peristiwa itu ke DPRD.

“Kami akan lapor ke Dinas Pendidikan. Toh lahan yang diklaim Gacho ini juga lahan wakaf. Bukan punya Gacho. Dia aja yang ngaku-ngaku,”ujarnya. Menurut Budi, berhembus kabar, aksi penyegelan sekolah PAUD Sekar Melati tersebut lantaran Gacho Sunarso kalah suara di Tempat Pemungutan Suara (TPS) di RT setempat. Masih menurut Budi, Gacho hanya mendapat 41 suara saja di TPS setempat.

“Kami pikir ini karena Gacho kalah di TPS lokasi ini. Suara Gacho di daerah kami tidak sesuai target dan kalah dengan lawan politiknya,”ujarnya. Gacho Sunarso saat ini menjabat sebagai Ketua Komisi IV DPRD Kota Tangsel. Kader Partai Demokrat itu akan kembali melenggang ke gedung DPRD Tangsel selama lima tahun ke depan. Namun dalam pemungutan suara lalu, dia kalah di tempat pemungutan suara dekat rumahnya. Kebetulan, gedung sekolah PAUD Sekar Melati dijadikan TPS bagi warga RT 05/RW 02 Kampung Rawa Gledek, Pondok Aren.

Gacho Tak Bantah Segel Sekolah karena Kecewa

Saat dihubungi melalui sambungan telepon pada Senin (19/5) malam, Gacho membenarkan dugaan warga terkait motif penyegelan gedung PAUD . “Bisa saja benar. Mbok ya mikir, itu kan tanah saya, masyarakat ingin menjadi-kannya sarana umum. Saya juga yang membenahi jalan dan sarana umum di kampung itu selama saya menjabat. Loh kok enggak ada perhatiannya untuk saya?!” tuturnya. Gacho mengatakan sudah membiarkan gedung PAUD itu digunakan selama lebih dari 10 tahun tanpa seizinnya. Namun ketika pemilihan berlangsung, justru masyarakat dinilainya tak melihat kinerja selama dia menjabat.

“Saya kan anti Rp 30-50 ribu. Saya menunjukannya dengan kinerja, tapi saya sangat menyayangkan. Masyarakat tak melihat itu,”tegasnya bernada kecewa. Dia mengaku tanah tersebut akan dibangunkan sebuah bangunan yang tidak beritahukan apa fungsinya nanti. Sebab, Gacho merasa itu sudah menjadi lahan pribadi miliknya. Jadi, akan dijadikan apa nantinya tanah tersebut, sudah menjadi wewenangnya.

“Kan itu sudah jadi tanah saya, sertifikat atas nama istri saya. Sah loh itu,” pungkasnya. (pramita/gatot)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.