Kemasan Buruk, Produk UKM Memble

SERPONG UTARA,SN— Minimnya pemahaman pengemasan produk yang baik membuat Usaha Kecil Menengah (UKM) di Kota Tangerang Selatan (Tangsel) sulit berkembang. Padahal mempercantik kemasan merupakan salah satu strategi untuk menggaet pelanggan.

Pelaku UKM keripik pisang, Sri Utami (30) mengungkapkan, saat ini pelaku UKM di Kota Tangsel jumlahnya sangat banyak. Sayangnya banyak pula yang belum memahami mengemas makanan yang bagus dan menarik, termasuk dirinya. Padahal kemasan sangat berpengaruh terhadap penjualan produk.

“Kalau saya sendiri sementara ini memasarkan lewat online dan pameran-pameran, sementara kemasan saya hanya menggunakan plastik atau kemasan kiloan, dan belum ada merek dagang,” ujarnya, seraya berharap adanya bantuan dari pemerintah untuk menyambungkan pelaku UKM dengan konsumen dan ke berbagai pihak swasta untuk bekerja sama, Jumat (30/5).

Kepala Dinas Koperasi dan UKM Kota Tangsel, Warman Syanudin mengakui, minimnya pemahaman pengemasan yang baik di kalangan pelaku UKM. “Memang masih kurang dalam pemasaran atau marketingnya, serta bentuk kemasan barang dagangannya,” tegasnya.

Menurutnya, dari 6000 pelaku UKM di Kota Tangsel hanya sedikit yang sudah menyadari pentingnya mempercantik kemasan. Sehingga saat dipasarkan akan lebih menarik perhatian para konsumennya. Saat ini menjelang pasar bebas di 2015 mendatang, pihaknya tengah mempersiapkan ribuan pelaku UKM, untuk bisa bertahan dan tembus pasar bebas.

“Makanya beberapa waktu lalu kami adakan klinik UKM untuk memfasilitasi komunikasi dan koordinasi antara UKM. Sehingga ketahuan apa yang jadi masalah antar mereka,” tandas Warman.

Sebab dari total 6000 pelaku UKM tersebut, mayoritasnya adalah pelaku UKM makanan. Seperti dodol, kacang, berbagai varian keripik, serta olahan makanan ringan non kolesterol dari umbi-umbian. Mereka tersebar paling banyak di wilayah Setu dan Pondok Aren.

Untuk mencari solusi yang dihadapi pelaku UKM dan mengembangkan kembali pemasarannya, Pemerintah Kota Tangsel menggandeng Lembaga Pendidikan Koperasi Nasional (Lapenkopnas). Yakni untuk memberi pendidikan pada para pelaku UKM tersebut. Dari pertemuan itulah, para pelaku UKM dituntut untuk membenahi kembali bentuk kemasan berbagai produknya.

“Misalnya saja kripik atau dodol, kalau hanya ditaro di baskom gitu, apa menariknya?!. Makanya kami beri pemahaman agar membentuk kemasan lebih menarik, biar bisa dipasarkan sampai keluar daerah. Ini masih terus jadi PR kami. Sebelum pasar bebas 2015 nanti, kami akan bekali para pelaku UKM ini, agar tak tenggelam,” pungkasnya. (pramita/aditya)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.