Wawan Nangis Ditanya Uang 1 M

JAKARTA,SNOL—Suasana hati TB Chaeri Wardana alias Wawan, terdakwa kasus suap Ketua MK Akil Mokhtar dalam sengketa Pemilukada Lebak berubah-ubah saat menjalani sidang lanjutan di Pengadilan Tipikor, Jakarta, Senin (19/5). Mengawali persidangan dengan riang gembira karena bertemu anaknya, Wawan mendadak menangis saat dimintai keterangan hakim ketika sidang berjalan

 Kemarin, Wawan tiba di PN Tipikor dengan menggunakan mobil tahanan dan langsung naik lift menuju lantai 1. Di tempat ruangan terdakwa, sudah menunggu istrinya, Airin Rachmi Diany beserta anaknya. Mengenakan batik dan celana abu-abu, Wawan terlihat bercanda dengan anaknya, Ratu Ghefira Marhamah Wardana. Rasa kangen terpancar dari wajah Wawan dan anaknya. Rindu juga terlihat dari wajah Airin yang selalu setia mendampingi setiap kali Wawan sidang.

Sidang yang sebelumnya dijadwalkan pukul 08.30 WIB kembali mengalami keterlambatan karena harus menunggu anggota majelis hakim. Ruangan sidang yang biasa digunakan di lantai 1 pun dipindah menjadi di lantai 2 karena sudah dipakai terlebih dahulu oleh sidang yang lainnya. Hingga satu jam dari jadwal, belum ada tanda-tanda sidang dimulai. Airin yang menunggu di ruang sidang terlihat lelah dan mengantuk. Walikota Tangerang Selatan itu sampai menguap lebih dari tiga kali.

Sidang baru dimulai pukul 10.30 WIB. Wawan langsung menuju lantai 2 dan Airin mengisi kursi di urutan kedua bagian tengah. Airin ditemani oleh kerabatnya yang datang menjenguk. Airin telihat mengeluarkan buku catatan kecil dan pulpen. Dia sesekali mencatat fakta-fakta di persidangan. Bahkan dia sempat memotret suaminya yang duduk sebagai terdakwa dengan ponselnya.

Dalam persidangan dengan agenda pemeriksaan terdakwa, Wawan kembali mengakui pernah bertemu dengan Akil Mochtar, kala menjabat Ketua Mahkamah Konstitusi di Singapura. Waktu itu bersama kakaknya, Gubernur Banten Atut Chosiyah. Namun Wawan menampik pertemuan itu untuk membahas sengketa hasil suara pemilihan kepala daerah Lebak, Banten.

Suasana persidangan berubah menjadi haru ketika Wawan ditanya perihal pemberian uang Rp 1 miliar ke eks Ketua MK, Akil Mochtar. Dia menangis ketika penasehat hukum Wawan, Adnan Buyung Nasution kembali mem-pertanyakan aktor yang memprakasai pemberian uang Rp 1 miliar uang suap untuk Akil Mochtar. Melihat suaminya menangis, Airin langsung memerintahkan anak buahnya untuk memberikan tisu. Namun sidang tetap berjalan.

“Saya sudah katakan tadi, saya sejak awal sudah dijebak oleh Amir Hamzah. Saya memberikan bantuan karena saya tertekan oleh permintaan Susi Tur Andayani. Cuma saya tidak tahu awalnya apakah dari Amir atau Susi. Tetapi kalau tidak dari Amir atau Susi. Jadi…,” jawab Wawan terbata-bata dan terlihat sempat mengusap matanya.

Kemudian, dengan suara parau, Wawan melanjutkan jawabannya bahwa Amirlah yang meminta bantuan dana kepadanya dalam pertemuan tanggal 29 Oktober 2013.

“Ya, Susi, kan mendesak, dia ngomong ke mana-mana. Pak Amir juga. Dia sampaikan Pak Akil marah-marah. Kondisi saya menghadapi persoalan itu kayak orang bingung,” terang Wawan. Sebelumnya, Wawan berulangkali telah menjelaskan, ia merasa sedikit terpaksa membantu Amir dengan menyediakan uang Rp 1 miliar untuk Akil. Bahkan, Wawan mengaku tidak memiliki kepentingan apapun.

Tetapi, akhirnya permintaan dipenuhi lantaran terus didesak oleh Susi Tur Andayani dan Amir Hamzah. Apalagi, ia memiliki kepentingan agar Susi bersedia menjadi pengacara terkait sengketa Pilkada Serang di MK. Namun, terhadap jawaban tersebut, hakim anggota Gosyen Butarbutar sempat menganggap jawaban Wawan tersebut tidak logis.

“Segala sesuatu harus logis, rasional, apa kepentingan pribadi saudara?” tanya Gosyen. Tetapi, jawaban Wawan tetap sama bahwa bantuan uang Rp 1 miliar diberikan karena terpaksa. Sebelum sidang berakhir, Wawan berkon-sultasi dengan penasehat hukum soal keinginannya mengkonfrontasi kesaksian Amir Hamzah dan Susi Tur Andayani.

Namun, ketua majelis hakim, Matheus Samiadji mengatakan keduanya tidak perlu dihadirkan kembali. Karena faktanya sudah jelas soal siapa yang berinisiatif melakukan suap tersebut.

“Menurut saya sudah jelas dan tidak perlu dikonfrontir lagi,” ucapnya. (uis/gatot)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.